Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Merumuskan Jihad Santri: Dari Pandemi hingga Setelahnya

Ilustrasi dokter sebagai garda terdepan yang turut menangani Covid-19. (Sumber: https://m.ayocirebon.com/)
Ilustrasi dokter sebagai garda terdepan yang turut menangani Covid-19. (Sumber: https://m.ayocirebon.com/)

Oleh: M.A.D Restu Putra*

Dari hari ke hari, Coronavirus Disease 19 (Covid-19) semakin merajalela dan telah melayangkan nyawa banyak orang. Proses penyebaran yang begitu cepat dan masif itu tentu tak terlepas dari bagaimana cara Covid-19 menginfeksi inangnya (manusia). Kontak langsung melalui jabat tangan dan memegang media yang pernah dipegang oleh orang yang tertular merupakan di antara penyebab cepatnya penyebaran Covid-19. Saat virus masuk ke tubuh manusia, sistem kekebalan tubuh akan mengirimkan sinyal berupa gejala seperti sakit kepala, demam tinggi, batuk, matinya indera penciuman, matinya indera perasa hingga sesak napas.   
 
Sudah bukan rahasia umum, Covid-19 pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada tanggal 31 Desember 2019. Persis seperti Mers dan Sars, Covid-19 juga menular melalui perantara hewan yakni, kelelawar. Saat media mainstream mengabarkan tentang kemunculan Covid-19, kebanyakan orang di Indonesia menganggapnya sebagai akibat dari tumbuh-kembangnya pasar eksotik di daerah Wuhan itu. Hingga mengkaitkannya dengan persoalan ideologi. Maka, mereka berlomba-lomba untuk mengecamnya sebagai kutukan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada kaum yang zalim nan kafir. Nyatanya, Covid-19 menyebar bagaikan kilat hingga ke penjuru dunia tanpa pandang agama, suku, bangsa, ideologi, gender dan orientasi seksual. Maka, pada tanggal 30 Januari 2020, WHO melaporkan bahwa penyebaran virus ini sudah menjadi pandemi global. 

Patut disesalkan, kala potensi itu sudah nampak, alih-alih melakukan lockdown, pejabat-pejabat di Indonesia justru melontarkan narasi-narasi yang bernada guyon dan terkesan menyepelekan¹. Walhasil, saat Covid-19 menyeruak ke Indonesia, pemerintah menjadi kewalahan. Banyak orang terinfeksi dan tumbang karenanya.

Beberapa ustaz di media sosial juga tak berbeda. Alih-alih mengimbau dan mengajak masyarakat untuk mengimplementasikan protokol pencegahan Covid-19 yang dianjurkan oleh para dokter dan medis, mereka justru mengajak masyarakat untuk semakin giat menjalankan ibadah di ranah publik. Bagi mereka, melarang beribadah di ranah publik justru mendemonstrasikan sikap lebih takut kepada Covid-19 daripada Allah SWT². Bahkan, ada salah satu ustaz yang berpidato seperti ini³:

“Corona adalah tentara Allah, yang turun untuk menjangkiti orang-orang yang zalim yang menganiaya penduduk Muslim Uinghur dan bangsa-bangsa lain yang melakukan kezaliman terhadap umat Islam. Virus ini akan menjadi pembela umat Islam dan musuh-musuh Allah. 

Kita dapat melihat bagaimana intoleransi beragama jutru dienduskan dalam pidato tersebut. Seolah-olah kaum Muslim belaka yang terzalimi dan kelak diselamatkan oleh tentara Allah. Sementara mereka yang non-Muslim hanya menjadi sang Liyan dan terus berada dalam kubangan kezaliman. Pidato tersebut dilontarkan jelas tanpa mengetahui apa makna sebenarnya dari tentara Allah. Prof Dr. Quraisy Syihab mengajukan argumen bahwa yang bisa mengetahui jenis, hakitat, jumlah, dan kekuatan tentara Allah hanyalah Allah sendiriā“. Argumen ini bersandar pada Q.S Al-Muddatsir ayat 31 yang artinya:

"Tidak ada yang mengetahui tentang Tentara Tuhan-Mu kecuali Dia".

Kemudian, jika benar Covid-19 itu tentara Allah, maka tak patut kita memerangi karena ia membawa kemakmuran dan kesejahteraan. Kalaupun diperangi, pastilah kita yang kalah5. Hal ini berdasar dari QS. As-Shaffat ayat 173 yang artinya:

"Dan sesungguhnya tentara Kami pastilah menang".

Sehingga, Covid-19 bukanlah tentara Allah dan sudah menjadi kewajiban untuk memeranginya karena ia membawa kerusakan dan kehancuran. 

Apa yang bisa kita simpulkan dari uraian tersebut ialah pemerintah dan agamawan sama-sama melupakan fakta bahwa virus merupakan organisme yang bermutasi demi melanjutkan mekanisme reproduksi. Karena hutan dan hewan yang menjadi habitatnya telah punah akibat keserakahan segelintir manusia, ia beralih ke tubuh manusia. Dengan watak yang mudah menular, ia secara cepat membawa dunia menuju badai krisis bernama pandemi. Proses yang sedemikian rupa itu merupakan manifestasi bumi untuk memulihkan tubuhya yang tengah rusak akibat tindakan eksploitatif manusia terus-menerus6. Terbukti, saat diterapkannya lockdown, warna langit di China berubah menjadi biru dan sungai-sungai di Italia kembali menjadi jernih7
      
Beberapa pertanyaan kemudian muncul: apakah santri bisa mengambil peran dalam upaya pengentasan pandemi? Jika bisa, apa langkah-langkah yang mesti dilakukan oleh santri? Terakhir, dengan mengambil pelajaran dari peristiwa ini, apa yang bisa dilakukan santri seusai pandemi? 

Upaya dan Doa: Jihad Santri Menghadapi Pandemi

Dalam epos sejarah kolonialisme, santri merupakan salah satu aktor fundamental dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Santri berjuang sampai titik darah penghabisan hingga berhasil menewaskan Jendral Mallaby dan mengusir Belanda. Karena itu, tak usah disangsikan lagi bisa atau tidaknya santri berperan dalam upaya penanggulangan pandemi. Upaya ini dapat disebut sebagai jihad karena menyangkut hidup dan matinya seseorang. 

Apa yang bisa dilakukan santri sebagai langkah awal ialah mengkontekstualisasikan kalimat Al-Qur'an yang pertama kali diturunkan kepada nabi Muhammad SAW : Iqra’ (bacalah). Prof. Dr. Quraisy Syihab, dalam Tafsir Al-Misbah, menginterpretasikan kalimat Iqra’ tak sebatas pada pekerjaan membaca buku atau kitab suci, melainkan juga diri sendiri, masyarakat dan alam raya8. Mengingat pandemi merupakan gejala alam, membaca menggunakan kacamata saintifik sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, ada beberapa hal yang dapat diterapkan di pondok pesatren yakni: berkoordinasi pada pihak Puskesmas, Satgas Covid-19, dan para pemangku kebijakan dari RT hingga Kementrian Agama; menyediakan sarana prasarana berupa tempat isolasi dan recovery bagi santri; menggunakan media virtual sebagai alat untuk melepas rindu kepada orang tua; me-lockdown pondok pesantren yang karenanya perlu meminta subsidi pemerintah; serta makan makanan bergizi. 

Tentu saja hal tersebut tidaklah cukup. Santri juga harus mengimplementasikan ayat kelima dari surat Al-Alaq: ‘Allamal Insaana Maa Lam Ya’lam (Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya). Ayat tersebut berisi perintah kepada kaum Muslim untuk menyampaikan ilmu yang mereka miliki kepada khalayak umum. Ayat tersebut diberi penekanan oleh hadits yang artinya:

"Sampaikanlah dariku walau satu ayat" (HR.Bukhari)

Allah SWT lalu menyandangkan gelar manusia terbaik bagi kaum Muslim yang mengajarkan/menyebarkan ilmunya. Sebagaimana tercermin dalam hadits yang artinya:

"Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qura’n dan mengajarkannya". 

Dalam konteks pandemi, santri harus berperan sebagai antitesis dari para ustaz di media sosial dengan mengimbau masyarakat untuk melaksanakan protokol pencegahan Covid-19. Upaya ini bisa dilakukan melalui media-media sosial atau virtual. Kiai juga dapat membantu dengan bersinergi dengan saintis dan epidemiolog. Dalam hal ini, kiai memberikan pencerahan dan kabar gembira bagi umat yang berada dalam bayangan kekalutan; sementara saintis dan epidemiolog melakukan penilitian mengenai vaksin Covid-19.

Yang tak kalah pentingnya dari semua itu ialah santri harus menciptakan swasembada pangan karena FAO (Food and Agriculture Organization) memprediksi potensi krisis pangan akan berlangsung9. Bagi santri di pedesaan, upaya ini bisa dilakukan dengan mengerjakan tanah-tanah terlantar atau bersinergi dengan para petani melalui sewa-menyewa atau bagi hasil. Sementara bagi santri di perkotaan, upaya ini bisa dilakukan melalui proyek urban farming (pertanian perkotaan). Hasil panennya, selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan pondok pesantren, juga mesti disumbangkan kepada mereka yang terdampak oleh pandemi seperti buruh yang di-PHK dan pekerja informal. Tentu tanpa memandang suku, bangsa dan agama.

Agar semakin memuaskan, upaya-upaya yang telah dijelaskan, mesti dibarengi dengan banyak berdoa. Segala apapun usaha harus disertai dengan doa. Pepatah islam menyebutkan “Doa tanpa usaha itu bohong” dan “Usaha tanpa doa itu sombong”. Doa mengisyaratkan bahwa manusia akan selalu rendah dihadapan tuhan. Bahwa dalam keadaan apapun manusia selalu membutuhkan tuhan. Doa juga berfungsi untuk menumbuhkan harapan, optimisme, ketenangan batin dan kepercayaan bagi si pendoa. Sikap ini dibutuhkan dalam keadaan yang penuh ketidakpastian ini.             

Menghijaukan Bumi: Jihad Pasca-Pandemi

Tak perlu dikatakan lagi jika Covid-19 muncul akibat tindakan destruktif segelintir manusia terhadap bumi. Menurut KH. Sahal Mahfudz, tindakan ini dilangsungkan demi memenuhi kepuasan lahirian semata dan mengeksklusi akibat sosio-ekologis yang kelak datang di kemudian hari10. Sehingga, melestarikan bumi merupakan jihad yang mesti dilakukan oleh santri. 

Dalam konteks pondok pesantren, santri dapat mengadopsi dan mengadaptasi strategi-strategi yang dipaparkan dalam buku panduan Menuju Pesantren Hijau11. Strategi tersebut meliputi tata cara mengelola sampah, mengelola air, dan memanfaatkan Energi Baru Terbarukan (EBT) yang terdiri dari matahari, biogas (kotoran manusia dan ternak) dan arus air yang baik dan benar.

Selain itu, santri mesti menggalakkan pembibitan dan penanaman pohon bersama masyarakat sekitar. Untuk itu, perlu memberikan pemahaman akan pentingnya merawat bumi secara persuasif kepada mereka. Di sinilah peran kiai dibutuhkan. 

Apabila santri berhasil dan konsisten melaksanakan upaya di atas, maka santri sudah melaksanakan titah Allah SWT sebagai Khalifatullah fil-ardh (pewaris/pemimipin bumi)             

------------------------------------------

1. Coklektif

2. Quraisy Syihab, Corona Ujian Tuhan: Sikap Muslim Menghadapinya, Tanggerang: Lentera Hati, 2020, hal 68-74

3. Wowkeren

4. Quraisy Syihab, Corona Ujian Tuhan: Sikap Muslim Menghadapinya, hal 58

5. Ibid 63

6. Forestdigest

7. Mongabay 

8. Quraisy Syihab, Tafsir Al-Misbah, Tanggerang: Lentera Hati, 2005, hal 392-394

9. Cnbcindonesia 

10. KH. Sahal Mahfudh, Nuansa Fiqih Sosial, Yogyakarta: LKiS, 2011, hal 289

11. NU Online

*Penulis adalah alumni salah satu pesantren di Kabupaten Jombang, Jawa Timur