Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Jihad di Bulan Ramadhan

"Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas umat sebelummu, supaya kamu bertaqwa". Al-Baqoroh : 183

Begitulah perintah Allah, tuhan semesta alam dalam firmanya kepada orang yang beriman umat kanjeng nabi muhamamad SAW.  Mungkin sebagain dari kita sudah banyak tahu bahwasanya puasa ini bukan pertama kali diperintkahkan terhadap umat Nabi Muhmamad SAW, sebelumnya sudah ada perintah puasa untuk umat umat terdahulu. Seperti halnya puasa nabi dawud yang mana masih sering dijalankan oleh sebagian orang islam khususnya santri yang sedang belajar di pesantren maupun universitas. Ada sedikit perbedaan dalam perintah puasa bagi umat kanjeng nabi muhamamad. Puasa ini dalikukan selama satu bulan penuh yaitu di bulan Ramadhan.

Bulan Ramadahan selain diperintahkan puasa satu bulan penuh juga untuk memacu kesemangatan seseorang  berlomba-lomba dalam kebaikan. Selain daripada itu Ramadhan juga banyak  untuk melatih diri untuk mengukur kulitas ketaqwaan seseorang. Serta jihad  untuk memperbanyak ilmu dan mengamalkanya. Karena bagi pemuda jihad yang besar adalah jihad melawan hawa nafsu dan melawan kebodohan.

Selain peritah yang wajib, puasa memiliki  tujuan , hikmah dan manfaat lainya. Karena setiap apa yang diperintahkan oleh Allah SWT tuhan semesta alam pasti memiliki rahasia-rahsia atau hikmahnya di baliknya. Selain dari pada itu, puasa merupakan ibadah yang self reminder, ibadah yang minim pecitraan dan laporan pertanggung jawabanya langsung kepada Allah SWT tuhan semesta alam tanpa perantara apapun.

Puasa dan Kualitas Ketaqwaan Seseorang

Adapaun tujuan dari puasa sebagai penggalan ayat di atas yaitu supaya kalian semua bertaqwa. taqwa ini memang  mudah diucapkan namun sulit dlakukan. Pandangan banyak orang mungkin taqwa adalah orang yang mampu melaksanakan kebaikan seacra personal tanpa memadang lingkungan sekitarnya. padahal itu hanya buah dari taqwa belum taqwa secara penuh. 

Menurut pandangan atau pendapat yang sering  kita dengar taqwa adalah menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala laranangan larangan-Nya. Itulah pengertian taqwa secara bahasa dan mungkin sudah familiar di terlinga kita, lantas apakah hanya sebatas itu untuk mengukur kualitas taqwa sesorang?

Dalam ali Imron 134 telah disebutkan sifat atau prilaku seseorang yang dikatakan muttaqien baca: orang bertaqwa, yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, dan orang-oarng yang mampu menahan amarah dan memafkan kesalahan orang lain dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Melihat terjemahan Surat Al-Imron ini, rasanya sangat sulit untuk mencapai kualitas taqwa yang prima bagi setiap orang. Apalagi di era dua kehidupan yang sering berbenturan yaitu kehidupan dunia maya dan dunia nyata. 

Disadari atau tidak fenomena hari ini baik di dunia nyata maupun dunia maya banyak orang yang katanya ustadz tetapi tidak bisa menahan amarahnya. Padahal itu termasuk salah satu criteria dari orang yang bertaqwa. Belum lagi banyak  tokoh agama yang suka saling menghujat baik secara langsung atau lewat media social. Inilah fenomena hari ini dimana ketaqwaan bukan dinilai dari pangkat yang ia dapat ataupun pakaian yang mereka pakai. Akan tetapi kualitas ketaqwaan dapat dilihat hati, sikap dan perilaku  sesorang

Puasa dan Jihad Melawan kebodohan

Dalam bulan Ramadhan ini sangat cocok sebagai medan jihad kita dalam mencari ilmu dan menambah pengetahuan baru. Kenapa harus jihad?. Momen Ramadhan ini biasanya kalau tidak diisi dengan kegiatan kegiatan positif dengan sungguh-sunguh (jihad) pastinya akan malas dalam melakukan aktivitas. Masa kita hanya mengisi waktu ramadhan ini yang mana full dengan puasa dengan tidur dan santai santai saja? Saya kira kalau hanya sekedar itu kucingpun bisa.

Dalam mencari ilmu di bulan Ramadhan ini bisa dengan belajar privat dengan seorang guru atau ikut kajian kajian Ramadhan, baik di kampus ataupun pesantren. Tradisi kita di pesantren biasanya ada semacam kelas khusus Ramadhan atau kajian kitab tertentu yang ampu oleh seorang kyai atau guru agama secara rutin dan ini sampai selesai. Misalkan ada kajian kitabnya alghazali  al munqidz minnadholal yang berisi tentang kiat kiat belajar filsafat dan ilmu lainya. Atau kajian bukunya mustofa al-Ghulayaini tentang nasehat nasehat bagi seorang pemuda.

Selain jihad di dunia nyata, di bulan Ramadhan ini kita juga bisa jihad dimedia sosial. Banyak cara, salah satunya mengakses youtube yang berisi kajian kajian yang diampu oleh ulama-ulam kita seperti KH. Mustofa Bisri, Gus Bahaudin Nur Salim, KH Fahmi Amrullah dan masih banyak lainya. Selain mengakses youtube bisa juga mengshare konten-konten positif yang mampu menggugah semangat kita dalam berjihad menyebarkan ilmu pengetahuan. Bukan jihad dengan menyebar kebencian, hoax dan propaganda-propaganda busuk lainya. Itu bukan jihad tapi jahat.

Kelihatanya memang mudah diucapakan jihad yang model seperti ini, tetapi tentunya berat dan sulit untuk dilakukan. Akan tetapi berat dan sulit bukan berarti tak bisa.

 Selamat mencoba.

 

Oleh Irham, Ketua Umum PC PMII Jombang