• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Kamis, 20 Juni 2024

Amaliyah NU

DOA NABI

Ijazah Doa Nabi (2): 4 Bacaan Tasbih untuk Siti Juwairiyah, Mengungguli Zikir Lainnya

Ijazah Doa Nabi (2): 4 Bacaan Tasbih untuk Siti Juwairiyah, Mengungguli Zikir Lainnya
Ilustrasi Muslim sedang berdoa. (Foto: Freepik)
Ilustrasi Muslim sedang berdoa. (Foto: Freepik)

Pada suatu pagi, Rasulullah menginap di rumah Siti Juwairiyah. Nabi berpamitan untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah. Ketika itu, Siti Juwairiyah sudah dalam posisi berzikir dan qiyamullail dalam mihrab/mushala beliau. Saat Nabi kembali usai jamaah, Siti Juwairiyah masih dalam posisi berzikir. Tidak berubah, persis seperti saat Rasulullah berpamitan.

 

Lantas Rasulullah menanyakan, “Apakah engkau tetap seperti ini sejak tadi, saat aku berpamitan padamu? ”

 

Siti Juwairiyah mengiyakan. Lalu Rasulullah bersabda: “Aku ajarkan padamu empat kalimat, ucapkan sebanyak tiga kali. Bila kalimat ini dibandingkan dengan zikir yang kau baca sejak tadi, niscaya lebih unggul(Yaitu):

 
سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ


Dalam kitab Sahih Muslim, pemberian ijazah dari Rasulullah kepada istri beliau ini, dinyatakan dalam hadits nomor 2726:


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ جُوَيْرِيَةَ رضي الله عنها : " أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ مِنْ عِنْدِهَا بُكْرَةً حِينَ صَلَّى الصُّبْحَ ، وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا، ثُمَّ رَجَعَ بَعْدَ أَنْ أَضْحَى ، وَهِيَ جَالِسَةٌ ، فَقَالَ: (مَا زِلْتِ عَلَى الْحَالِ الَّتِي فَارَقْتُكِ عَلَيْهَا؟) قَالَتْ: نَعَمْ ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ ، ثَلَاثَ مَرَّاتٍ ، لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ الْيَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ


Hadits tersebut menunjukkan betapa gigih Rasulullah dan keluarganya dalam melaksanakan qiyamullail, zikir dan shalat jamaah. Sebuah keteladanan yang sepantasnya ditiru umat akhir zaman. Di saat orang banyak terlena dalam tidurnya, sepertiga malam terakhir itulah waktu mustajabah untuk berdoa. Juga selepas jamaah subuh hingga matahari terbit. Begitu pula keutamaan melaksanakan shalat subuh berjamaah bagi laki-laki.


Rasulullah memang menggilir waktu menginap bergantian antara istri-istri beliau. Sebagai wujud keadilan lahir. Rumah yang sebenarnya sangat sederhana. Hanya berupa bilik-bilik sempit yang dekat dengan pengimaman masjid Nabawi. Di masa sekarang, rumah-rumah istri nabi telah berada dalam area Raudlah Masjid Nabawi. 


Rasulullah melihat giatnya Siti Juwairiyah dalam berzikir. Saat beliau belum keluar untuk mengimami para sahabat, Siti Juwairiyah telah menetap dalam mihrabnya. Pun juga kala Rasulullah kembali ke rumah, Siti Juwairiyah tetap dalam posisi dan amalan yang sama. Bila dihitung perkiraan mulai qiyamullail pukul 02.00 hingga Rasulullah pulang ke rumah saat thulu’ (terbit matahari) pukul 06.00, maka total sudah empat jam Siti Juwairiyah berzikir.


Rasulullah lalu mengajarkan empat bacaan tasbih yang bobot amalnya setara dengan bacaan zikir Siti Juwairiyah yang berjam-jam itu. Redaksinya sebagai berikut:


سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، عَدَدَ خَلْقِهِ وَرِضَا نَفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْشِهِ وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ


Artinya "Maha suci Allah dan seraya memuji Allah (kemahasucian Allah) sebanyak jumlah makhluknya, sebanyak keridaan Allah (pada makhluk-Nya), seberat Asy-Nya, dan sebanyak jumlah tinta yang digunakan untuk menuliskan kalimat-Nya". 


Ijazah dari Rasulullah ini tentunya bukan dimaksudkan agar Siti Juwairiyah berzikir sebentar saja. Atau terbiasa dengan budaya instan. Bukan berarti pengorbanan sekecil-kecilnya untuk mendapat hasil sebesar-besarnya. Terdapat kaidah fiqih yang menyatakan bahwa amalan yang pengerjaannya lebih banyak, memiliki fadilah/keutamaan yang lebih banyak. Maa kaana aktsaru fi’lan, kaana aktsaru fadlan.


Sebagaimana informasi dari Rasulullah yang menyatakan bahwa fadilah Surat Al-Ikhlas bernilai sepertiga bacaan Al-Qur’an, bukan berarti menunjukkan bahwa membaca Surat Al-Ikhlas tiga kali itu setara dengan mengkhatamkan Al-Qur’an secara urut dari juz 1 hingga juz 30. 


Ijazah bacaan zikir dari Rasulullah ini menunjukkan ajaran dari Rasulullah tentang keutamaan zikir mudlo’af daripada zikir mujarrod. Zikir tasbih yang disertai dengan ucapan “sebanyak…”, lebih utama daripada zikir tasbih yang hanya mengucapkan lafal subhanallah tanpa tambahan apapun setelahnya. Tentunya, ucapan tasbih tersebut harus disertai dengan keyakinan akan tanzih/kemahasucian Allah, bersihnya Allah dari segala nuqshon/kekurangan. Nuqshon adalah hal yang tidak pantas ada pada Tuhan.


Ucapan tasbih yang disertai redaksi “sebanyak…”, bukan berarti membatasi kemahasucian Allah dengan jumlah tersebut. Bilangan hanyalah menunjukkan ekspresi bahwa kemahasucian Allah itu tidak terhingga. Tak terhitung jumlahnya. Andai saja ada kata untuk menunjukkan yang lebih banyak dari itu, niscaya digunakan.

 

Mari mengamalkan zikir yang banyak nabi ajarkan. Sembari memahami dan menghayati arti zikir yang dibaca. Senantiasa menyambungkan hati kepada Allah sang pencipta, hingga timbul ketentraman dalam jiwa.



*Ditulis oleh Akhmad Taqiyuddin Mawardi, Pengasuh Pesantren An-Nashriyah Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Redaktur Pelaksana Keislaman NU Online Jombang. 


Amaliyah NU Terbaru