• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Selasa, 16 Agustus 2022

Opini

Ketika Rumah Si Miskin Jadi Jujukan Unta Rasulullah

Ketika Rumah Si Miskin Jadi Jujukan Unta Rasulullah

Oleh Ali Makhrus*
Ketika rasulullah memasuki kota madinah untuk berhijrah, sambutan masyarakat Madinah begitu antusias. Sehingga banyak warga berharap beliau akan singgah ke rumah mereka. saat itu beliau mengendarai unta. Dan para kabilah dan berbagai suku langsung mengundang beliau ke rumah masig — masing. Mereka saling berebut kendali unta beliau.

Salah seorang dari mereka berkata, “Ya Rasulallah, kami memiliki banyak anggota suku dan harta. Kami akan menyediakan fasilitas itu untuk menjamu anda. Karena itu kami mohon sudilah kiranya Anda singgah di rumah kami”.

Rasulullah saw lalu berkata, “Agar lebih adil, aku menyerahkan keputusan pada unta ini. Dimana dia berhenti, di situ aku akan mampir !”

Beliau lalu melanjutkan perjalananya mengelilingi Madinah sambil menunggang unta. Tak lama kemudian, unta itu berhenti dan duduk di depan rumah Abu Ayyub Al Anshori. Ia adalah penduduk Madinah yang paling miskin.

Abu Ayyub sangat gembira karena ia mendapatkan kehormatan. Rumahnya yang kumuh terpilih untuk isinggahi Rasulullah saw. ia segera membawa perelngkapan Rasulullah saw masuk ke dalam rumah. Lalu ia memberikan pelayanan terbaiknya kepada Rasulullah saw.

Meskipun Abu Ayyub seorang yang miskin, catatan perjuangan dan kecintaanya terhadap Rasulullah saw sangat tinggi. Terbukti, ia telah mengikuti banyak perang. Setelah menang pada perang Khaibar, dalam perjalanan pulang ia selalu menjaga perkemahan Rasulullah saw. ketika waktu sholat subuh tiba, Rasulullah saw berkata, “Siapa yang ada di luar kemah ini?”

Abu Ayyub menjawab, “Saya Abu Ayyub Al Anshori”. Rasulullah lalu bersabda, “Semoga Allah mencurahkan rahmatnya padamu”!.

Wallahu alamu bis showab. Semoga bermanfat.

Dioalah dari berbagai sumber:
Ariany Syurfah, 365 Kisah Teladan Islam; Sehari Satu Kisah Selama Setahun, Cet-1, Jakarta: Penebar Swadaya, 2010, hal 88).

*Penulis adalah warga NU asal Madiun, Jawa Timur


Editor:

Opini Terbaru