• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Jumat, 27 Mei 2022

Nyantri

Rais NU Jombang: Ini Cara Hadapi Murid yang Susah Paham

Rais NU Jombang: Ini Cara Hadapi Murid yang Susah Paham
Rais NU Jombang: Ini Cara Hadapi Murid yang Susah Paham. (Foto: Istimewa)
Rais NU Jombang: Ini Cara Hadapi Murid yang Susah Paham. (Foto: Istimewa)

NU Online Jombang,

Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur KH Abdul Nashir Fattah memberikan tips untuk seorang guru yang menemukan muridnya tidak pintar dan susah diatur, agar guru yang bernasib demikian tidak tersiksa batinnya.

 

"Dalam hal mengajar, jangan melihat kualitas peserta didik. Cukup niatkan dalam diri untuk memberi pengetahuan kepada mereka. Sehingga jika ada peserta didik yang tidak pintar atau belum faham, tidak muncul kegelisahan dalam hati," katanya saat pengajian rutinan di Pesantren Al-Fathimiyah Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Senin (25/2).

 

Lanjutnya, seorang guru perlu menanamkan pula dalam hatinya bahwa murid mendapatkan ilmu semata-mata karena pemberian Allah SWT. Guru hanya jadi wasilah atau lantaran saja. Hal ini penting agar para guru terhindar dari sifat sombong bila muridnya sukses dan tidak sakit hati bila muridnya bodoh.

 

"Perlu menata niat saat mengajar, niat yang baik yaitu khidmat pada murid dan mengamalkan ilmu. Hak murid mendapatkan ilmu harus disalurkan dengan baik, walaupun butuh kesabaran ekstra," tambahnya.

 

Kepala Madrasah Muallimin Muallimat 6 Tahun Bahrul Ulum ini menyebutkan, seorang guru haruslah berperan sebagai pemberi informasi yang sudah turun temurun didapatkan dari rantai sanad keilmuan yang jelas, hal ini Untuk menjaga kemulian ilmu itu sendiri dan inilah arti pentingnya sanad keilmuan.

 

"Mengajar adalah hal mulia. Baik di sekolah maupun pesantren, orang tua dari murid atau santri menitipkan anak mereka untuk diajar. Sudah seharusnya sebagai guru hendaknya menata niat untuk berkhidmah dengan ikhlas. Dengan begitu, guru melaksanakan apa yang telah diperintakan Allah SWT," paparnya.

 

Ilmu ibarat air yang mengalir melalui pipa, murid sebagai gelas, dan guru sebagai pipa. Air jernih akan tetap jernih jika gelas dan pipanya bersih. Begitu pula ilmu, bukan hanya murid yang hatinya harus bersih, namun guru sebagai 'pipa' yang menyalurkan ilmu juga harus bersih. Sehingga kejernihan ilmu tersebut dapat didapatkan oleh murid.

 

"Guru saya Sayyid Muhammad Alawi pernah berpesan, ilmuku ini tidak banyak, aku ya bukan ahli puasa. Namun aku memiliki harapan untuk bisa terus berkhidmah. Dengan begitu, kita tidak hanya melakukan proses pertukaran ilmu, namun juga untuk saling tolong menolong antar sesama, dalam konteks ini ialah guru dan murid," ungkap Kiai Natsir.

 

Kiai Natsir juga berpesan pada para murid untuk menjaga niat mencari ilmu, niat utama yaitu mencari ridlo Allah dan menghilangkan kebodohan, Sehingga dirinya kembali bisa membantu masyarak sekitar.  

 

"Belajar di pondok jangan bertujuan mencari kepintaran. Sekarang banyak orang pintar, namun hanya peduli dengan dirinya sendiri. Jadilah seseorang yang tanggap. Tanggap akan masalah yang menimpa disekitar, tanggap kapan saatnya berbicara, kapan saatnya diam," ujarnya. 

 

Tanda ilmu murid yang bermanfaat atau tidak, maka bisa dilihat dalam ucapannya. Orang yang berilmu dan manfaat tidak mudah berbicara tanpa menimbang dampak apa yang dibicarakan. Hal itu pertanda ilmunya manfaat dan barokah karena sangat berhati-hati.

 

"Sekarang banyak orang pintar tapi tidak bisa menjaga ucapannya, itu berarti ilmunya tidak manfaat," tandasnya. (Syarif Abdurrahman)

 

Sumber : NU Online


Editor:

Nyantri Terbaru