• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Selasa, 27 Februari 2024

Bahtsul Masail

Cara Istri agar Bisa Lepas dari Ikatan Nikah Sirri menurut Fiqih

Cara Istri agar Bisa Lepas dari Ikatan Nikah Sirri menurut Fiqih
Ilustrasi pasangan sami-sami. Sebagian masyarakat masih menerapkan nikah sirri untuk mempersatukan laki-laki dan perempuan yang saling mencintai. (Foto: Freepik)
Ilustrasi pasangan sami-sami. Sebagian masyarakat masih menerapkan nikah sirri untuk mempersatukan laki-laki dan perempuan yang saling mencintai. (Foto: Freepik)

Deskripsi Masalah:

Ada seorang pria dan wanita sepakat melakukan nikah secara sirri, namun setelah berjalan beberapa bulan dari pernikahan tersebut, suami tidak mampu memberikan nafkah hingga akhirnya istri meminta cerai. Suami tidak mau menceraikannya karena masih mencintai istrinya. Berkaitan dengan nikah sirri kutipan UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, sesuai dengan Bab I tentang Dasar Perkawinan Pasal 2 Ayat 2 berbunyi: “Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”. 


Pertanyaan:

Bagaimana caranya agar istri bisa terputus dengan pernikahan tersebut?


Jawaban:

Dengan cara faskhunnikah, karena status pernikahan sirri, maka istri melakukan faskhunnikah melalui muhakam (kiai/ulama), jika tidak ada, maka istri bisa melakukan faskhunnikah sendiri.


Hal itu bisa dilakukan ketika sudah ada penetapan status ketidakmampuan suami dalam memberikan nafkah yang bisa dilakukan oleh qodhi atau muhakkam (kiai/ulama) dengan adanya saksi jika memang suami diketahui mempunyai harta. Bila tidak demikian, maka cukup dengan sumpah dari istri atau pengakuan dari suami.


Referensi:


نِهَايَةُ الزَّيْنِ (ص: 338)
(وَ) لَا فَسْخَ بِإِعْسَارٍ بِمهْرٍ أَوْ نَحْوِ نَفَقَةٍ (قَبْلَ ثُبُوتِ إِعْسَارِهِ) أَي الزَّوْجِ (عِنْدَ قَاضٍ) أَوْ مُحَكَّمٍ بِشَرْطِ أَنْ يَكُوْنَ مُجْتَهِدًا وَلَوْ مَعَ وُجُوْدِ قَاضٍ أَوْ مُقَلِّدًا وَلَيْسَ فِي الْبَلَد قَاضِي ضَرُوْرَةٍ فَلَا بُدَّ مِنَ الرَّفْعِ إِلَيْهِ وَيَثْبُتُ إِعْسَارُ الصَّغِيرِ بِالْبَيِّنَةِ كَغَيْرِهِ وَإِعْسَارُ غَيْرِهِ بهَا إِنْ عُرِفَ لَهُ مَالٌ وَإِلَّا كَفَى الْيَمِيْنُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ .... إلى أن قال ..... نَعَمَ إِنْ عَجَزَتْ عَنِ الرَّفْعِ إِلَى الْقَاضِي أَو الْمُحَكَّمِ كَأَنْ قَالَ لَهَا لَا أَفْسَخُ حَتَّى تُعْطِيَنِي مَالًا وَفَسَخَتْ نَفَذَ الْفَسْخُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا لِلضَّرُوْرَةِ . وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي مَحَلِّهَا قَاضٍ وَلَا مُحَكَّمٌ اِسْتَقَلَّتْ بِالْفَسْخِ فَتَقُوْلُ فَسَخْتُ نِكَاحِي . وَصُوْرَةُ الْمَسْأَلَة أَنَّ الرَّفْعَ للْقَاضِي سَبَقَ إِذْ لَا عِبْرَةَ بِمَهْلَةٍ بِلَا قَاضٍ وَكَذَا يُقَالُ فِيمَا سَبَقَ 


Artinya: Tidak diperbolehkan merusak akad nikah sebab tidak mampu memenuhi mahar atau nafkah sebelum ada ketetapan dari qodli atau muhakkam akan ketidakmampuan suami, namun bila istri tidak bisa lapor ke hakim atau muhakkam, maka ia bisa menfasakh nikah sendiri dengan ucapakan “aku rusak nikahku”.


بُغِيَّةُ الْمُسْتَرْشِدِيْنَ (ص: 515)
(مسألة : ي) فِي فَسْخِ النِّكَاحِ خَطَرٌ وَقَدْ أَدْرَكْنَا مَشَايِخَنَا الْعُلَمَاءَ وَغَيْرَهُمْ مِنْ أَئِمَّةِ الدِّيْنِ لَا يَخُوْضُوْنَ فِيْهِ وَلَا يَفْتَحُوْنَ هَذَا الْبَابَ لِكَثْرَةِ نُشُوْزِ نِسَاءِ الزَّمَانِ وَغَلَبَةِ الْجَهْلِ عَلَى الْقُضَاةِ وَقَبُوْلِهِمْ الرَّشَا وَلَكِنْ نَقُوْلُ يَجُوْزُ فَسْخُ الزَّوْجَةِ النِّكَاحَ مِنْ زَوْجِهَا حَضَرَ أَوْ غَابَ بِتِسْعَةِ شُرُوْطٍ ... الى أن قال .... وَثُبُوْتُ ذَلِكَ عِنْدَ الْحَاكِمِ بِشَاهِدَيْنِ أَوْ بِعِلْمِهِ ، أَوْ بِيَمِيْنِهَا الْمَرْدُوْدَةِ إِنْ رَدَّ الْيَمِيْنَ ، 


Artinya: Penetapan hakim atas ketidakmampuan suami dalam memenuhi mahar atau nafkah, menggunakan dua orang saksi, pengetahuan hakim atau sumpahnya istri bila suami tidak mau bersumpah.


Bahtsul Masail Terbaru