• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Rabu, 17 Agustus 2022

Opini

Tawaran Harta dan Wanita Pun Ditolak Baginda Rasul Muhammad SAW

Tawaran Harta dan Wanita Pun Ditolak Baginda Rasul Muhammad SAW
Kaligrafi Arab Muhammad SAW. (Foto: wallpaperislami.com)
Kaligrafi Arab Muhammad SAW. (Foto: wallpaperislami.com)

Oleh: KH Abdul Nashir Fattah*

Ada banyak dan bermacam-macam rintangan dan hambatan yang selalu dan terus menerus datang bertubi-tubi menghadang menimpa perjuangan baginda Rasulillah SAW. Namun dengan kesempurnaan akal dan hati yang melekat pada diri beliau, maka semuanya bisa teratasi.
     
Adalah Utbah bin Rabi’ah, salah satu pembesar orang-orang kafir saat itu, datang menemui baginda Rasulillah SAW. Ia bertanya: “Hai Muhammad, lebih baik mana antara kamu dan Abdullah? lebih baik mana antara kamu dan Abdul Muththolib? Dan antara kamu dengan Hasyim?”. Semua pertanyaan teresebut tidak ada yang jawab oleh baginda Rasul SAW. Lalu ia berkata: “(Hai Muhammad), jika kamu menduga dirimu lebih baik dari mereka, maka (ketahuilah) bahwa mereka semuanya penyembah Tuhan-tuhan yang kamu caci maki itu”. 

Selanjutnya ia berkata (menawarkan harta benda yang melimpah ruah, dan wanita-wanita tercantik di saat itu) : “(Hai Muhammad), jika kamu menghendaki istri, maka pilihlah wanita-wanita Qurays (yang tercantik) dan aku nikahkan kamu dengan sepuluh wanita-wanita tersebut. Dan jika kamu menginginkan harta benda, maka akan aku kumpulkan harta benda orang-orang Qurays dan aku serahkan kepadamu, sehingga kamu menjadi orang terkaya di suku Qurays”. 

Semua yang ditawarkan oleh Utbah bin Rabi’ah tersebut ditolak oleh baginda Rasul SAW seraya membacakan 13 ayat dari surat “Fushshilat”:

 {حم. تَنْزِيلٌ مِنَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِْ. كِتَابٌ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ. بَشِيرًا وَنَذِيرًا فَأَعْرَضَ أَكْثَرُهُمْ فَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ}

“Hanya Allah SWT yang mengetahui makna yang hakiki dari lafadh “Hamim”. (Kitab yang) diturunkan dari Tuhan yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang (adalah:) kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni (berupa) bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui (untuk kaum yang mau memahami), (kitab itu adalah kitab) yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan mereka (orang-orang kafir tetap saja) berpaling (dari iman. Mereka tetap saja tidak mau beriman. Mereka tetap saja) tidak mau mendengarkan.” [QS. Fushshilat: 1-4]

Selanjutnya, pada ayat ke 13, Allah Swt berfirman:

{فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودْ}
    

"(kemudian, setelah itu,) jika mereka berpaling (dari iman, mereka tetap saja tidak mau beriman), maka katakanlah: "Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Aad dan Tsamud". [QS. Fushshilat: 13]

     
Kurang lebihnya demikian yang dikisahkan oleh sahabat Jabir bin Abdullah RA sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim Al Ashbihani dalam kitabnya “Dalail An Nubuwah”.
     
Setelah Utbah bin Rabi’ah mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang begitu indah, yang begitu mempesona, yang begitu menakjubkan, justru Utbah berubah pikiran dan kembali menemui orang-orang kafir Makkah seraya berkata dan berpesan kepada mereka: “Sungguh aku telah mendengarkan suatu ucapan. Sungguh ucapan itu bukan syi’ir, bukan sihir dan juga bukan tenung. Wahai kaumku, taatilah aku. Biarkan saja Muhammad melakukan apa saja yang ia ingin lakukan. Jangan kalian rintangi. Sunnguh ucapannya itu kelak akan menjadi berita yang menggemparkan”. 

Mendengar Utbah bin Rabi’ah berkata demikian, tidak seperti apa yang mereka inginkan dan harapkan, lalu mereka orang-orang Quraisy berkata: “Wahai Utbah, sungguh kamu telah terkena sihirnya Muhammad”. “Ini adalah pendapat saya, selanjutnya, terserah kalian”, demikian Utbah bin Rabi’ah menjawab. 

Wallahu a’lam bisshawab.

*Penulis adalah Rais Syuriyah PCNU Jombang


Editor:

Opini Terbaru