• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Jumat, 31 Mei 2024

Opini

Awal Mula Lebaran Ketupat dan Media Dakwah Sunan Kalijaga

Awal Mula Lebaran Ketupat dan Media Dakwah Sunan Kalijaga
Hidangan ketupat. (Foto: Freepik)
Hidangan ketupat. (Foto: Freepik)

Tujuh atau delapan hari setelah merayakan Hari Raya Idul Fitri, mayoritas umat Islam kemudian merayakan lebaran ketupat. Dalam hal merayakannya, mereka punya tradisi yang beragam. Namun yang menjadi ciri khas di sini adalah ketupat.

 

Ketupat terbuat dari beras dibungkus dengan anyaman janur kuning yang biasanya digabungkan dengan opor ayam.


Agus Sunyoto seorang sejarawan berpendapat bahwa lebaran ketupat merupakan tradisi asli Indonesia. Hal tersebut berkaitan dengan hadits Nabi berikut ini. 

​​​​​​

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

 
Artinya, “Siapa saja yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun” (HR Muslim).


Dari hadits di atas dijelaskan orang yang berpuasa Ramadhan dan dilanjutkan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal maka disebut kaffah atau kafatan artinya sempurna. Masyarakat Indonesia menyebutnya dengan lebaran kupat atau kupatan, setelah berpuasa di bulan Syawal enam hari maka diadakan hari raya ketupat dengan arti hari raya yang sempurna. 


Fathoni dalam artikelnya di NU Online menuliskan bahwa H.J de Graaf dalam Malay Annal dikutip Historia menjelaskan bahwa ketupat adalah simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Kerjaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah pada abad ke-15. Janur yang dibuat untuk membungkus ketupat menunjukkan bahwa identitas masyarakat pesisir yang di daerahnya banyak tumbuh pohon kelapa.


Masyarakat pesisir sering menggunakan janur untuk membungkus makanan. Pada masa tersebut dakwah Islam ditegakkan, maka masyarakat pesisir mendorong Sunan Kalijaga untuk berdakwah melalui ketupat untuk menyebarkanluaskan agama Islam. Sunan Kalijaga berhasil dengan dakwahnya saat itu ketupat sebagai tanda lebaran ketupat, dilaksanakan pada 8 Syawal atau seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri.


Tradisi menghidangkan ketupat masih kental hingga saat ini, biasanya dilakukan oleh masyarakat keraton di Ubud Bali. Ketupat sebagai makanan khas masyarakat Nusantara yang tersaji saat acara-acara tertentu umat Muslim, Hindu, dan umat yang lain. 


Ketupat tidak terkenal dalam lingkup Jawa saja, melainkan dikenal diberbagai daerah di Indonesia. Di antaranya kupat tahu dari Sunda, kupat glabet dari Tegal, coti Makasaar, ketupat sayur dari Padang, sate Padang, doclang dari Cirebon, laksa dari Cibinong. Ketupat juga dapat disajikan dengan berbagai menu seperti gado-gado, sate, bakso, dan lain sebagainya sesuai dengan selera.


Makna Filosofi Ketupat

  1. Kata ketupat atau kupat berasal dari bahasa Jawa ”ngaku lepat” artinya mengakui kesalahan. Maka, adanya lebaran ketupat ini diharapkan umat Islam saling memaafkan, mengakui kesalahannya, dan melupakan kesalahan yang telah lalu.
  2. Janur kuning sebagai pembungkus ketupat melambangkan sebagai tolak bala bagi orang Jawa.
  3. Bentuk segi empat diartikan sebagai prinsip “kiblat papat lima pancer” kiblat papat lima pancer” artinya kemanapun manusia menuju, pasti akan kembali kepada Allah swt.
  4. Anyaman janur yang rumit dan susah sebagai bentuk bahwa kesalahan manusia sangat beragam.
  5. Warna putih ketupat saat dibelah menggambarkan kebersihan dan kesucian setelah memohon ampun atas segala kesalahan.
  6. Beras sebagai isi dari ketupat diharapkan sebagai lambang kemakmuran setelah Hari Raya Idul Fitri.


Ketupat biasanya dihidangkan dengan opor ayam dan sambal goreng sebagai pelengkap. Hal tersebut juga memilik makna filosofi, opor ayam yang dibuat dengan bahan salah satunya menggunakan santan. Santan dalam bahasa Jawa disebut santen artinya pangapunten yang bermakna minta maaf.


Opini Terbaru