Home Warta Daerah Laporan Keuangan Bahtsul Masail Nasional Pengurus BMT NU Fiqih Opini Keislaman Amaliyah NU Khutbah Ekonomi Nyantri BMT NU

Seblak Tengker Irma, Jajanan Milenial di Mojoagung Laris Diserbu Pembeli

Seblak Tengker Irma, Jajanan Milenial di Mojoagung Laris Diserbu Pembeli
Seblak Tengker Irma, Jajanan Milenial di Mojoagung Laris Diserbu Pembeli. (Foto: NU Online Jombang/Siti Ratna Sari)
Seblak Tengker Irma, Jajanan Milenial di Mojoagung Laris Diserbu Pembeli. (Foto: NU Online Jombang/Siti Ratna Sari)
NU Online Jombang,
Mengetahui banyak karakter orang, menjaga kestabilan kondisi emosional pribadi, memberikan pelayanan yang ramah, serta selalu menjaga cita rasa atau porsi seblak adalah prinsip-prinsip yang selalu dipegang teguh oleh Irma, pemilik kedai Seblak.
 
Lokasi penjualan seblak, terletak tepat di belokan depan sebelah Timur Taman Mojoagung.
 
Irma merintis usahanya sejak 1 Februari 2017. Awalnya, ia berjualan seblak lantaran kebutuhan ekonomi yang mendesak. Sang suami harus melanjutkan sekolah pelayaran sehingga membutuhkan biaya yang cukup banyak.
 
"Jualan ini juga awalnya untuk membantu suami sekolah lagi, eh keterusan sampai sekarang. Saya juga tidak mau menjadi guru, makanya lebih seneng ke wirausaha," jelas Irma yang sebenernya memiliki gelar sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang lulus 2010.
 
Tengker yang digunakan sebagai nama kedai adalah nama kapal suami Irma yang pada waktu itu berlayar ke Hongkong. Harusnya suaminya turut serta, sayangnya ada sebuah masalah terjadi, sehingga sang suami tidak bisa berlayar dengan kapal itu dan harus pindah ke kapal yang lain.
 
Di tengah kesedihan dan kekecewaan yang dirasakan, Irma ingin mengenang dan mengabadikan nama kapal suaminya tersebut menjadi nama kedai seblaknya. 
 
"Sejak awal membuka kedai seblak ini, alhamdulilah banyak pelanggan yang setia membeli seblak di sini. Bahkan ada yang jadi pelanggan setia. Namanya Dini, sejak ia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai sekarang dia punya anak, dia selalu jajan seblak di sini. Karena itu, kami tidak membuka cabang lagi agar rasanya tetap asli," tutur Irma.
 
Menurut Irma, seblaknya berbeda dengan kedai-kedai seblak lainnya. Cita rasa seblak Irma otentik karena ia belajar membuat seblak dengan mertuanya yang asli Bandung. 
 
Jika biasanya isi dari seblak itu adalah sayuran, telur, kerupuk, ceker, salmon dan sebagainya, berbeda dengan Irma yang memiliki ciri khasnya sendiri. Seblak yang ia jual memiliki beberapa varian, yaitu seblak Bandung, Seblak Mie, seblak mix, seblak makaroni, dan seblak seefood yang merupakan varian terbaru. 
 
Tempat yang digunakan Irma juga merupakan wadah food grade agar tetap menjaga kesehatan dan kebersihan pada makanan. Hal tersebut tentu berbeda dengan seblak yang dijual di tempat lain yang hanya menggunakan plastik atau sterofoam.
 
"Pesan mama mertua saya, menjaga cita rasa dan tidak mengurangi porsi makanan itu hal yang penting. Itulah yang harus saya jaga sampai sekarang," jelasnya.
 
Irma menilai, sebagai penjual makanan, harus tetap menjaga kebersihan dari makanan tersebut, karena kita juga akan makan makanan itu nanti. Karena itu, selain menggunakan bahan berkualitas dan selalu menjaga kebersihan, seblak buatan Irma tidak menggunakan penyedap rasa seperti micin atau sejenisnya.
 
"Seblaknya itu enak, beda dengan seblak yang pernah saya beli. Apalagi, kadang ada kan tuh seblak yang isinya campuran dengan sayuran. Nah itu saya kurang suka, makanya sering kesini. Wadahnya juga praktis dan simple," ungkap Alisya, salah satu pelanggan Seblak Tengker Irma sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).
 
Banyaknya peminat seblak Tengker buatan Irma membuat perempuan kelahiran 11 Mei 1987 itu terus berinovasi. Salah satunya adalah dengan membuat varian seblak baru lagi, yaitu cuanki lidah. Tetapi ia harus mudik ke Bandung untuk belajar resepnya lagi kepada sang mertua.
 
"Iya nunggu suami selesai berlayar dulu, nanti kalau ada waktu mudik ke Bandung untuk belajar sama mama mertua," jelas Irma.
 
Harga Seblak Tengker Irma sangat terjangkau, yaitu dimulai dari 7 ribu rupiah hingga 10 ribu rupiah tergantung dari varian rasa yang kita pilih. Harga itu tentunya tidak akan menguras kantong untuk para konsumen yang kebanyakan dari kalangan pelajar.
 
"Dari awal harganya hanya 6 ribu rupiah terus naik jadi 7 ribu rupiah. Naiknya hanya sedikit tidak apa-apa yang penting lancar. Selain seblak, dulu saya juga jualan sempol, tapi karena sama-sama ramainya, saya tidak bisa mengatasi pesanan sehingga jualan Sempol kami hentikan," kata Irma.
 
Irma mengatakan, selain masyarakat Mojoagung, banyak konsumen yang datang dari luar Mojoagung, seperti Bareng dan Menturo. 
 
Biasanya ia menggunakan jasa kurir untuk mengirim makanannya, tetapi ia merasa tidak tega kepada pembelinya jika ongkos kirimnya lebih mahal, sekitar 30 ribu untuk sekali kirim. Karena itu, ia dibantu sang ayah untuk mengirim makanan tersebut dengan ongkos kirim yang lebih murah, yaitu 10 ribu rupiah.
 
"Pemasarannya hanya via WhatsApp dan dari mulut ke mulut. Kita belum sempat memasarkan menggunakan media sosial lainnya, karena tenaganya sedikit. Saya juga membuat frozen food, soalnya banyak sekali pesanan dari luar daerah seperti Jember, Tulungagung, Malang, dan Bengkulu," imbuhnya.
 
Dari berbagai kedai makanan yang ada, umumnya mereka juga menjual minuman. Tetapi, di kedai Seblak Tengker Irma Ini tidak. Irma sengaja tidak menjual minuman karena ia ingin berbagi dengan penjual minuman di sebelah kanan dan kirinya. Jika di kedai Irma ramai maka penjual minuman di sebelah kedainya pun akan ramai.
 
"Namanya hidup ya saling membantu dan berbagi saja. Kalau saya jual minuman juga nanti malah kemaruk (serakah.Red)," pungkasnya. 
 
Kontributor: Siti Ratna Sari
Editor: Nur Fitriana

Ekonomi Lainnya

terpopuler

rekomendasi