• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Rabu, 17 Agustus 2022

Opini

Kiai Judi Ngatur Jiwa

Kiai Judi Ngatur Jiwa
Kiai Salim Masyudi. (Foto: NU Jombang Online/Mamluatun Ni'mah)
Kiai Salim Masyudi. (Foto: NU Jombang Online/Mamluatun Ni'mah)

Seorang kiai yang memiliki nama asli Salim Masyudi, tercatat sebagai kiai di kampungku dengan panggilan Pak Judi, karena sebagian masyarakat kampung setempat lidahnya sulit mengucapkan huruf “Y”, maka secara alami "Y" menjadi “J”. Adapun panggilan “Pak” karena beliau pertama kali dikenal pada saat mengajar di lembaga pendidikan. Kiai sepertinya lebih banyak mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan sehari-hari daripada berbicara, lebih mudah dalam bergaul dengan siapa pun terutama santri. Memiliki sifat “halim” yaitu santun dan berharap semua santrinya menjadi orang yang hebat, bahkan tidak merasa dirinya menjadi guru.

Pak Judi (46 tahun) sudah sekitar 33 tahun mulai ngaji (ngatur jiwa), pertama kali yaitu ngaji Al-Qur'an pada kakeknya yang bernama Mbah Herman termasuk murid ngaji kiai alim di Desa Gondek yaitu Kiai Umar yang setingkat dengan KH Hasyim Asy'ari. Lalu mengenal pondok pesantren sejak duduk di bangku kelas 5 MI (Madrasah Ibtidaiyah) sekitar tahun 1987, mengaji kitab salaf/kuning pertama kali kepada Gus Abdul Mujib. Beliau juga menekuni dan mendalami ilmu yang terdapat di kitab-kitab seperti ilmu tajwid dan qiraat (Sifaul Jinan, Gharibul Kalimah), nahwu sharaf, usul fiqih (Nahul Wadih, Jurumiyah, dan sebagaianya), syariat/fiqih (Mabdiul Fiqih, Fathul Qarib, Bulughul Marom), tauhid teologi (Aqidatul Awam, Quthrul Ghois, dan lainnya), tasawuf/akhlaq (Ta’lim Muta’alim, Bidayatul Hidayah, dan lain-lain), Tafsir Al-Qur'an (Tafsir Jalalah, Yasin, dan Ibnu Katsir). Di antara guru yang pernah mengajarinya yaitu KH Khomari Sholeh pengasuh Pondok Pesantren Nurul Quran, Jogoroto, Jombang. KH Masyhuri Azhar pengasuh Pondok Pesantren Al-Madinah Tebuireng, Diwek, Jombang. KH Kholil Syafii pengasuh Pondok Pesantren Ngerumek, Karang Kedawong, Suko, Mojokerto dan lain sebagainya.

Ketika Pak Judi duduk di bangku MA (Madrasah Aliyah) pernah mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ) Bahrun Naafi Mojowarno dilanjutkan pada tahun 1997 di Pondok Pesantren At-Taufiq Bogem, Pondok Pesantren Khoiru Ummad Mojowarno, Pondok Pesantren At-Tholib Wonosalam, Pondok Pesantren Al-Madinah Tebuireng. Tahun 2006, beliau menikah dengan gadis cantik asal Wonosalam dan dikaruniai dua orang putra serta satu putri.

Kemudian Kiai Judi menetap di daerah tersebut sambil memberikan pengajian kepada masyarakat Wonosalam. Dalam berdakwah Pak Judi tidak merasa ada hambatan, karena pengajian itu terselenggara atas permintaan jamaah dari majelis taklim yang ada di lingkungan tempat tinggal beliau. Pak Judi mengajar ngaji rutin di Wonosalam kurang lebih 6 majelis taklim, sedangkan di Mojowarno 4 majelis taklim. Beliau berdakwah dengan niat yang tulus tanpa mengharapkan imbalan apapun dari jamaah. Jadi setiap ada permintaan berdakwah beliau langsung berangkat dengan penuh semangat tanpa mengenal lelah.

Adapun alasan beliau menjadi pendakwah karena menginginkan masyarakat lingkungannya mau belajar menambah ilmu pengetahuan dan lebih memahami agama, yang tentunya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari menurut syariat Islam, serta ibadah menjadi lebih sempurna dan ibadah dapat diterima Allah SWT. Sehingga segala kemaksiatan dan kekeliruan dalam beribadah bisa diminimalisir. Dengan adanya dakwah beliau, banyak masyarakat yang antusias untuk mengikuti pengajian dan mengarahkan anak-anak untuk mengaji.

Semangat berdakwah bisa dilihat dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 104 dan 110 serta hadis Nabi tentang hidup yang berguna yaitu “Khairunnas Anfa’uhumlinnas” yang artinya sebaik-baik manusia bisa memberi manfaat pada orang lain.

Dalam perjalanan dakwahnya tentu ada pernak-pernik yang beliau rasakan seperti jatuh bangun dalam kehidupan misalnya, pertama kali mengisi dakwah dalam kelompok pengajian yasinan, tidak menyadari kalau dakwahnya kurang diterima oleh sebagaian jamaah, dibuktikan dengan para jamaah yang tidak memerhatikan bahkan sambil batuk-batuk sampai pertemuan yang ke-7 selama dua bulan, jamaah pun mulai berkurang bahkan lima puluh dari tujuh puluh orang tidak hadir, disitu mulai disadari dan akhirnya memutuskan tidak berdakwah di kelompok itu lagi. Ketika beliau sudah tidak berdakwah di kelompok itu lagi jamaah yasinan kembali banyak seperti semula.

Pada saat dakwah rutin di masjid, tiba-tiba lampunya mati padahal listrik tidak padam, kebetulan lampu tersebut satu saluran dengan masyarakat yang tidak suka ada pengajian di masjid. Akhirnya Pak Judi bilang kepada jamaah yang hadir di pengajian tersebut “Sing penting panjenengan sedaya taksih kepireng suanten kula”. (yang terpenting kalian semua masih mendengar suara saya). 

Setiap bulan Ramadhan beliau mengimammi salat tarawih juga mengisi tausiah seperti kultum. Pada suatu saat sedang salat tarawih berlangsung tiba-tiba jamaah dikejutkan oleh ledakan suara petasan di luar masjid, saat itu ada perempuan pulang dari masjid untuk buang air kecil, di saat perjalanan pulang masih sekitar masjid bertemu dengan orang yang menyalakan petasan itu, perempuan tersebut menanyakan mengapa dia menyalakan petasan di dekat masjid sedangkan masyarakat sedang melakukan salat, dalam percakapan itu orang tersebut mengaku kalau dia disuruh orang lain dengan tujuan mengganggu ibadah salat tarawih. Gangguan lain yang pernah dialami juga ketika berdakwah di dalam masjid tiba-tiba di halaman masjid ada yang sengaja membunyikan klakson dengan sangat keras, sehingga ngajinya diberhentikan karena suara beliau tidak kedengaran. itulah gangguan beliau dalam berdakwah namun tidak mengurangi semangat beliau tetap berdakwah.

Sampai saat ini masyarakat menerima Pak Judi sebagai pendakwah. Karena pengabdian beliau terhadap masyarakat, yang awalnya memiliki sebutan Pak Judi menjadi Kiai Judi. Kiprah Kiai Judi dalam berdakwah di kampung sangat disantuni oleh para jamaahnya sehingga para jamaahnya semakin banyak. 

Menyimak dari pengalaman Kiai Judi dapat diambil pelajaran bahwa selama nafas kita masih bisa berhembus, jangan sampai meninggalkan ngaji (ngatur jiwa). Yang nantinya ilmu itu menjadi langgeng sampai akhir hayat bak harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan cerita dan amal kebaikan.

 

Penulis: Mamluatun Ni'mah, juara 3 lomba Menulis Feature PC LTNNU Jombang


Editor:

Opini Terbaru