• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Jumat, 23 Februari 2024

Bahtsul Masail

Nikah Sirri, Suami Tak Mampu Nafkahi Istri dan Tak Mau Menceraikan

Nikah Sirri, Suami Tak Mampu Nafkahi Istri dan Tak Mau Menceraikan
Ilustrasi pasangan sami-sami. Sebagian masyarakat masih menerapkan nikah sirri untuk mempersatukan laki-laki dan perempuan yang saling mencintai. (Foto: Freepik)
Ilustrasi pasangan sami-sami. Sebagian masyarakat masih menerapkan nikah sirri untuk mempersatukan laki-laki dan perempuan yang saling mencintai. (Foto: Freepik)

Deskripsi Masalah:

Ada seorang pria dan wanita sepakat melakukan nikah secara sirri, namun setelah berjalan beberapa bulan dari pernikahan tersebut, suami tidak mampu memberikan nafkah hingga akhirnya istri meminta cerai. Suami tidak mau menceraikannya karena masih mencintai istrinya. Berkaitan dengan nikah sirri kutipan UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, sesuai dengan Bab I tentang Dasar Perkawinan Pasal 2 ayat 2 berbunyi: “Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”. 


Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya bagi suami yang tidak mampu menafkahi istri tetapi tidak mau menceraikan di saat istri menuntut cerai? 


Jawaban:

Boleh, selama tidak ada kesengajaan menelantarkan istri


Referensi:

الْفِقْهُ الإِسْلَامِيُّ وَأَدِلَّتُهُ (ج 9 / ص 345)
مَالِكُ الطَّلَاقِ: يَتَبَيَّنُ مِمَّا سَبَقَ أَنَّ الَّذِي يَمْلِكُ الطَّلَاقَ إِنَّمَا هُوْ الزَّوْجُ مَتَى كَانَ بَالِغاً عَاقِلاً وَلَا تَمْلِكُهُ الزَّوْجَةُ إِلَّا بِتَوْكِيْلٍ مِنَ الزَّوْجِ أَوْ تَفْوِيْضٍ مِنْهُ وَلَا يَمْلِكُهُ الْقَاضِي إِلَّا فِي أَحْوَالٍ خَاصَّةٍ لِلضَّرُوْرَةِ

 

Artinya: Pemilik talak adalah suami ketika baligh berakal, dan talak tidak bisa dimiliki istri kecuali mendapat penyerahan dari suami, dan juga bukan milik qodli kecuali dalam keadaan darurat.


تُحْفَةُ الْمُحْتَاجِ فِي شَرْحِ الْمِنْهَاجِ وَحَوَاشِي الشَّرْوَانِي وَالْعُبَّادِيّ (7/ 187)
(فَإِنْ وَجَدَ الْأُهْبَةَ وَبِهِ عِلَّةٌ كَهَرَمٍ أَوْ مَرَضٍ دَائِمٍ، أَوْ تَعْنِينٍ) كَذَلِكَ بِخِلَافِ مَنْ يَعُنُّ وَقْتًا دُونَ وَقْتٍ (كُرِهَ) لَهُ النِّكَاحُ (وَاَللَّهُ أَعْلَمُ) لِعَدَمِ حَاجَتِهِ مَعَ عَدَمِ تَحْصِينِ الْمَرْأَةِ الْمُؤَدِّي غَالِبًا إلَى فَسَادِهَا وَبِهِ يَنْدَفِعُ قَوْلُ الْإِحْيَاءِ يُسَنُّ لِنَحْوِ الْمَمْسُوحِ تَشَبُّهًا بِالصَّالِحِينَ كَمَا يُسَنُّ إمْرَارُ الْمُوسَى عَلَى رَأْسِ الْأَصْلَعِ وَقَوْلُ الْفَزَارِيِّ أَيُّ نَهْيٍ وَرَدَ فِي نَحْوِ الْمَجْبُوبِ وَالْحَاجَةُ لَا تَنْحَصِرُ فِي الْجِمَاعِ وَلَوْ طَرَأَتْ هَذِهِ الْأَحْوَالُ بَعْدَ الْعَقْدِ فَهَلْ تَلْحَقُ بِالِابْتِدَاءِ، أَوْ لَا لِقُوَّةِ الدَّوَامِ تَرَدَّدَ فِيهِ الزَّرْكَشِيُّ وَالثَّانِي هُوَ الْوَجْهُ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ
(قَوْلُهُ: هَذِهِ الْأَحْوَالُ) أَيْ الْهَرَمُ وَمَا عُطِفَ عَلَيْهِ وَيَحْتَمِلُ رُجُوعَهُ إلَى قَوْلِ الْمَتْنِ فَإِنْ لَمْ يَحْتَجْ إلَخْ (قَوْلُهُ: فَهَلْ يُلْحَقُ إلَخْ) هَلْ الْمُرَادُ مِنْ هَذَا الْإِلْحَاقِ كَرَاهَةُ الِاسْتِدَامَةِ فَيُطْلَبُ مِنْهُ الطَّلَاقُ وَلَا يَخْفَى مَزِيدٌ بَعْدَهُ، أَوْ شَيْءٌ آخَرُ فَلْيُصَوَّرْ فَلْيُتَأَمَّلْ اهـ سم.
(قَوْلُهُ: فَهَلْ يَلْحَقُ بِالِابْتِدَاءِ) لَا يَخْفَى أَنَّهُ لَا يُتَصَوَّرُ الْإِلْحَاقُ بِالِابْتِدَاءِ فِي كَرَاهَةِ التَّزْوِيجِ الَّذِي كَانَ الْكَلَامُ فِيهِ لِوُقُوعِ التَّزَوُّجِ فَلَا يُتَصَوَّرُ بَعْدَ وُقُوعِهِ أَنْ يَنْهَى عَنْهُ فَهَلْ الْمُرَادُ مِنْ هَذَا الْإِلْحَاقِ كَرَاهَةُ الِاسْتِدَامَةِ فَيُطْلَبُ الطَّلَاقُ وَلَا يَخْفَى مَزِيدُ بُعْدِهِ، أَوْ شَيْءٌ آخَرُ فَلْيُصَوَّرْ فَلْيُتَأَمَّلْ


Artinya: Sulit menyamakan melanggengkan pernikahan dengan kemakruhan memulai akad nikah bagi orang yang makruh menikah seperti orang yang pikun, sakit yang tidak bisa diharapkan kesembuhannya. Karena akad nikah sudah terjadi, sehingga tidak bisa untuk dilarang.


الزَّوَاجِرُ عَنْ اِقْتِرَافِ الْكَبَائِرِ (2/ 61)
(الْكَبِيرَةُ الرَّابِعَةُ وَالْخَامِسَةُ وَالسَّبْعُونَ بَعْدَ الْمِائَتَيْنِ مَنْعُ الزَّوْجِ حَقًّا مِنْ حُقُوقِ زَوْجَتِهِ الْوَاجِبَةِ لَهَا عَلَيْهِ كَالْمَهْرِ وَالنَّفَقَةِ وَمَنْعُهَا حَقًّا لَهُ عَلَيْهَا كَذَلِكَ، كَالتَّمَتُّعِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ شَرْعِيٍّ)


Artinya: Dosa besar kedua ratus tujuh puluh empat dan dua ratus tujuh puluh lima adalah mencegahnya suami atas hak-hak istrinya, seperti mahar, nafkah. Dan mencegahnya istri atas hak-haknya suami, seperti bersenang-senang, tanpa ada udzur syara'.


Bahtsul Masail Terbaru