Home Opini Bahtsul Masail Amaliyah NU Khutbah Buku/Resensi Berita Nasional Hikmah Fiqih Humor Nyantri Ekonomi Bisnis Berita Daerah Info Grafis Mitra Tentang PCNU Program Foto Video MWC Ranting NU Pengurus PCNU

Hukum Puasa Sunnah di Bulan Sya'ban

Ilustrasi bulan Sya'ban. (Foto: www.nu.or.id)
Ilustrasi bulan Sya'ban. (Foto: www.nu.or.id)

Diceritakan oleh Imam Baihaqi dan Tirmidzi dari sahabat Anas :

افضل الصوم بعد رمضان شعبان لتعظيم رمضان وافضل الصدقة صدقة في رمضان .

Utama utamanya puasa setelah (selain) puasa Ramadhan adalah puasa Sya'ban demi untuk mengagungkan Ramadhan, dan utama utamanya sedekah adalah sedekah di bulan Ramadhan.

Namun, menurut pernyataan Syekh Zainuddin Almalibari dalam Fathul Mu'in, puasa Sya'ban setelah memasuki tanggal 16 ke atas (ba'da nishfi sya'ban) adalah haram, senada dengan sabda nabi:

إذا انتصف شعبان فلا تصوموا

Kecuali sebelum tanggal 16 tersebut sudah dilakukan puasa Sunnah atau sudah terbiasa puasa, maka yang demikian ini tidak haram.

Misalnya: ada orang sudah menjalani puasa sejak tanggal 12 Sya'ban sampai 27 Sya'ban, maka yang demikian ini tidak haram.

Atau ada orang sudah membiasakan puasa Senin Kamis, ternyata pada hari Kamis itu sudah tanggal 18 Sya'ban, maka yang demikian ini juga tidak haram.

Berbeda dengan puasa qodlo' Ramadhan yang dilakukan setelah nishfu Sya'ban, maka hal itu boleh, bahkan bila sampai datang Ramadhan masih punya hutang puasa Ramadhan, maka di samping masih berkewajiban qodlo' di kemudian hari, juga dikenai denda satu mud beras (679,79 gr atau digenapkan 7 ons) per hari sesuai jumlah hutangnya yang diberikan pada faqir miskin, bila hutangnya tiga hari, maka menyiapkan 7 ons kali tiga dan boleh diberikan pada satu orang faqir atau miskin. 

Wabillahittaufiq

Kiai M Sholeh, Wakil Rais Syuriyah PCNU Jombang