• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Rabu, 28 Februari 2024

Nasional

Kisah Titik Balik Gus Iqdam, Dapat Hidayah karena Kiai Munif Djazuli (Bagian 2)

Kisah Titik Balik Gus Iqdam, Dapat Hidayah karena Kiai Munif Djazuli (Bagian 2)
Gus Iqdam. (Foto: NU Online Jatim)
Gus Iqdam. (Foto: NU Online Jatim)

NU Online Jombang,

Ketika mondok di Queen Al Falah Ploso, awalnya Gus Iqdam tidak krasan. Menderita penyakit kudis saja langsung ingin boyong ke rumahnya. Kata dia, intinya, mondok itu suatu hal yang melelahkan. 

 

Ketika kelas 2 SMA, Iqdam mengumpulkan uang untuk membeli knalpot motor saat liburan Pesantren. Akhirnya, saat pulang malah ingin boyong. Namun kata abahnya tidak masalah, asalkan lulus dari pesantren, maka akan dibelikan motor bahkan mobil.

 

"Jadi dari situ saya ngaji beneran, tidak pengen pintar tidak pengen pandai, tapi pengen motor. Lalu ingin segera pulang ke rumah dan trek-trekan," katanya sebagaimana video yang diunggah channel YouTube NU Kota Blitar, ditulis NU Online Jombang, Ahad (03/12/2023).

 

Ternyata takdir Allah itu luar biasa. Iqdam yang nakal itu, saat kelas 3 SMA diajak teman-temannya untuk menjadi tim sukses kelulusan satu angkatan. Tim itu bertujuan bagaimana caranya agar bisa lulus bareng. Kebetulan mayoritas siswa SMAN 1 Mojo adalah santri Queen Al Falah.

 

Di pesantren, ia memiliki Kiai Munif Djazuli. Kata Gus Iqdam, mondok 3 tahun di sana belum pernah ketemu. Sungkem saja belum pernah. Dari situ, ia mempunyai cita-cita sungkem dan sowan kepada Mbah Yai Munif. 

 

"Mendekati ujian, Mbah Yai sakit. Tiba-tiba Mbah Yai dirujuk ke rumah sakit di Surabaya. Semua putra-putrinya ke Surabaya, santri-santri setiap hari istighosah mendoakan Mbah Yai Munif itu. Tiba-tiba di suatu hari, hati saya tergugah, 'Mbah Yai Munif itu sakit, masa saya belum pernah meminta restu?'," ujarnya.

 

Di tengah-tengah kekhawatirannya itu benar-benar terjadi. Esok harinya, Mbah Yai Munif meninggal dan diumumkan ke santri-santri. Gus Iqdam yang waktu itu jadi koordinator angkatan agar lulus tepat waktu, langsung down

 

Ia bergumam dalam hati, "Mbah Yai Munif ini orangnya kharismatik. Banyak orang penting sowan kepadanya. Lha saya koordinator angkatan kok bisa-bisanya belum sowan kepadanya, dari mana doanya?"

 

Secara sengaja, ia langsung menghampiri pengurus pesantren yang membawa HP, lalu ia pinjam dan dibawa ke kamar mandi. Sembunyi ke dalam kamar mandi dan ia telfon kakaknya, Gus Dalhad. Seketika itu menangis. 

 

Dalam tangisan itu, pikiran yang dipenuhi ngaji karena ingin motor dan lain-lain seketika luntur. Ia merasa tidak punya cita-cita sama sekali. 

 

"Mas, saya kalau tidak jadi apa-apa ini bagaimana?," kata Gus Iqdam

 

"Kenapa dek? Ada apa?," kakaknya menanggapi.

 

"Mbah Yai Munif meninggal," jawab Gus Iqdam.

 

"Sudah tidak apa-apa, besok sowan ke putranya," kakanya menenangkan.

 

Singkat cerita, setelah kejadian itu, ia tergugah sowan ke putra kiai atas saran kakaknya. 

 

Waktu itu pula, Gus Iqdam menjadi panitia pemakaman Kiai Munif. Tidak henti-hentinya ia menangis saat prosesi pemakaman. Dari situ, setiap hari, ia mengirimkan doa kepada Kiai Munif. 

 

Inilah menurut dia ajaibnya berkah. Seorang Iqdam yang awalnya mondok 3 tahun lalu pulang, akhirnya malah ingin mondok lagi. Yang pada awalnya tidak suka dunia pesantren, malah ingin lama mengabdi.

 

Maka ia sering berpesan, meskipun digandrungi ribuan jamaah, tempat pertama kali ia mendapat hidayah adalah di Queen Al Falah. 


Editor:

Nasional Terbaru