Home Warta Daerah Laporan Keuangan Bahtsul Masail Nasional Pengurus BMT NU Fiqih Opini Keislaman Amaliyah NU Khutbah Ekonomi Nyantri BMT NU

Menjadi Wali Harus Punya Sifat Qonaah

Menjadi Wali Harus Punya Sifat Qonaah
Pendiri Nahdlatul Ulama. (Foto: Istimewa)
Pendiri Nahdlatul Ulama. (Foto: Istimewa)

Barang siapa yang berkehendak meniti metode para wali (kekasih Allah), hendaknya mengaplikasikan sembilan nasihat. Harapannya hatinya dibukakan pintu-pintu pemahaman dan dadanya dicerahkan cahaya keilmuan.

Wasiat kedua, setelah taubat adalah qonaah.

Qanaah adalah kerelaan menerima sedikit pemberian. Qonaah berasal dari kata kerja lampau, qani'a. 

Sebagian ulama menyatakan, "Seorang hamba itu merdeka jika ia berlaku qana'ah." Sebaliknya, "Seorang yang merdeka itu menjadi hamba, ketika ia meminta-minta."

Hadits yang berkaitan dengan keutamaan qonaah ini melimpah. Di antaranya adalah riwayat al-Baihaqy, "Qana'ah itu adalah harta simpanan yang tidak musnah."

Dengan qonaah, tak akan membawa manusia ketertarikan pada apa yang dimiliki manusia lainnya.

Juga berdasar hadits yang artinya, "Orang yang qanaah itu derajatnya luhur. Sementara orang yang tamak (berharap pada pemberian orang lain) akan terhina."

Qona'ah itu dibangun di atas landasan zuhud dunia.

Sekaya apapun manusia, akhirnya ketika ia mati, harta bendanya tak dibawa mati. Semuanya ditinggalkan untuk para ahli waris. Harta yang halal pada akhirnya nanti di akhirat akan dihisab (dievaluasi), dan yang haram akan disiksa.

Hendaknya para manusia merelakan meninggalkan apa-apa yang dicenderungi hati, dan kebanggaan pada makanan, pakaian, dan hunian. Hendaknya ia rela pada apa yang sedikit, yang sekedar menghilangkan lapar, menutupi aurat, menangkal panas dan dingin.

Dikisahkan bahwa suatu saat Sayyidah 'Fathimah az-Zahra datang kepada ayahandanya (Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam) dengan membawa semangkok roti. Kemudian Rasulullah bersabda, "ia (roti) adalah hidangan pertama yang masuk dalam perut ayahmu ini, semenjak tiga hari lalu."

Barangsiapa yang mencari sesuatu yang tidak bermanfaat, maka ia akan kehilangan hal yang bermanfaat.

*Ustdz Yusuf Suharto, tim Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) NU Center Jawa Timur.

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi