• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Senin, 15 April 2024

Bahtsul Masail

Cara Mengimplementasikan NKRI Harga Mati menurut Fiqih

Cara Mengimplementasikan NKRI Harga Mati menurut Fiqih
Ilustrasi bendera Indonesia, merah putih. (Foto: Freepik)
Ilustrasi bendera Indonesia, merah putih. (Foto: Freepik)

Deskripsi Masalah:

Beberapa waktu lalu, Nahdlatul Ulama sedang didera ujian berupa fitnah-fitnah dari pihak yang berseberangan dengan Nahdlatul Ulama. Bahkan banyak juga provokasi yang dilakukan oleh mereka terhadap warga Nahdlatul Ulama. Di antara provokasi yang dilancarkan oleh mereka adalah soal slogan NKRI Harga Mati khas Nahdlatul Ulama. Menurut pihak yang berseberangan dengan Nahdlatul Ulama, implementasi slogan NKRI Harga Mati adalah terjun langsung ke daerah konflik di Papua untuk berperang melawan Organisasi Papua Merdeka (OPM).


Pertanyaan:

Bagaimana implementasi NKRI Harga Mati dalam pandangan fiqih? 


Jawaban:

Implementasi NKRI Harga Mati dalam pandangan fiqih adalah:

  1. Menjaga persatuan dan menghindari bahaya perpecahan. 
  2. Menguatkan rasa nasionalisme.
  3. Tidak mempersoalkan bentuk negara. 
  4. Tidak memaksakan penerapan syariat Islam secara total dengan cara instan


Referensi:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا (آل عمران 103)


Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103)


وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (الأنفال 46)


Artinya: Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bersabar (QS Al Anfal:46)


وَمَا تَكْرَهُونَ فِي الْجَمَاعَةِ خَيْرٌ مِمَّا تُحِبُّونَ فِي الْفُرْقَةِ, فِي الْجَمَاعَةِ رَحْمَةٌ وَ فِي الْفُرْقَةِ عَذَابٌ (رواه الديلمى)


Artinya: Dan perkara yang engkau benci saat bersatu lebih baik dari perkara yang engkau sukai saat bercerai-berai. Di dalam persatuan terdapat rahmat, dan di dalam perpecahan terdapat bencana”. (HR. Al- Dailami, Dla’if)


كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدْرَانِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ، وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا (رواه البخارى)


Artinya: "Ketika Rasulullah hendak datang dari bepergian, beliau mempercepat jalannya kendaraan yang ditunggangi setelah melihat dinding Kota Madinah. Bahkan beliau sampai menggerak-gerakkan binatang yang dikendarainya tersebut. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap tanah airnya." (H.R. Bukhari).


فَتْحُ الْبَارِى (3\705)
وَفِي الْحَدِيثِ دِلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبِّ الْوَطَنِ وَالْحَنِيْنِ إِلَيْهِ


Artinya: Di dalam hadits tersebut menunjukkan keutamaan Madinah dan dianjurkannya mencintai tanah air serta merindukannya.


الْعَلَاقَةُ بَيْنَ الدِّيْنِ وَالْوَطَنِ الَّذِى هُوَ رَحْمَةٌ لِلْعَالَمِيْنَ لِلْعَلَامَةِ الشَّيْخِ عَدْنَانَ الْأَفْيُوْنِىّ مُفْتِى الشَّامِ (صــ 184)
الثَّانِى الْحِفَاظُ عَلَى وَحْدَةِ الْوَطَنِ بِكُلِّ اِعْتِبَارَاتِهِ اِذْ لَا يُمْكِنُ الْحِفَاظُ عَلَى الْوَطَنِ اِلَّا اِذَا حَفِظْنَا عَلَى وَحْدَةِ أَرَاضِيْهِ مِنَ التَّقْسِيْمِ وَوَحْدَةِ مَوَاطِيْنِهِ مِنْ أَسْبَابِ التَّفَرُّقِ وَالتَّمَزُّقِ الَّتِى يُسَبِّبُهَا التَّعَصُّبُ الطَّائِفِىُّ وَالْمَذْهَبِىُّ وَالْعِرْقِىُّ فَاِذَا تَقَسَّمَتْ الأَوْطَانُ اِلَى دُوَيْلَاتٍ وَانْقَلَبَ التَّنَوُّعُ الإِنْسَانِىُّ الَّذِى يَثْرَى وَيُغْنِى اِلَى صُرَاعَاتٍ انِهَارَتِ الْبلِاَدُ وَهَانَ عَلَى أَعْدَائِهَا اِسْتِعْمَارُهَا وَالسَّيْطَرَةُ عَلَيْهَا وَلِذَلِكَ كَانَتْ دَعْوَةُ الْقُرْآنِ دَائِمًا اِلَى تَوَحُّدٍ وَالْإِعْتِصَامِ بِحَبْلِ الشَّرِيْعَةِ الْقَيِّمِ لَا الْإِنْحِرَافِ اِلَى أُتُوْنِ الْمَصَالِحِ وَالْأَهْوَاِء وَالصَّرَعَاتِ فَقَالَ تَعَالَى وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ) وَقَالَ تَعَالَى وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ) وَاخْطُرْ مَا يُهَدِّدُ وَحْدَةَ الْأَوْطَانِ الْإِنْحِرَافُ عَنِ الْقَيِّمِ الْإِيْمَانِيَّةِ الْأَصْلِيَّةِ الَّتِى دَعَانَا اِلَيْهَا الْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ وَالسُّنَّةُ الْمُتَطَهِّرَةُ اِلَى أَفْكَارٍ غَرِيْبَةٍ مُشَوِّهَةٍ تَدْعُوْ اِلَى تَكْفِيْرِ النَّاسِ وَاعْتِبَارِهِمْ أَعْدَاءً مِمَّا يُشَرِّعُ قَتْلَهُمْ وَقِتَالَهُمْ وَيُصْبِحُ الْأَخُ عَدُوًّا وَالْجَارُ عَدُوًّا لِجَارِهِ فَيُصْبِحُ أَبْنَاءُ الْبَلَدِ الْوَاحِدِ جَمَاعَاتٍ مُتَصَارِعَةً مُتَقَاتِلَةً تَتَقَرَّبُ اِلِى اللهِ وَسَفْكِ الدِّمَاءِ وَلَيْسَ ذَلِكَ مِنَ الدِّيْنِ فِى شَيْئٍ


Artinya: Cara yang kedua dengan menjaga persatuan tanah air dengan segala cara, karena tidak mungkin menjaga Tanah Air kecuali dengan menjaga persatuan dan kesatuan tanah air dari perpecahan dan peselisihan yang disebabkan oleh fanatik suku, madzhab dan golongan. 


الطُّرُقُ الْحُكْمِيَّةُ فِي السِّيَاسَةِ الشَّرْعِيَّةِ (ص: 16)
فَقَالَ ابْنُ عَقِيلٍ : السِّيَاسَةُ مَا كَانَ فِعْلًا يَكُونُ مَعَهُ النَّاسُ أَقْرَبَ إلَى الصَّلَاحِ وَأَبْعَدَ عَنْ الْفَسَادِ وَإِنْ لَمْ يَضَعْهُ الرَّسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلَا نَزَلَ بِهِ وَحْيٌ

 

Artinya: Siyasah adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan untuk mendekatkan manusia pada kemaslahatan dan menjauhkan dari kemafsadahan, meskipun tidak diajarkan Rasul saw dan tidak diturunkannya wahyu.


الْفِقْهُ الإِسْلَامِيُّ وَأَدِلَّتُهُ (8/ 6144)
الإِمَامَةُ الْعُظْمَى أَوِ الْخِلاَفَةُ أَوْ إِمَارَةُ الْمُؤْمِنِيْنَ كُلُّهَا تُؤَدِّي مَعْنًى وَاحِداً، وَتَدُلُّ عَلَى وَظِيْفَةٍ وَاحِدَةٍ هِيَ السُّلْطَةُ الْحُكُوْمِيَّةُ الْعُلْيَا وَقَدْ عَرَّفَهَا عُلَمَاءُ الإِسْلَامِ بِتَعَارِيْفَ مُتَقَارِبَةٍ فِي أَلْفَاظِهَا مُتَّحِدَةٍ فِي مَعَانِيْهَا تَقْرِيْباً عِلْماً بِأَنَّهُ لَا تُشْتَرَطُ صِفَةُ الْخِلَافَةِ وَإِنَّما الْمُهِمُّ وُجُوْدُ الدَّوْلَةِ مُمْثَلَةً بِمَنْ يَتَوَلَّى أُمُوْرَهُا وَيُدِيْرُ شُؤُوْنَهَا وَيَدْفَعُ غَائِلَةَ الأَعْدَاءِ عَنْهَا


Artinya: Imamah Udzma, khilafah atau imarah Mukminin adalah lafal yang memiliki satu makna dan menunjukkan satu tugas, yaitu pemerintahan tertinggi. Para ulama Islam mendefinisikannya dengan definisi yang berbeda-beda, namun makna saling berdekatan dengan kesimpulan tidak harus berdirinya khilafah, dan yang terpenting adalah wujudnya pemerintahan yang dipatuhi, dengan pemimpin yang bertugas mengatur dan memutar roda pemerintahan serta menolak bahaya musuh.


مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ (متفق عليه)


Artinya: Perkara yang aku cegah, maka jauhilah. Perkara yang aku perintahkan, maka lakukanlah semampu kalian” (Muttafaq alaih).


مَا لاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ كُلُّهُ (القاعدة)


Artinya: Perkara yang tidak dapat dijangkau secara keseluruhan, bukan berarti ditinggalkan secara keseluruhan”.


كِفَايَةُ الأَخْيَارِ (1\485)
(فَرْعٌ) سَرَقَ شَخْصٌ طَعَامًا فِي وَقْتِ الْقَحْطِ وَالْمَجَاعَةِ فَإِن كَانَ يُوْجَدُ عَزِيزًا بِثَمَنٍ غَالٍ قُطِعَ وَإِن كَانَ لَا يُوْجَدُ وَلَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ فَلَا قَطْعَ وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ مَا جَاءَ عَن عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنهُ لَا قَطْعَ فِي عَامِ الْمَجَاعَةِ وَالله أعلم


Artinya:Bila seseorang mencuri makanan di musim paceklik dan masa krisis, apabila pelaku merupakan orang yang enggan membayar dengan harga yang mahal, maka dihukum potong tangan, dan apabila bukan orang yang demikian dan tidak mampu membayar dengan harga mahal, maka tidak dihukum potong tangan. Pada konteks inilah dipahami riwayat dari Sayyidina Umar ra, tidak ada hukum potong tangan pada masa krisis.


Catatan:
Penjelasan atau uraian di atas merupakan hasil bahtsul masail yang diselenggarakan oleh Pengurus Cabang (PC) Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Kabupaten Jombang.


Bahtsul Masail Terbaru