• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Neraca BMTNU Nasional Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Minggu, 5 Februari 2023

Opini

Kiai Nashir, Sahabat dan Orang Tua Bagiku

Kiai Nashir, Sahabat dan Orang Tua Bagiku
Kiai Nashir (NU Online Jombang)
Kiai Nashir (NU Online Jombang)

Sekitar jam 8.30 pagi bertepatan hari Ahad (28/08/2022), handphone (hp) ku berdering , ternyata sahabatku Gus Salman dalam sebuah perjalan menghubungi. Aku yang saat itu sedang rebahan setelah satu jam dua puluh menit mengkaji Fathul Mu'in bersama para santri, dengan riang menerima telpon dari sahabatku itu.

 

Tapi, riangku mendadak berubah menjadi kesedihan yang mendalam, tatkala sahabatku itu bercerita bahwa, Kiai Nashir telah tiada.

 

Sebenarnya, sahabatku telah menelpon sejak pagi, tapi lantaran data paketku habis dan belum sempat mengisi, karena keburu mengaji.

 

Oh Kiai Nashir..

Aku mengenalmu sejak 1994, kala itu kita sedang berdebat dalam majelis Bahtsul Masail tentang pemasangan terop (tenda) di jalan.

 

Itu adalah pertemuan pertama antara aku dan engkau.

 

Selanjutnya, kita menjadi teman diskusi yang hangat, sekaligus ku posisikan engkau menjadi orang tua yang memberi nasihat.

 

Suatu hari Kiai didikan Kiai Sahal Kajen dan Mbah Maimun Sarang ini, memberi nasehat padaku melalui sambungan telpon.

 

"Kene lho ngaji Nang Mualimin Tambakberas. IImumu ben ora mung nglutek di Pacul Goang dan Denanyar," katanya.

 

Ketika itu aku sedang mengisi pengajian di Boyolali. Tanpa berpikir panjang, ku iyakan ajakan sahabatku itu.

 

Oh Kiai Nashir,

Kiai didikan Syekh Ismail bin Zain Alyamani ini orang yang fokus dan teguh dalam pendirian meski juga akomodatif.

 

Suatu hari beliau dawuh, "Aku rewangono Nang NU. Aku emoh pengurus NU iku mung titipan atau yang hanya menitipkan namanya."

 

Sejarah panjang mengurus NU adalah pengalaman serius bagi dirinya, sehingga beliau paham betul arti sebuah Khidmah.

 

Oh Kiai Nashir,

Kiai didikan Kiai Fattah, sang ayah ini pun sosok yang menghargai Kiai lain. Apalagi yang menjadi gurunya.

 

Maka kalimat yang lazim diucapkan beliau saat diskusi adalah :

 

"Piye munggohmu?" Katanya bila hanya bersamaku. Atau "Pripun munggoh panjenengan sedoyo?" Itu yang beliau sampaikan bila acara rapat bersama para Kiai yang lain.

 

Suatu hari di ruang kepala di sela-sela obrolan santai, beliau dawuh, "Pokoke yen ono wong ngrasani Kiai Sahal Karo Mbah Mun, aku sukut dan tidak pernah aku berpendapat. Mergo, beliau berdua adalah guruku," dawuhnya.

 

Di hari yang lain, beliau bercerita, "Aku jane yen iso saat konferensi ada yang memilih aku jadi Rais pertama, aku emoh jadi Rais. Tapi Kiai Sahal pernah dawuh, yen dikarepno wong akeh yo tomponen," ceritanya.

 

Bagi beliau, jabatan di NU bukan sebuah tujuan yang dicari mati-matian. Apalagi diartikan sebagai kendaraan untuk sebuah tujuan pribadi yang menguntungkan.

 

Nampaknya, beliau sanggup saat itu karena semata titah gurunya.

 

Oh Kiai Nashir,

Ia org tua yang ikhlas bagiku.

Suatu ketika, ia memberi nasihat padaku, "Wong ngaji iku ra usah ndelok piro muride. Yen sampean ndelok murid, maka syaitan gampang mlebu. Terus rumongso nduwe pengikut dan bangga dengan pengikut yang dimiliki. Wong alim iku ra iso diukur nganggo jumlah muride," ujarnya.

 

Lalu beliau bercerita tentang Ibnu Malik yang tidak banyak murid dan lain sebagainya. Aku saat itu hanya diam mendengarkan, meski akhirnya diskusi panjang pun menjadi menu utama.

 

Oh Kiai Nashir,

Kiai pemberani dan heroik ini kini telah tiada. Masih kukenang kalimat terakhirmu, "Demi NU Jombang, akan ku pertahankan sampai titik darah penghabisan."

 

Ternyata demi NU pula kau tinggalkan kami selamanya.

 

Namun meski kesedihan dan kepedihan yang berlarut bukan yang dikehendakinya, melanjutkan cita-cita luhur seperti membuat kantor ranting dan membuka kantor kas BMT di setiap ranting adalah tindakan nyata yang membuat beliau tersenyum.

 

Hanya saja, bahagia atas wafatnya sosok panutan adalah kejahatan yang terselubung.

 

Aku hanya bisa berdoa untuk membalas kebaikanmu. Semoga ridha Tuhan bersamamu.

 

Dari aku,

Orang yang kau tinggalkan.

Alfaqir M Sholeh, Warga NU Kabupaten Jombang 

 


Opini Terbaru