• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Neraca BMTNU Nasional Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Minggu, 5 Februari 2023

Daerah

Bangga Jadi Santri, Mahasiswa Pascasarjana Ini Enggan Boyong dari Pondok Pesantren

Bangga Jadi Santri, Mahasiswa Pascasarjana Ini Enggan Boyong dari Pondok Pesantren
Muhammad Syukron, Santri PPDU sejak 2013 yang kini menempuh pendidikan Pascasarjana di Mojokerto.
Muhammad Syukron, Santri PPDU sejak 2013 yang kini menempuh pendidikan Pascasarjana di Mojokerto.

NU Online Jombang,

Menjadi santri merupakan sebuah kebanggaan diri. Pasalnya, santri tak hanya memiliki 1, melainkan 2 keilmuan sekaligus. Yang pertama ilmu agama dan yang kedua, ilmu umum dimana tidak semua orang mampu mendapatkannya.

 

Muhammad Syukron adalah salah satunya. Di Hari Santri Nasional (HSN) 2022 ini, ia bangga menjadi bagian dari santri Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Ulum (DU) Rejoso, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Menurutnya, menjadi seorang santri secara natural mengajarkannya kedisiplinan, mandiri, dan tanggung jawab.

 

Meski saat ini Ia tengah menempuh pendidikan Pascasarjana Institut Pesantren KH. Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto, Syukron yang sejak 2013 mondok di Darul Ulum tak memiliki keinginan untuk pindah apalagi boyong.

 

"Selama tinggal di Ponpes, kita dilatih mandiri, disiplin, bertanggung jawab atas diri sendiri dan masih banyak lagi. Bahkan, sampai sekarang saya tidak mempunyai keinginan untuk keluar dari Ponpes Darul Ulum," ucap Syukron sapaan akrabnya.

 

Santri dari Rantau yang Harus Banyak Beradaptasi

Pria yang Mondok di Pondok Induk Darul Ulum ini mengaku bahwa pertama kali menginjakkan kaki di Ponpes dirinya merasa sedih lantaran jauh dari keluarga khususnya orang tua. Ia juga merasa kebingungan karena kesulitan memahami bahasa Jawa serta mengalami krisis keuangan.

 

"Saya dari luar Jawa, tepatnya Kalimantan. Saya sering dikerjain oleh kakak kelas dengan bahasa-bahasa yang tidak pernah saya dengar sebelumnya. Lalu di Pondok, kita juga menghadapi krisis keuangan. Atau bahasa anak santri itu kiriman telat. Jadi, kita harus manage uang yang tinggal 100 ribu sementara jadwal kiriman masih kurang 10 hari lagi," imbuhnya.

 

Syukron yang merupakan kader terbaik Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) itu mengatakan, penyakit kulit yang menyebar di kalangan santri merupakan hal yang lumrah. Namun, orang-orang awam kebanyakan beranggapan bahwa penyebabnya adalah santri yang tidak bisa menjaga kebersihan dengan baik.

 

"Di Ponpes DU kita memiliki stigma bahwasanya ketika kita sudah terkena penyakit kulit scabies yang sering kita sebut dengan gudik, justru diartikan kita sudah mampu menyerap ilmu-ilmu yang ada. Atau istilah pondoknya, barokahnya mondok sudah terserap kepada diri kita. Namun, tentu kita tidak menampik imbauan untuk senantiasa hidup nyaman, tertib dan bersih," katanya kepada NU Online Jombang.

 

Santri Harus Bangga Menjadi Santri

Ia berharap, HSN 2022 ini membuat para santri lebih sadar dan tidak perlu minder menjadi santri. Santri harus bangga menjadi santri. Bangga itu diwujudkan dengan senantiasa istiqamah mengembangkan potensi diri dan meningkatkan kualitas intelektual.

 

"Karena apa? Dalam sebuah hadist dikatakan, ketika kita mau jadi apapun maka raihlah dengan ilmu, ilmu apapun itu dan ilmu yang paling banyak bisa kita temui dan dapatkan adanya di pondok pesantren," pungkasnya.


Daerah Terbaru