Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Ketum PBNU Ungkap Ancaman Serius Hadapi Era 5.0

Kh Said Aqil Siroj saat menyampaikan sambutan secara virtual di Haul Emas ke-50 KH Abdul Wahab Chasbullah. (Foto: Istimewa)
Kh Said Aqil Siroj saat menyampaikan sambutan secara virtual di Haul Emas ke-50 KH Abdul Wahab Chasbullah. (Foto: Istimewa)

NU Jombang Online, 
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj menyebutkan, era yang akan dihadapi masyarakat Indonesia bukan lagi era 4.0, tetapi beralih pada 5.0. Kondisi ini menurutnya berimplikasi pada tantangan dan ancaman yang makin beragam.

Hal tersebut disampaikan KH Said saat mengisi sambutan secara virtual dalam rangkan Haul Emas KH Abdul Wahab Chasbullah, Selasa (22/6) malam. 

KH Said menjelaskan, di era 5.0 peradaban digital menjadi keniscayaan. Dampaknya pada gaya hidup yang pasti berubah. Ketergantungan terhadap teknologi juga kian cenderung tinggi dan memaksa semua elemen masyarakat harus berbenah diri.

"(Untuk itu) Harus kreatif, harus cerdas, harus tanggap dengan segala perubahan. Mari kita kejar, kita masih ketinggalan jauh dalam hal ini," katanya.

Ancaman Karakter dan Moral

Di antara ancaman yang akan dihadapi masyarakat di balik era yang semakin maju ini adalah persoalan karakter dan moral bangsa. Dua hal itu akan cenderung ditentukan oleh keterbukaan komunikasi dan informasi. Karena dunia sudah mudah dijangkau, bahkan tanpa ada batas atau borderless, lantaran teknologi informasi yang semakin canggih.

"Kita ini nanti akan menjadi manusia global. Sehingga narasi radikalisme, liberalisme, dan lainnya mampu masuk secara intensif ke dalam setiap pribadi melalui berbagai platform," ungkapnya.

Era globalisasi mempermudah seseorang menerima informasi apapun, tak terkecuali paham radikal yang sengaja disebar pihak tertentu melalui platform digital.

"Apapun bisa dicari di dalam internet, manusia akan di cetak di situ, kepribadian, karakter dan jati diri akan hilang sebagai warga Ahlussunah wal Jama'ah atau warga bangsa Indonesia jika tidak berhati-hati dalam menggunakannya," jelasnya.

Perang Peradaban

Kiai Said mengungkapkan, dampak lain yang sekaligus menjadi tantangan yang tentu dihadapi oleh masyarakat adalah persoalan perang peradaban atau pengaruh. Saat ini bukan lagi perang fisik yang akan terjadi, tapi perang pengaruh. Hal ini dapat merebut dan menguasai cara berpikir masyarakat sehingga suatu bangsa akan tertunduk dan tergantung pada bangsa lain.

Perang ini lebih bahaya dari pada perang fisik. Dan ini sudah terbukti di Timur Tengah sedang tercabik-cabik eksistensinya dan kepribadiannya, karena tidak mampu menghadapi perang peradaban. 

"Di Tmur Tengah sudah terjadi perang saudara, sudah 40 tahun sesama Islam, sesama Arab. Alhamdulillah, Indonesia tidak seperti itu," beber KiI Said.

Pewarta: Rohmadi
Editor: Ahmad