• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Rabu, 29 Juni 2022

Daerah

Karya Ulama Terdahulu Harus Digali dan Disampaikan kepada Generasi Penerus

Karya Ulama Terdahulu Harus Digali dan Disampaikan kepada Generasi Penerus
Karya Ulama Terdahulu Harus Digali dan Disampaikan kepada Generasi Penerus. (Foto: NU Online)
Karya Ulama Terdahulu Harus Digali dan Disampaikan kepada Generasi Penerus. (Foto: NU Online)

NU Online Jombang,
Perpustakaan Tebuireng dan Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Kabupaten Jombang bekerja sama dengan Digital Repository of Endangered and Affected Manuscripts in Southeast Asia (DREAMSEA) Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Webinar Nasional Khazanah Manuskrip Pesantren Tebuireng di perpustakaan Tebuireng. 


Dalam sambutannya Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz menerangkan, acara tersebut sangat penting utamanya dalam mengakses peninggalan, kekayaan serta keilmuan yang ada di perpustakaan Tebuireng khususnya.


"Acara hari ini sangat penting dan ini mungkin sering kita lakukan di Tebuireng ini, kita bahas bersama tim Tebuireng Institut (TI) untuk membahas bagaimana peninggalan-peninggalan itu bisa dipahami," terang Kiai yang akrab disapa Gus Kikin itu, Selasa (24/5/2022).


Gus Kikin menyebutkan, dalam kitab karangan Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari Risalah Ahlussunnah wal Jama'ah disebutkan pada tahun 1330 H banyak aliran-aliran yang baru masuk ke Indonesia.


"Pada waktu itu Islam sebelum 1330 H tepatnya 1912 M menganut satu paham yakni Ahlussunah wal Jama'ah dengan satu mahdzab Imam Syafi'i, tetapi setelah masuk aliran baru itu banyak sekali perdebatan. Sehingga dikhawatirkan Aswaja yang tadinya satu paham di Indonesia akhirnya terpecah, sampai saat ini pun masih banyak perdebatan-perdebatan," terang dia.


Ia menegaskan, pemikiran yang berbeda-beda tersebut penting untuk dicari sumbernya. "Maka ini sangat penting untuk digali kekayaan (sumber informasi) yang ditinggalkan ulama-ulama, mulai dari tabi'in-tabi'in dan Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari untuk menegakkan kembali keimanan kita," tegasnya.


Lebih lanjut, ia menjelaskan untuk meneguhkan kembali pemahaman ajaran-ajaran yang berkembang dan termasuk ajaran-ajaran yang berbeda, maka diperlukan penjelasan lebih detail, sehingga masyarakat bisa memahaminya dengan baik.


"Dalam memahami Apa itu Islam? Apa itu Ahlussunah wal Jama'ah? Apa bedanya ahlussunah wal jama'ah dengan modernisasi? Kita perlu mendefinisikan, kalau kita modernisasi itu yang digaungkan di akhir abad ke-19 bahwa Islam perlu modernisasi. Karena Islam mulai melemah, sehingga gelombang modernisasi mulai dari Mesir ke Arab mulai melanda sampai ke Indonesia," jelasnya.


Gus Kikin mengatakan, pada saat itu Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari menanggapi gelombang modernisasi tersebut.


"Beliau setuju dengan modernisasi, tetapi ajakan modernisasi untuk meninggalkan mahdzab itulah yang kemudian membuat beliau tidak sependapat. Maka kemudian beliau berpikir, bagaimana caranya agar Ahlussunnah wal Jama'ah di Indonesia tidak terpecah," kata dia.


Ia berharap, dengan melibatkan masyarakat luas bisa menggali lebih banyak pemahaman-pemahaman yang diwariskan oleh para ulama terdahulu. "Pemahaman mengenai Islam maupun Ahlussunah wal Jama'ah, karena sangat penting kita pahami supaya kita bisa melestarikannya dan bisa mewariskannya kepada generasi penerus dengan benar. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan pada hari ini mendapat rahmat serta berkah dari Allah swt," harapnya.


Kegiatan ini menghadirkan Principal Investigator DREAMSEA Prof Oman Fathurahman, Dosen Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Adib Misbachul Islam, Dosen Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Anang Firdaus, dan Pegiat Turats Tebuireng Variz Muhammad Mirza.


Daerah Terbaru