• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Selasa, 5 Juli 2022

Daerah

PESANTREN

Alasan Pesantren Tebuireng Dirikan Sejumlah Cabang dan Sederet Persyaratannya

Alasan Pesantren Tebuireng Dirikan Sejumlah Cabang dan Sederet Persyaratannya
Alasan Pesantren Tebuireng Dirikan Cabang dan Sederet Persyaratannya. (Foto: Istimewa)
Alasan Pesantren Tebuireng Dirikan Cabang dan Sederet Persyaratannya. (Foto: Istimewa)
NU Online Jombang, 
KH Fahmi Amrullah Hadzik (Gus Fahmi) menyampaikan, perkembangan Pondok Pesantren Tebuireng di luar Jombang semakin pesat sejak di bawah kepemimpinan almarhum KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah).
 
Pesantren yang didirikan oleh Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari pada tahun 1899 ini terus mengalami perkembangan hingga sekarang. Hal itu setidaknya ditandai dengan semakin banyaknya santri dan pendirian cabang-cabang Pesantren Tebuireng di luar Jombang. Sehingga nama Pondok Pesantren Tebuireng tidak hanya menggaung di Jombang saja, melainkan juga di berbagai penjuru nusantara.
 
“Dulu Tebuireng itu hanya di Tebuireng, sejak kepemimpinan Gus Sholah ada beberapa pondok dan ada beberapa orang yang ingin bergabung dengan kita, semacam mendirikan cabang. Kemudian ada Tebuireng 3 dan tebuireng 4, 5 di Riau Indragiri Hilir dan Indragiri Hulu,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng Jombang ini saat diwawancara di kediamannya, Senin (18/10/2021) sore. 
 
Tujuan utama mendirikan cabang Pondok Pesantren Tebuireng di berbagai wilayah ini tak lain adalah untuk memperluas syiar Islam di beragam penjuru.
 
Gus Fahmi menyampaikan, semua cabang Pondok Pesantren Tebuireng bersifat otonomi dari segi administrasi. Namun, kurikulumnya tetap mengikuti Pondok Pesantren Tebuireng yang ada di Jombang. Yakni mengajarkan ilmu alat, seperti nahwu dan shorof, kemudian ilmu fiqih, dan kajian kitab-kitab pesantren pada umumnya. 
 
“Yang namanya cabang ini mereka mandiri, artinya mulai dari administrasi atau keuangan semuanya di urus sendiri, hanya kurikulumnya saja yang adopsi dari Tebuireng. Dan kita mengirim ustadz 1-2 orang untuk mengawal kurikulum,” ungkapnya.
 
Diakuinya, pendirian cabang Pesantren Tebuireng sempat mandeg, karena pandemi Covid-19. Namun, ikhtiar pengembangan syiar Islam melalui pesantren itu belakangan kembali mulai dilakukan. 
 
Gus Fahmi memaparkan, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi masyarakat yang hendak mendirikan cabang Pesantren Tebuireng. Adanya syarat itu untuk menjaga nama Pesantren Tebuireng dan marwah pendiri serta para tokoh yang turut membesarkan Pesantren Tebuireng.
 
“Untuk menggunakan nama Tebuireng, mereka harus meneken MoU atau melakukan kesepakatan dan memenuhi syarat seperti, ber-Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, harus NU. Itu syarat wajib. Kalau misalkan di tengah jalan terjadi pelanggaran ya bisa kita batalkan MoU-nya,” pungkasnya.
 
Kontributor: Karimatul Maslahah
Editor: Ahmad 


Daerah Terbaru