Home Warta Daerah Laporan Keuangan Bahtsul Masail Nasional Pengurus BMT NU Fiqih Opini Keislaman Amaliyah NU Khutbah Ekonomi Nyantri BMT NU

Cinta pada Tanah Air Menurut Islam

Cinta pada Tanah Air Menurut Islam
Ilustrasi
Ilustrasi

Oleh : Mohammad Makmun*

Orang Yang Akalnya Sehat Pasti Mencintai Tanah Airnya. Mari Jaga Tanah Air Kita Sampai Kapanpun.

Allah menggambarkan dua sanksi hukum yang amat berat bagi manusia untuk bisa menjalaninya, yaitu pilih bunuh diri atau minggat dari tanah airnya. Secara sadar, semua manusia pasti tidak akan mau untuk bunuh diri maupun minggat dari tanah airnya. Sanksi hukum tersebut sebagaimana terekam dalam al-Qur'an:

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِم أَنِ اقْتُلُوْا أَنْفُسَكم أَوِ أخرُجُوا مِن دِيَارِكُمْ مَا فَعَلُوْه إِلَّا قليلٌ منهم

“Dan sesungguhnya jika seandainya Kami perintahkan kepada mereka (orang-orang munafik): ‘Bunuhlah diri kamu atau keluarlah dari kampung halaman kamu!’ niscaya mereka tidak akan melakukannya, kecuali sebagian kecil dari mereka..." (QS. An-Nisa': 66).

Menurut Wahbah Zuhaili dalam al-Munir fil Aqidah wal Syari’ah wal Manhaj, kata أَوِ اخْرُجُوْا مِنْ دِيَارِكُمْ terdapat isyarat akan cinta tanah air dan ketergantungan orang dengannya, dan Allah menjadikan keluar dari kampung halaman sebanding dengan bunuh diri, dan sulitnya hijrah dari tanah air.

Lebih lanjut dalam Tafsir al-Wasith dijelaskan, bahwa kata "keluarlah dari kampung halaman kamu” terdapat isyarat yang jelas akan ketergantungan hati manusia dengan negaranya, dan (isyarat) bahwa cinta tanah air adalah hal yang melekat di hati dan berhubungan dengannya. Karena Allah SWT menjadikan keluar dari kampung halaman dan tanah air, setara dan sebanding dengan bunuh diri. Kedua hal tersebut sama beratnya. Kebanyakan orang tidak akan membiarkan sedikitpun tanah dari negaranya manakala mereka dihadapkan pada penderitaan, ancaman, dan gangguan.

Tidak hanya itu, Rasulullah sangat cinta dengan tanah airnya, bahkan terdapat sebuah riwayat :

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَاتِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ نَاقَتَهُ وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا ....... وَفِي الْحَدِيثِ دَلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبِّ الوَطَنِ والحَنِينِ إِلَيْهِ

Nabi Muhammad SAW ketika kembali dari bepergian, dan melihat dinding-dinding Madinah, beliau mempercepat laju untanya. Apabila beliau menunggangi unta maka beliau menggerakkanya (untuk mempercepat) karena kecintaan beliau pada Madinah. Hadis tersebut memberikan petunjuk atas keutamaan Madinah dan disyariatkannya cinta tanah air dan rindu padanya.

Bahkan tatkala keputusan hijrah dari Makkah ke Madinah diambil oleh Rasulullah, namun masih terbesit dalam hati dan pikiran beliau yang merasa berat meninggalkan kota Makkah, sebagaimana dikisahkan :

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا أُخْرِجَ مِنْ مَكَّةَ : اِنِّي لَأُخْرَجُ مِنْكِ وَاِنِّي لَأَعْلَمُ أَنَّكِ أَحَبُّ بِلَادِ اللهِ اِلَيْهِ وَأَكْرَمُهُ عَلَى اللهِ وَلَوْلَا أَنَّ أَهْلَكَ أَخْرَجُوْنِي مِنْكِ مَا خَرَجْتُ مِنْكِ

Saat Nabi diusir dari Makkah beliau berkata: Sungguh aku diusir darimu (Makkah). Sungguh aku tahu bahwa engkau adalah Negara yang paling dicintai dan dimuliakan oleh Allah. Andai pendudukmu (Kafir Quraisy) tidak mengusirku dari mu, maka aku takkan meninggalkanmu (Makkah).”

Bahkan setelah meninggalkan Makkah pun, Rasulullah berdoa agar kecintaan beliau kepada Kota Madinah sebagaimana beliau mencintai kota Makkah.

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

Barangkali ada kejanggalan terkait doa nabi tersebut, kalau ada yang terbesit pertanyaan dimana kecintaan tanah air nabi Muhammad? Makkah atau Madinah? Maka bisa dijawab bahwa :

Al-Jurjani dalam kitabnya al-Ta’rifat :

اَلْوَطَنُ الْأَصْلِيُّ هُوَ مَوْلِدُ الرَّجُلِ وَالْبَلَدُ الَّذِي هُوَ فِيهِ

Tanah air adalah tempat dimana ia dilahirkan dan atau dimana dia berdomisili. Sehingga, dari sini kita ketahui bahwa tanah air kelahiran nabi Muhammad adalah Makkah, namun beliau menetap di Madinah. Dan beliau mencintai kedua daerah tersebut.

Selain itu, ternyata rasa cinta tanah air sudah ada sejak nabi Ibrahim, hal ini tersirat dari sebuah doa yang diabadikan dalam al-Qur'an:

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim As. berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian". (al-Baqarah 126)

وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ“

"Dan (ingatlah), ketika Ibrahim As. berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman. Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala". (Ibrahim: 35).

Jadi intinya, cinta tanah air itu naluriah manusia dan ada dasarnya dalam Islam. Hanya orang tidak sehat akal dan nalurinya saja yang tidak cinta tanah airnya. Mari kita jaga tanah air Indonesia sampai kapanpun, NKRI Harga Mati.

 

*Penulis adalah Ketua Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Jombang

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi