Home Warta Daerah Laporan Keuangan Bahtsul Masail Nasional Pengurus BMT NU Fiqih Opini Keislaman Amaliyah NU Khutbah Ekonomi Nyantri BMT NU

KH Abu Bakar, Santri Mbah Hasyim yang Sederhana Itu Tutup Usia

KH Abu Bakar, Santri Mbah Hasyim yang Sederhana Itu Tutup Usia
KH Abu Bakar, santri Mbah Hasyim. (Foto: Tangkapan layar)
KH Abu Bakar, santri Mbah Hasyim. (Foto: Tangkapan layar)

NU Jombang Online, 
Kabar duka menyelimuti warga Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Ini setalah santri langsung dari pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari, KH Abu Bakar wafat, Kamis (12/8) sekitar pukul 17.00 WIB. Almarhum menghembuskan napas terakhirnya di usia sekitar 90 tahun.

Kabar ini dibenarkan oleh salah satu santri almarhum, Akhmad Zainuddin warga Desa Kedawong, Kecamatan Diwek, Jombang. 

"Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun, sampun kapundut (sudah wafat) guru kulo (guru saya) Mbah KH Abu Bakar, santri Mbah Hasyim Asy'ari. Mohon ziyadah doa," katanya sebagaimana yang diterima media ini.

Almarhum bertempat tinggal di Desa Bandung, Kecamatan Diwek, Jombang. Zainuddin menyampaikan, almarhum akan dikebumikan malam ini sekitar pukul 20.00 WIB di area pemakaman setempat.

Pria yang juga Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jombang ini menambahkan, dirinya cukup lama berguru kepada almarhum, sejak tahun 1991 hingga 2000. Ia mengaku, banyak ilmu yang sudah diserap dari almarhum, mulai ilmu nahwu, fiqih, sampai tafsir Al-Qur'an.

"Beliau guruku, yang ngajari aku ilmu alat dari Imrithi, Ibnu Aqil, ilmu hadits, tafsir dan fiqh.
Di samping ngaji Al-Qur'an setiap selesai maghrib," jelasnya.

Sosok sederhana
Gok Din, demikian ia disapa mengungkapkan, sosok almarhum sangat sederhana, tidak suka formalitas. Baik dari cara berpakaian dalam kesehariannya maupun dalam bersikap saat mengajari para santrinya. Hal itu menurutnya salah satu mempengaruhi karakternya sekarang. 

"Beliau ini meski ulama alim tapi tidak pernah macak neko-neko. Biasa seperti pada umumnya pakai kopiah hitam," tuturnya.

Kesederhanaan almarhum juga ditunjukkan dalam aktivitas kesehariannya di luar tugas utamanya sebagai pendidik atau guru, almarhum juga adalah seorang petani yang gigih. Hampir bisa dipastikan setalah selesai mengajari para santrinya, almarhum langsung pergi ke sawah. 

"Dan beliau selalu memberi contoh bekerja yang konkret. Habis ngajar ya ke sawah bertani," ungkapnya.

"Ojo seneng gumantung podo makhluke (jangan suka bergantung sesama makhluknya). Itu kata-kata beliau yang sering saya tirukan," lanjutnya mengakhiri.

Santri kalong 
Kiai Abu Bakar adalah santri 'kalong'. Ia belajar kepada Mabah Hasyim tidak menetap di Pesantren Tebuireng secara langsung, melainkan pulang-pergi dari kediaman ke Tebuireng. Kiai Abu Bakar mengaku berguru kepada Mbah Hasyim selama tiga tahun, dari 1944 hingga 1947. 

"Sudah menempuh jarak jauh, baru sampai tempat saya bukan langsung ngaji. Tapi disuruh dulu membersihkan kamar mandi yang kotor," ujarnya kepada media ini sembari menerawang di kediamannnya, Ahad (21/2) lalu.

Selama masa belajar ke Tebuireng, Kiai Abu Bakar jalan kaki. Jarak tempuh antara kediaman ke Pesantren Tebuireng cukup jauh, meski masih satu kecamatan. Bahkan di dalam perjalanannya, ia mengaku kadang bertemu dengan pasukan penjajah Belanda. 

Pewarta: Ahmad

Daerah Lainnya

terpopuler

rekomendasi