• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Rabu, 17 Agustus 2022

Opini

Adakah Hari Kasih Sayang dalam Islam?

Adakah  Hari Kasih Sayang dalam Islam?
Ilustrasi
Ilustrasi

Cinta dan kasih sayang memang sesuatu yang begitu menarik bagi manusia. Apalagi pada muda-mudi yang sedang dalam proses menuju dewasa, gairah dan emosi kian meluap-luap, ketertarikan pada lawan jenis, dan kebutuhan akan menyayangi dan disayangi yang semakin menjadi. Valentine day atau biasa disebut sebagai hari kasih sayang menjadi moment yang begitu special bagi mereka atau kebanyakan orang, mulai dari pemberian coklat, bunga, boneka, atau sekedar menjadi moment pengutaraan isi hati sampai. 

Valentine day, atau kebanyakan orang mengartikan sebagai hari kasih sayang diperingati setiap tanggal 14 Februari ini dipercaya sebagai suatu hari yang sakral dalam agama Kristen. Konon beberapa sumber menyebutkan bahwa hari tersebut merupakan hari kematian seorang pendeta/pastur yang bernama santo Valentinus, dimana ia harus menerima hukuman mati karena membantu serdadu-serdadu Romawi menikah yang mana mereka sebenarnya dilarang menikah oleh Kaisar Claudius II. Sumber lain menyebutkan bahwa sore hari sebelum ia mati sebagai martir (orang suci dalam ajaran katolik), ia menulis sebuah pernyataan cinta kecil yang diberikannya pada sipir penjaranya, dengan ditulis “dari valentinusmu”. Oleh sebab cinta itulah, 14 Februari kemudian dikenal dengan hari  valentine atau hari kasih sayang.

Adapun berkaitan dengan peringatan agama lain itulah, MUI sendiri tiap tahunnya selalu mengeluarkan fatwa larangan untuk merayakan hari Valentine. Demi menjaga generasi Muslim agar tidak melakukan perbuatan yang dilarang agama. Sebab tradisi perayaan valentine kini tidak hanya sekedar tukar kado atau pengutaraan isi hati saja, namun juga merambat pada kontak fisik hingga tidak jarang terjadi zina. Hal tersebut terbukti pada beberapa daerah yang sampai mengintruksi toko-toko penjual alat kontrasepsi agar tidak menjualnya secara sembarangan.

Namun, sebenarnya adakah hari kasih sayang dalam islam sendiri?

Ternyata dalam islam pun terdapat hari kasih sayang. Hal tersebut dituturkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW, hari kasih sayang ini disebut dengan istilah “yaumul marhamah”. Sejarah mengenai yaumul marhamah ini ialah ketika moment Fathu Makkah yakni pada tanggal 10 Ramadhan pada tahun 8 Hijriah, yang bertepatan pada tahun 630 Masehi. Ketika itu, Nabi beserta umat Muslim kembali menghadapi kaum kafir Quraish yang dulunya membantai Nabi demi merebut kota Makkah, kota suci umat Islam. Kaum kafir ketakutan akan pembalasan Nabi atas perbuatan mereka pada beliau, hingga mereka menyebut hari itu sebagai yaumul malhamah/hari pembalasan, tentunya sebelum mereka tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Di tengah fikiran mereka yang berkecamuk tentang hukuman apa yang akan ditimpakan Nabi pada mereka, Nabi malah mengatakan “inna hadzal yaum laisa yaumul malhamah, walakinna hadzal yaum yaumul marhamah” (sesungguhnya hari ini bukanlah hari pembalasan, melainkan hari ini adalah hari kasih sayang)

Nabi Muhammad SAW mendeklarasikan dalam peristiwa Fathu Makkah sebagai hari kasih sayang. Tidak terjadi pembalasan berdarah-darah yang sebelumnya ada di fikiran kaum kafir Quraisy. Mereka dimaafkan bahkan diberikan harta rampasan perang yang seharusnya dimiliki oleh umat Muslim. 

Demikianlah wujud hari kasih sayang dalam sejarah islam. Nabi Muhammad telah diutus sebagai Rasul untuk membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin). Tidak hanya sesama Muslim, namun kepada non-Muslim pun Islam mengajarkan untuk saling menyayangi khususnya dalam artian membela yang lemah. Dalam peristiwa fathu Makkah, kaum kafir sedang dalam posisi lemah dan Islam sedang berada dalam puncak dakwah nabi. Nabi tidak mengajarkan untuk membalaskan dendam kepada musuh, melainkan memaafkan dan berbuat baik pada mereka. 

Dalam Al-Qur’an, salah satu kisah serupa ialah juga terjadi pada zaman Nabi Yusuf. Yang mana Nabi Yusuf As bertemu kembali dengan saudara-saudaranya yang telah mendzalimi beliau. Namun Nabi Yusuf memaafkan mereka dan mengasihi mereka. Di dalam surat Yusuf ayat 92 yang artinya “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia maha penyayang diantara para penyayang”, bukti bahwa agama Allah yang dibawa oleh para nabi merupakan agama yang penuh kasih sayang dan cinta.

Maka dari itu, sebisa mungkin kita jangan sampai kehilangan kasih sayang, karena kita akan dikasihi jika mengasihi(  من لا يَرحم لا يُرحم). Sebagaimana Rasulullah SAW telah mengajarkan pada kita untuk saling menyayangi dan mengasihi sesama manusia. Hari kasih sayang dalam Islam di sini tidak hanya dalam konteks sempit pada lawan jenis, namun mencakup makna yang lebih luas, yakni kepada sesama manusia, pada orang tua, anak kecil, orang lemah, pada lingkungan, bahkan musuh sekalipun. Everyone and everytime

Bahkan terdapat sebuah kutipan berbunyi "من لم يرحم الرجل السوء فهو اسوأ منه حالا “, yang artinya barang siapa tidak menyayangi seorang yang jahat, maka ia lebih jahat darinya. Jika saja sulit bagi kita untuk menyayangi, hendaknya kita mendoakan kebaikan pada sesama, termasuk kepada orang-orang yang berbuat dzalim dan maksiat, doakan agar mereka segera bertaubat sebagaimana termaktub dalam QS. Asy-Syuro ayat 5, bahwa malaikat selalu meminta ampun kepada Allah untuk manusia yang ada di bumi.

Begitulah islam hadir sebagai agama yang penuh cinta dan kasih sayang. Tidak hanya sehari saja sebagai hari kasih sayang, namun hakikatnya kasih sayang dalam islam telah menjadi ajaran bagi umatnya. Everytime and everyone, setiap saat dan kepada siapapun, sudah menjadi keharusan untuk hidup dengan kasih sayang. Karna islam adalah agama rahmatan lil alamin, rahmat bagi alam semesta.

 

Penulis: Dinda Zulaikhah, Aktivis IPPNU di Institut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto

 


Editor:

Opini Terbaru