Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Perang Jombang (1): Berita yang Menggelisahkan

Ringin Contong Jombang (Foto: Istimewa)
Ringin Contong Jombang (Foto: Istimewa)

Oleh: M Fathoni Mahsun*

Jombang akhir musim
Kemarau tahun 1945

Dingin yang berpadu dengan udara kering menguasai suasana malam di kota dan kampung-kampung. Semakin malam sang dingin semakin menusukkan belati tajamnya.

 Anak-anak ayam semakin merapatkan diri ke tubuh induknya. Semut, cacing, dan aneka serangga berlomba mencapai tempat terdalam di tanah, karena di sanalah tempat terhangat. 

Sementara itu selimut, atau minimal sarung adalah sesuatu yang paling dicari untuk menyembunyikan tubuh ketika malam menjelang. Meringkuk di balik selimut adalah tempat paling nyaman dalam keadaan seperti ini. Dinding rumah yang terbuat dari gedeg kalau perlu dilapisi dengan sesek agar angin malam tidak menyemburkan hawa dingin ke dalam rumah.

Namun ada beberapa orang yang nekat keluar rumah menantang dinginnya malam, hanya dengan bekal sepotong sarung sebagai tambahan penghangat badan atau jaket seadanya. Tentu bukan karena telah berbekal sarung atau jaket yang membuat mereka berketetapan nekat keluar rumah. Tetapi karena mereka telah didera keresahan, akibat dari berita yang bersumber dari beberapa orang mantan anggota PETA, bahwa pasukan Sekutu yang diboncengi Belanda telah datang kembali menginjakkan kaki di bumi Pertiwi. 

Mereka mendarat di pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Ini mirip dengan kejadian pada abad 16 lalu, ketika VOC mendarat di tempat yang sama. Hawa penjajahan mulai kembali tercium. Padahal meriang-meriang akibat penjajahan beberapa waktu sebelumnya belum benar-benar pulih. Huufff…

 Kabar kedatangan sekutu yang diboncengi Belanda itu memang baru saja berhembus, namun sebagaimana angin September yang dengan cepat menghembuskan dingin, kabar tersebut dengan cepat berhembus dan menjelajah ke wilayah yang sangat luas. Namun selayaknya kabar angin, orang masih bertanya-tanya. Sehingga inilah yang menyebabkan beberapa orang nekat menembus dinginnya malam untuk mencari kebenaran kabar itu.

“Jadi gimana, Lek Sam. Apa benar Londho datang lagi?”
“Kabarnya memang begitu e.”
“Kata siapa sampeyan?”
“Banyak yang ngomong, Ngatijan, Kliwon, Rokimin, e siapa lagi ya....? pokoknya banyak yang sudah ngomong. Bahkan aku juga dapat kabar dari suadara di Surabaya yang sekarang jadi BKR , anak buahnya Pak Kretarto, katanya ya memang begitu e Met, Slamet.”

“Lho di Jakarta apa di Surabaya?”
“Apanya?”
“Londho”
“Di Jakarta, saudara ku yang di Surabaya.”
“Lha berarti kan ya belum tentu mereka kesini. Di Jakarta, se? 
Berarti Belanda masih jauh. Gitu kok yo sudah pada ribut.”
“E.., lha dalah. Mau di Jakarta, mau di Surabaya, berarti Londho itu ya sudah niat kembali kesini, menjajah lagi. Dengan kata lain, mereka tidak mengakui kemerdekaan Indonesia. Bayangkan!! perjalanan dari Belanda ke sini itu sekitar 15 minggu perjalanan laut. Lha kalau gak niat kembali lagi menjajah, mau apa? Ngerti ora kuwe, Le?”

“Sontoloyo, Londho gaplek. Padahal baru beberapa hari yang lalu kita mendengar suara pidato Sukarno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, masak sekarang Londho mau mencak-mencak lagi. Gak terimo aku Lek, gak trimo aku.” Slamet kemudian mengeluarkan potongan Koran dari saku celananya, dan membantingnya di meja tempat mereka ngobrol.
 “Saya masih menyimpan Koran ini, Lek….,” jari tangan Slamet menuding-nuding halaman muka Koran SOEARA ASIA terbitan tanggal 20 Agustus 1945. 

Headline Koran tersebut berbunyi PROKLAMASI INDONESIA MERDEKA. Jepang memang memboikot media, baik radio maupun cetak sehingga tidak bisa mengabarkan proklamasi kemerdekaan di hari itu juga. Proklamasi kemerdekaan baru terdengar oleh rakyat di luar ibu kota beberapa hari 

sesudahnya.
“Firasatku juga ndak enak, Met.”
Beberapa orang yang mempunyai keresahan sama juga membuat kelompok-kelompok kecil serupa di sudut-sudut kampung, di gardu-gardu, di langgar-langgar, di pondok-pondok, atau tempat-tempat lain yang bisa dijadikan ajang bergerumbul. Mereka membahas perkembangan kondisi terakhir. 

“Kang katanya sekutu sama Belanda mau datang lagi ke negera kita, sampeyan sudah dengar?” kata salah seorang santri pada seniornya.
“Belum. Dapat kabar darimana kamu?”
“Saya nguping dari omongan para gus.”
“Apa bisa dipercaya kabar tersebut?”
“Kata Gus Syukron, Kyai Hasyim dapat berita langsung dari Jenderal Sudirman.”
“Waduuuhh, gawat ini, kalau memang seperti itu berarti memang benar beritanya.” Kata sang senior sambil menepuk jidatnya.

“Menurut sampeyan, kita sebagai santri harus berbuat apa Kang?”
“Saya sendiri belum tahu, kita nanti nunggu perintah dari kyai kita saja. Namun sebaiknya sebelum ada kepastian perintah dari para kyai, kita sekarang mulai riyadhoh lagi mengamalkan hizib nashor yang diijazahkan para Kyai.”
“Sepakat saya, Kang. Kita amalkan hizib nashor biar para penjajah yang mau datang menginjak-injak kemerdekaan itu tumpes. 

Mudah-mudahan Allah mengabulkan doa kita kembali Kang. Sebab melalui hizib nashor dan amalan-amalan yang lainnya terbukti Jepang amblas.”

Beberapa hari setelah itu, eskalasi menjadi semakin memanas. Koordinasi-koordinasi dan rapat-rapat sering diadakan, baik oleh pemerintah sipil di bawah Bupati R.A.A. Setjoadiningrat , oleh pihak BKR yang dipimpin oleh R. Kretarto, maupun oleh masyarakat. 

Sementara itu Kyai Hasyim yang mendapat kabar langsung dari Jenderal Sudirman tak henti-hentinya mengajak para kyai di sekitar Jombang untuk berkordinasi. 

Biasanya orang yang pertama diajak berembuk adalah Kyai Wahab Tambak Beras dan Kyai Bisri Denanyar.

*Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Jombang

Catatan: Tulisan ini merupakan sempalan dari Novel Perang Jombang