Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Kisah Pengurus LTNNU Jombang Rintis Usaha Makanan ala Asia Timur

Dua saudara pengurus PC LTNNU Jombang yang berhasil merintis usaha makanan ala Asia Timur Tengah. (Foto: NU Jombang Online/Rohmadi)
Dua saudara pengurus PC LTNNU Jombang yang berhasil merintis usaha makanan ala Asia Timur Tengah. (Foto: NU Jombang Online/Rohmadi)

NU Jombang Online, 
Pekerja keras, pantang menyerah, dan selalu belajar dari kesalahan. Tiga sifat itulah yang tertanam dalam hati salah satu Pengurus Cabang Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (PC LTNNU) Jombang dalam menitih karir wirausahanya.

Mereka dengan susah payah membangun usaha yang menyajikan menu masakan ala Asia Timur seperti masakan ala China dan Korea. Usaha yang ia rintis bernama Sophia's Kitchen dengan alamat storenya di jalan Gubernur Suryo nomor 15 Jombang.

Uniknya kedai rumah makan ini dirintis oleh dua saudara kreatif asal putra daerah asli Jombang bukan orang luar negeri yang mendirikan rumah makan di Jombang.

Di balik jerih payah dan hasil usaha kerasnya, ada kisah yang menginspirasi bagi yang ingin membangun usaha secara mandiri.

Belajar berbisnis dari dua bersaudara ini, memulai wirausaha itu tidak mudah. Dibanding pekerjaan bergaji, berwirausaha itu membutuhkan semangat, kerja keras dan komitmen untuk menjalaninya. Sirkulasi pendapatan naik-turun. Hal itu yang dirasakan selama merintis usaha. Adakalanya pendapatan berlipat-lipat, terkadang pas-pasan, dan bahkan tidak ada pendapatan sama sekali.

Dinikmati dan disyukuri sambil terus menerus belajar membesarkan usaha sedikit demi sedikit. Hal itulah yang dilakukan Nur Fitriana Zuraidah dan Arif Fachrudin Achmad. Kakak beradik yang menggeluti usaha kuliner ini memulai usahanya dari nol. 

Keduanya kini cukup dikenal di Jombang dengan menu fusion dimsum, korean toast, dan burger. Usaha yang dinamakan Sophia Kitchen ini kini mulai berkembang menjadi usaha yang menjanjikan. Setiap harinya bisa meraup omzet 500 ribu hingga 1 juta rupiah.

Di tengah pandemi Covid-19 yang membabat habis perekonomian, mereka berusaha untuk tetap menjaga geliat produksi usaha untuk tetap bertahan. "Ketika memutuskan berwirausaha, dulu belum ada store. Saya memulai dengan menjual salad buah dengan aneka rasa saus. Tapi penjualan tidak selalu bagus. Satu hari bisa laku 10-30 porsi. Lalu besoknya bisa hanya 3 sampe 5 porsi saja. Atau bahkan tidak terbeli sama sekali," ujar Nur Fitriana Zuraidah, Selasa (1/6/2021).

Akhirnya, perempuan kelahiran Jombang, 1 Juni 1987 ini memutar otak, mencari jalan keluar untuk bertahan dengan usahanya. Di pikirannya, harus membuat sesuatu yang baru untuk bisa menggaet pelanggan. 

"Kebetulan saya suka banget makan dimsum. Saya dulu bekerja di Jakarta. Ada tempat dimsum yang saya suka. Warung kaki lima tapi rasanya juara," kata perempuan yang akrab disapa Fifi ini.

Kemudian ia mencoba mencari makanan kesukaannya itu di Jombang. Namun, ia tidak berhasil menemukan dimsum dengan rasa kesukaannya di Jombang.

Alhasil, ia mencoba bikin sendiri dengan belajar menyontek resep di YouTube. Ternyata juga tidak ada satupun yang pas di lidahnya.

Namun, usaha yang tak kenal lelah terus ia perlihatkan dengan terus mencari resep yang nendang. Berguru sama teman online dari Nepal yang memang piawai memasak dumpling.

Selama kurang lebih 4 bulan lamanya ia trial and error rasa dimsum yang pas sampai akhirnya ia temukan.

Menurut Fifi, awalnya sang kakak Arif Fachrudin Achmad belum memulai usaha bersamanya. Sang kakak bekerja di Jakarta. Namun setelah ayah mereka meninggal, sang kakak memutuskan untuk kembali ke Jombang sesuai pesan terakhir sang ayah. Jadilah mereka berdua memulai bisnis bersama.

"Fifi sudah jualan online waktu saya kembali ke Jombang. Tapi belum ada store. Dia masih jualan melalui Facebook dan Whatsapp. Pelanggannya masih orang terdekat. Kami kemudian mengubah konsep berjualannya. Harus ada store nih biar orang nggak bingung buat order. Saya bikinlah konsep jualan online dan offline. Kita mulai otak-atik instagram untuk pemasarannya," ungkap pria yang akrab disapa Rudi ini.

Berpromosi sendiri memang kurang gayeng. Lantas mereka berdua menggandeng influencer buat mempromosikan jualannya. Dari produksi hanya 500 gram, kini mereka sudah memproduksi 5 kg tiap hari. Dimsum yang tadinya hanya dipesan masyarakat Jombang, kini mulai meluas hingga ke luar kota.

Dimsum yang Fifi buat, dibekukan dan dikemas vakum. Pembelinya dari Lamongan, Sidoarjo, Jakarta, Gresik hingga Makassar. Karena meski tanpa pengawet, produknya bertahan hingga 3 hari di suhu ruang karena pembuatannya yang steril.

Tak cuma dimsum, Rudi yang juga mengaku hobi masak mulai meracik jajanan mengadaptasi jajanan kaki lima negeri Ginseng. Yakni korean toast. Roti panggang yang diisi dengan daging sapi ditambah irisan kol dan saus racikan buatan Fifi ini menggoyang lidah di setiap gigitan.

Menu itu pun mendapat respons positif dari masyarakat. Kini mereka juga tengah membuat menu baru, burger dengan kualitas wahid. Mereka membuat sendiri patty atau daging sapi isiannya tanpa campuran telur atau tepung. Intinya, patty burger harus juicy ketika digigit agar ngeblend dengan pelengkap burger yang lainnya.

"Kami ingin membuat rasa seotentik mungkin di setiap makanan yang kami jual. Harga harus sebanding dengan ekspektasi. Karena kami memposisikan diri sebagai konsumen ketika menjual makanan. Ibaratnya, kalau kita nggak mau makan makanan yang kita jual sendiri, bagaimana dengan konsumen?" beber Rudi.

Perjalanan bisnis tentu tidak melulu mulus-mulus saja. Kadang ada yang berkomentar kemahalan, kadang ada yang berkomentar nyinyir. Tapi semua itu menjadi pelecut semangat sekaligus koreksi dalam menjalankan bisnis mereka. Keduanya kompak mengatakan bahwa makanan yang dijual harus berkualitas dan aman dikonsumsi dari dewasa hingga anak-anak dan tentunya harus lezat.

"Berbisnis itu tujuannya memang cari untung. Tapi cari untung juga harus dengan benar dan tidak merugikan konsumen. Salah satunya dengan membuat makanan tanpa bahan penguat rasa, pengawet atau bahan kimia lainnya," jelas Rudi mengenai lika liku usahanya.

Ke depan, mereka ingin membuat kedai yang nyaman agar pembeli bisa langsung datang dan makan di tempat. Selama ini sekalipun ada store, pembeli hanya bisa order untuk dibawa pulang. Seiring berjalannya waktu, makin banyak yang menginginkan untuk makan di tempat.

"Semoga dalam waktu dekat kami bisa membuat kedai yang nyaman untuk pembeli," harapnya.

Dari pengalamannya ini, Rudi juga juga berpesan kepada para wirausaha pemula untuk terus semangat dan pantang menyerah. Kerja keras, ikhtiar diiringi dengan doa akan membuahkan hasil yang maksimal.

"Memulai usaha dari nol itu butuh effort, kerja keras sekaligus kesabaran. Tidak ada usaha yang begitu mulai langsung berhasil. Berkaca dari banyak pengusaha sukses, perkembangan sebuah usaha baru bisa dilihat setelah 5 tahun bertahan. Karena itu jangan pernah menyerah untuk memulai usaha. Berdiri di kaki sendiri," pungkas Rudi

Kontributor: Rohmadi
Editor: Ahmad