• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Rabu, 24 April 2024

Bahtsul Masail

Hukum Melaksanakan Shalat Sempurna di Kendaraan saat Bepergian

Hukum Melaksanakan Shalat Sempurna di Kendaraan saat Bepergian
Ilustrasi melaksanakan shalat. (Foto: Freepik)
Ilustrasi melaksanakan shalat. (Foto: Freepik)

Deskripsi Masalah:

Banyak orang bepergian jauh menggunakan transportasi kereta api yang melebihi waktu shalat yang bisa dijama’, sehingga tidak dapat melaksanakan shalat fardhu, seperti berangkat waktu Ashar sampai tempat tujuan Subuh, sehingga tidak dapat melaksanakan shalat Magrib dan Isya'. Namun, ada di antara mereka yang melaksanakan shalat sesuai kewajibannya secara sempurna. 


Pertanyaan: 

Bagaimana hukum melaksanakan shalat secara sempurna di kendaraan? 


Jawaban:

Hukumnya boleh dan sah selama memungkinkan melakukan shalat dengan sempurna


Referensi:

المنهاج القويم شرح المقدمة الحضرمية (ص: 117)
أَمَا الْفَرْضُ وَلَوْ جَنَازَةً وَمَنْذُوْرَةً فَلَا يُصَلِّي عَلَى دَابَّةٍ سَائِرَةٍ مُطْلَقًا لِأَنَّ الْإِسْتِقْرَارَ فِيْهِ شَرْطٌ إِحْتِيَاطًا لَهُ، نَعَمْ إِنْ خَافَ مِنَ النُّزُوْلِ عَلَى نَفْسِهِ أَوْ مَالِهِ وَإِنْ قَلَّ أَوْ فَوْتَ رُفْقَتِهِ إِذَا اسْتَوْحَشَ بِهِ كَانَ لَهُ أَنْ يُصَلِّي الْفَرْضَ عَلَيْهَا وَهِيَ سَائِرَةٌ إِلَى مَقْصِدِهِ وَيُوْمِئُ وَيُعِيْدُ وَيَجُوْزُ فِعْلُهُ عَلَى السَّائِرَةِ وَالْوَاقِفَةِ إِنْ كَانَ لَهَا مَنْ يَلْزَمُ لِجَامَهَا بِحَيْثُ لَا تَتَحَوَّلُ عَنِ الْقِبْلَةِ إِنْ أَتَمَّ الْأَرْكَانَ، وعلى سرير يمشي به رجال وفي زورق جار وفي أرجوحة معلقة بحبال


Artinya: Shalat fardhu tidak boleh dilakukan dalam kendaraan yang sedang berjalan secara mutlak karena menetap di bumi menjadi syarat sah shalat. Akan tetapi jika seseorang turun untuk melakukan shalat, khawatir terhadap keselamatan dirinya, hartanya, atau tertinggal rombongan yang membuatnya gelisah, maka ia boleh melakukan shalat fardhu di dalam kendaraan yang sedang berjalan menghadap ke arah tujuannya, dilakukan dengan cara berisyarat dalam melakukan rukun fi’linya dan wajib mengqodlo’nya. Boleh melakukan shalat fardhu dalam kendaraan yang sedang berjalan atau berhenti jika kendaraan sudah ada yang mengemudikan dan tetap menghadap kiblat dan rukun-rukun shalat bisa dilakukan dengan sempurna. 


التقريرات السديدة ص 201
واذا كان راكبا يجب استقبال القبلة فى الاحرام ان سهل عليه والا فلا يجب الاستقبال مطلقا. واذا كان يصلى فى سفينة اوقطار ومثله الهودج والمرقد ونحو ذلك فيجب عليه ان يتم ركوعه وسجده ان سهل, ويجب عليه استقبال القبلة فى جميع الصلاة ان سهل عليه كذلك والا فلا يجب وَمِثْلُ ذَلِكَ الصَّلَاةُ فِى الطَّائِرَةِ فَتَجُوْزُ مَعَ الصِّحَّةِ صَلاَةُ النَّفْلِ, وَأَمَّا صَلَاةُ الْفَرْضِ إِنْ تَعَيَّنَتْ عَلَيْهِ أَثْنَاءَ الرِّحْلَةِ, وَكَانَتْ الرِّحْلَةُ طَوِيْلَةً بِأَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ الصَّلَاةَ قَبْلَ صُعُوْدِهَا أَوْ إِنْطِلَاقِهَا أَوْ بَعْدَ هُبُوْطِهَا فِى الْوَقْتِ, وَلَوْ تَقْدِيْمًا أَوْ تَأْخِيْرًا فَفِى هَذِهِ الْحَالَةِ يَجِبُ عَلَيْهِ أَنْ يُصَلِّيَ لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ مَعَ اسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ وَفِيْهَا حَالَتَانِ : 1 - إِنْ صَلَّى بِإِتْمَامِ الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ فَفِى وُجُوْبِ الْقَضَاءِ عَلَيْهِ خِلَافٌ لِعَدَمِ اسْتِقْرَارِ الطَّائِرَةِ فِى الْأَرْضِ, وَالْمُعْتَمَدُ أَنَّ عَلَيْهِ الْقَضَاءَ . 2 - وَإِنْ صَلَّى بِدُوْنِ إِتْمَامِ الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ أَوْ بِدُوْنِ إسْتِقْبَالِ الْقِبْلَةِ مَعَ الْإِتْمَامِ فَيَجِبُ عَلَيْهِ الْقَضَاءُ بِلَا خِلَافٍ.


Artinya: Seperti halnya orang yang shalat di kendaraan yaitu jika di tengah perjalanan pesawat. Maka boleh dan sah shalat sunnah. Adapun shalat fardhu yang wajib dilakukan di tengah perjalanan, sedangkan perjalanannya masih jauh, dan tidak mampu shalat sebelum naik pesawat atau sebelum berangkat atau setelah turun dari pesawat pada waktunya walaupun dilakukan dengan cara jama’ taqdim atau jama’ ta’khir, maka ia wajib melakukan shalat lihurmatil wakti (menghormati waktu) dengan menghadap kiblat.


Dalam hal ini terdapat dua pembahasan lain yang berkaitan dengan mengqodlo’ shalatnya. 

 
  1. Jika ia shalat dengan ruku’ dan sujud sempurna maka kewajiban mengqodlo’nya terdapat perbedaan pendapat antara ulama dikarenakan pesawat tidak menetap di bumi, menurut pendapat yang kuat ia wajib mengqodlo’ shalatnya.
  2. Jika ia shalat tidak dengan ruku’ dan sujud yang sempurna atau tidak menghadap kiblat dengan ruku’ dan sujud yang sempurna, maka ia wajib mengqodlo’ shalatnya tanpa ada perbedaan pendapat ulama.


حاشية الجمل على شرح المنهج = فتوحات الوهاب بتوضيح شرح منهج الطلاب (1/ 319)
(وَلَوْ صَلَّى) شَخْصٌ (فَرْضًا) عَيْنِيًّا أَوْ غَيْرَهُ (عَلَى دَابَّةٍ وَاقِفَةٍ وَتَوَجَّهَ) الْقِبْلَةَ (وَأَتَمَّهُ) أيْ الْفَرْضَ فَهُوَ أَعَمُّ مِنْ قَوْلِهِ وَأَتَمَّ رُكُوْعَهُ وَسُجُوْدَهُ (جَازَ) ، وَإِنْ لَمْ تَكُنْ مَعْقُوْلَةً لِإسْتِقْرَارِهِ فِي نَفْسِهِ (وَإِلَّا) بِأَنْ تَكُوْنَ سَائِرَةً أَوْ لَمْ يَتَوَجَّهْ أَوْ لَمْ يُتِمَّ الْفَرْضَ (فَلَا) يَجُوْزُ ... إلى أن قال ... نَعَمْ إِنْ خَافَ مِنْ نُزُوْلِهِ عَنْهَا إِنْقِطَاعًا عَنْ رُفْقَتِهِ أَوْ نَحْوِهِ صَلَّى عَلَيْهَا وَأَعَادَ كَمَا مَرَّ 


Artinya: Apabila seseorang shalat fardhu dalam kendaraan yang sedang berhenti, menghadap kiblat dan shalat bisa dilakukan dengan sempurna, maka diperbolehkan karena menetapnya kendaraan tersebut dengan bumi. Dan apabila kendaraannya sedang berjalan atau tidak menghadap kiblat atau shalat tidak bisa dilakukan dengan sempurna, maka tidak diperbolehkan, akan tetapi jika ia turun untuk melakukan shalat takut tertinggal rombongan atau sesamanya, maka diperbolehkan shalat dalam kendaraan yang sedang berjalan dan wajib mengqodlo’nya. 


Bahtsul Masail Terbaru