Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Duda Segera Ingin Kembali Menikah, Silakan Saja

Ilustrasi pernikahan. (Istimewa)
Ilustrasi pernikahan. (Istimewa)

Seorang warga dari salah satu kecamatan di Kabupaten Jombang memohon penjelasan kepada alfaqir melalui WA mengenai saudaranya yang menduda ingin menikah lagi, tapi oleh anak-anaknya tidak diperkenankan karena anak-anaknya tersebut khawatir kalau kelak ibunya dan bapaknya masuk surga, keduanya tidak bisa berkumpul.

Rasulullah SAW bersabda:

من كان ذا طول فليتزوج

Barangsiapa mempunyai biaya pernikahan (mahar, nafkah dan lain-lain) maka menikahlah.

Imam Ibnu Abbas berkata :

لا يتم نسك الناسك حتى يتزوج

Tidak sempurna ibadahnya orang yang beribadah sehingga ia menikah.

Karena itu sahabat Mu'adz bin Jabal tatkala kedua istrinya meninggal saat pandemi, beliau meminta segera dinikahkan, seraya berkata: Aku tidak suka bertemu Allah dalam keadaan menduda (tidak beristri).
Hal senada juga dinyatakan oleh Ibnu Mas'ud.

Imam Ahmad bin Hambal pemilik madzhab Hambali, saat ditinggal wafat istrinya, beliau langsung menikah lagi pada hari yang kedua istrinya meninggal.

Seorang shufi besar bernama Bisyri bin Chartsi saat ditanya setelah beliau wafat melalui mimpi : Anda diperlakukan bagaimana oleh Allah? Beliau menjawab : derajatku di surga diluhurkan oleh Allah, dan aku ditampakkan Maqom maqomnya para nabi, tapi aku tidak bisa sampai pada derajatnya orang orang yang berkeluarga.

Lalu beliau ditanya mengenai Syekh Abu Nashrin Attammar. Beliau menjawab : Derajatnya lebih tinggi dari aku tujuh puluh derajat.

Mengapa bisa begitu, padahal kami melihat, tuan lebih unggul daripada dia? Beliau menjawab: Berkat kesabaran merawat dan membina anak dan keluarganya.

Dikatakan: Satu rakaat yang dilakukan oleh orang yang menikah itu lebih utama daripada tujuh puluh rakaat yang dilakukan oleh orang yang tidak menikah.

Dari uraian di atas, maka silakan orang yang menduda (yang tidak mempunyai istri) menikah lagi.

Refrensi: Ihya' Ulumiddin juz 2 halaman 23 --24

Wabillahittaufiq

*Kiai M Sholeh, Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang