• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Neraca BMTNU Nasional Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Nasional

Halaqah Fiqih Peradaban, Dosen UINSA Ceritakan Perjuangan Kiai Tambakberas Melawan Penjajah Belanda

Halaqah Fiqih Peradaban, Dosen UINSA Ceritakan Perjuangan Kiai Tambakberas Melawan Penjajah Belanda
Dr Ainur Rofiq Al Iman saat menjelaskan perlawanan para Kiai di era kolonial (Foto: Source Youtube Tambakberas TV)
Dr Ainur Rofiq Al Iman saat menjelaskan perlawanan para Kiai di era kolonial (Foto: Source Youtube Tambakberas TV)

NU Online Jombang,

Pengasuh Ribath Al Hadi Bahrul Ulum, Dr Ainur Rofiq Al Amin mengatakan, Mbah Wahab dikenal memiliki banyak pemikiran tentang kebangsaan dan Indonesia. Tapi tak hanya itu, sikap dan perilakunya di masa kecil bahkan memiliki sumbangsih perlawanan dalam memperjuangkan Indonesia. Hal ini disampaikannya dalam Halaqah Fiqih Peradaban di Aula Lantai 2 Kantor Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang.

 

Kiai Tambakberas, menurut Kiai Rofiq, dalam melakukan perlawanan sebelum kemerdekaan itu bisa dibagi menjadi 2. Yaitu, kooperatif dan nonkooperatif. 

 

Ia menambahkan, nonkooperatif artinya Kiai itu melakukan perlawanan secara fisik. Terbukti dengan kisah Mbah Sechah, beliau adalah anak buah panglima dari pasukan Diponegoro yang ditempatkan di Monconegoro Timur. 

 

"Dia bersama pasukannya dikirim ke daerah-daerah untuk melawan penjajah. Kemudian setelah Diponegoro tertangkap, beliau mengadakan pelatihan atau pengkaderan untuk mendidik keilmuan para santri. Ini yang saya sebut dengan kooperatif," ujar pria yang juga merupakan Dosen Pemikiran Politik Islam Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya ini, Sabtu (12/11/2022).

 

Mbah Sechah, lanjutnya, tidak hanya terkenal dengan sebutan pejuang atau pahlawan tapi juga Kiai. Saat pondok sudah mulai besar, ternyata antek-antek Belanda mengintai kekuatan warga pribumi sehingga menjadi lemah. 

 

"Antek Belanda yang memprovokasi kepada pasukan Belanda kemudian mengirim utusan datang ke Tambakberas dengan mengejek Mbah Sechah. Kemudian, Mbah Sechah yang terkenal dengan gertakannya, menggertak si Belanda hingga mati. Itu gertakan bersejarah," terangnya.

 

Tidak hanya Mbah Sechah, lanjut dia, putranya, Mbah Hasbullah itu juga melakukan perlawanan. 

 

"Mbah Hasbullah punya putra kecil namanya Mbah Wahab. Saat itu, karena masih kecil, Mbah Wahab ternyata agak nakal," ucapnya.

 

Dosen pemikiran Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya ini melanjutkan ceritanya. Pada suatu kali, Mbah Wahab kecil naik kuda ke tengah kota nyalip wedana. Akhirnya anteknya marah, Belanda juga marah. Kemudian mereka mengirim santet yang berakibat Mbah Wahab perutnya melembung. Oleh Mbah Hasbullah kemudian dibawa ke depan Masjid yang baru mau dibangun. 

 

"Saat di depan Masjid, Mbah Wahab dipecut berulang kali. Setelah dipecut ternyata kok sembuh. Tapi anehnya, utusan Belanda kemudian datang ke Tambakberas. Mungkin anteknya tahu hal-hal tersebut secara mistis. Ini kalau nggak datang sowan, ganti yang kembung perutnya si antek. Maka, mereka pun datang ke Tambakberas dengan membawa 4 tiang yang sekarang dibuat Masjid. Itulah sebagian kecil perlawanan-perlawanan kiai kita," pungkasnya.


Nasional Terbaru