Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Belajar Merawat Literasi kepada Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari

Beberapa hari yang lalu telah beredar berita tentang penangkapan pegiat literasi di daerah Probolinggo, Jawa Timur oleh aparat. Penangkapan itu dikarenakan buku yang dikoleksi oleh pegiat literasi tersebut berbau kiri. Dalam hal ini buku DN Aidit yang mana ia merupakan pentolan PKI pada masanya.

Buku-buku yang disita oleh aparat itu antara lain, Aidit Dua Wajah Dipa Nusantara diterbitkan oleh KPG Jakarta; Sukarno, Marxisme dan Leninisme: Akar Pemikirian Kiri dan Revolusi Indonesia diterbitkan Komunitas Bambu; Menempuh Jalan Rakyat, D.N Aidit diterbitkan oleh Yayasan Pembaharuan Jakarta; Sebuah Biografi Ringkas D.N Aidit oleh TB 4 Saudara.

Penyitaan tersebut menuai kontraversi dari berbagai kalangan. Mulai aktivis, pegiat literasi sampai lembaga bantuan hukum. Salah satunya oleh Abdul Wahid Habibullah sebagai mana dilansir dari CNN Indonesia, penyitaan terhadap buku-buku yang diduga melanggar peraturan perundang-undangan harus dilakukan melalui proses peradilan. Hal itu sebagai mana putusan MK nomor 20/PUU/2010.

Selain itu, wartawan senior dan juga penggiaat literasi nasional Najwa Shihab juga ikut menanggapi kasus tersebut. Sebagai mana dicuitkan dalam twettnya "pelarangan buku adalah kemubaziran yang sempurna. di tengah rendahnya minat baca, pelarangan buku adalah kemunduran yang luar biasa. Indonesia bisa semakin tertinggal dari bangsa bangsa lain yang selalu terbuka kepada ide ide baru dan pengetahuan baru". 

Najwa memang dikenal sangat berani mewancarai siapapun. Bahkan orang yang diwawancarai akan merasa grogi dibuatnya bisa dilihat acara Mata Najwa. apalagi dia sebagai Duta Baca Indonesia mempunyai beban moral apabila membiarkan kasus pelarangan buku ini masih terjadi. Khususnya buku-buku yang berbau kiri. 

Bagi Najwa Shihab tidak perlu khawatir apalagi ada pelarangan kepada pegiat literasi. Karena dengan membaca sejarah bisa memperkaya diri dan khzanah-khazanah masa lalu. Hal ini juga diungkapan saat acara bersama kepala staf keprisidenan RI yang juga mantan panglima TNI, Moeldoko.

Berbeda yang dilakukan oleh Najwa Shihab, MUI Probolinggo mencoba menjadi juru damai agar kasus ini tidak semakin meluas. Padahal seharusnya MUI sebagai wadah Ulama harusnya segara tegas mensupport kegiatan-kegiatan yang bernuansa keilmuan. Karena MUI adalah representatif dari kelompok orang-orang berilmu yang tidak lain dan tidak bukan adalah hubunngan dengan literasi.

Sebagai mana yang dicontohkan oleh mahaguru Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari yang selalu merawat buku (kitab) bahkan ada perpustakaan pribadi di 
kamar beliau.

Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari dan Literasi

Hadratusyaikh Hasyim Asyari dikenal dengan kiai yang tidak anti literasi. Keseriusannya dalam literasi digambarkan oleh penulis luar negeri Muhammad Asad Sahab yang ditulis dengan bahasa Arab. Saking cintanya dengan literasi, ada perpustakaan pribadi di dalam kamarnya.

Menurut penuturan Muhammad Asad Sahab, perpustakaan tersebut perpustakaan terlengkap pada masanya, memiliki koleksi buku (kitab) yang lengkap dari berbagai bahasa, juga koleksi buku buku langka dalam bentuk manuskrip. Saking lengkapnya perpustakaan ini menandingi kelengkapan perpustakaan dewan kajian Islam di Jakarta.

Hadratusyaikh Hasyim Asy'ari selain pecinta literasi, beliau seorang filolog. Yang tidak perhitungan dalam membeli buku-buku. Sehingga santri banyak terfasilitasi dengan adanya banyak buku tersebut.
Dikatakan oleh muhammad Asad Shahab, Hadratusyaikh Hasyim Asy’ari memiliki perhatian yang besar untuk mengoleksi kitab-kitab ilmiah dan mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk membeli dan merawat kitab-kitab tersebut. Bahkan, beliau tak segan-segan untuk mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk bisa mendapatkan sebuah kitab kuno yang dipandang penting. Karena itulah, tidak mengherankan jika beliau memiliki koleksi (perpustakaan) kitab yang sangat besar. 

Mahasiswa Kini dan Literasi 

Menjadi sangat berharga apabila mahasiswa masih peduli akan literasi. Pasalnya, sudah menjadi identitas sebagai seorang terpelajar baca : mahasiswa bergelut dengan literasi. Apalagi sebagai agen of change dan agen social control sudah barang tentu pasti membutuhkan sebuah keilmuan. Dan sumbernya ilmu ya dari literasi, baik itu membaca, menulis atau berdiskusi.

Mahasiswa saat ini juga dituntut untuk kreatif dalam mengaplikasikan ilmunya. Baik ilmu agama atau non agama. Karena tantangan ke depan semakin berat. Dan syarat normatif agar mahasiswa bisa kreatif yaitu dengan banyak pergaulan dan banyak literasinya. 

Selain dari pada itu, Mahaiswa harus ada kefokusan terhadap suatu bidang tertentu. Karena ke depan akan banyak dibutuhkan ahli-ahli profesi dalam bidangnya. Menjadi ahli profesi akan semakin nampak nyata dengan banyaknya literasi.

Berbicara literasi nampaknya mudah diucapkan akan tetapi sulit diwujudkan. Penulis sendiri sedang demam literasi, semoga bisa continue dalam berliterasi yaitu membaca, menulis dan berdiskusi. Mengutip istilah yang penulis sering kutip dari pernyataanya Gus Dur " Sulit bukan berarti tidak bisa dilakukan. Salam Literasi !!!
 

Irham, Ketua Umum Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jombang