• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Senin, 15 April 2024

Bahtsul Masail

Bagaimana Islam Memandang soal Merawat Jenazah Muallaf, Nikah Sirri dan NKRI Harga Mati

Bagaimana Islam Memandang soal Merawat Jenazah Muallaf, Nikah Sirri dan NKRI Harga Mati

MERAWAT JENAZAH MUALLAF
Deskripsi Masalah
Muallaf adalah seorang yang baru memeluk Agama Islam dikarenakan mendapat hidayah dari Allah SWT. Tidak jarang seorang muallaf karena membela aqidah dan keyakinannya dikucilkan bahkan dimusuhi oleh keluarganya yang berbeda agama, karena banyak sanak saudara dari muallaf tersebut yang masih memegang teguh aqidah agama non Islam yang mengharapkan agar si muallaf kembali ke agama asal. Bahkan ketika si muallaf meninggal urusan merawat jenazah dan mengkuburkannya pihak keluarga yang bukan muslim bersikeras agar jenazah dirawat dan dikuburkan sesuai agama asal si muallaf.

Pertanyaan:
Bagaimanakah hukumnya muallaf yang meninggal dunia dan jenazahnya dirawat serta dikuburkan secara non Islam karena permintaan pihak keluarga ?

Jawaban:
Untuk memandikan dan mengkafani sudah dianggap cukup. Sedangkan mensholati dan memakamkan belum mencukupi.

Catatan:
Tercukupinya memandikan jenazah oleh orang non muslim dengan meratakan air suci dan mensucikan keseluruh tubuh jenazah, karena tujuan dari memandikan sudah tercapai yaitu membersihkan tubuh jenazah.

Tercukupinya mengkafani jenazah dengan tertutupnya aurot.
Belum tercukupinya mensholati jenazah karena belum ada pelaksanaan sholat jenazah.
Belum tercukupinya memakamkan jenazah karena tidak menghadapkan jenazah kearah qiblat.

NB : Sesuai dengan arahan sail bahwa yang dikehendaki non muslim sebagaimana dalam deskripsi adalah agama nasroni.
Referensi :
سَفِيْنَةِ النَّجَا (ص: 237)
(فصل) الَّذِي يَلْزَمُ لِلْمَيِّتِ أَرْبَعُ خِصَالٍ غُسْلُهُ وَتَكْفِيْنُهُ وَالصَّلَاةُ عَلَيْهِ وَدَفْنُهُ
Terjemah :
Kewajiban terhadap orang mati ada empat, yaitu memandikan, mengkafani, mensholati dan memakamkan

حَاشِيَتاَ قَلْيُوْبِيّ وَعُمَيْرَةَ (1/ 376)
(وَأَقَلُّ الْغُسْلِ تَعْمِيمُ بَدَنِهِ) مَرَّةً (بَعْدَ إزَالَةِ النَّجَسِ) عَنْهُ إنْ كَانَ، كَذَا فِي الرَّوْضَةِ كَأَصْلِهَا أَيْضًا فَلَا يَكْفِي لَهُمَا غَسْلَةٌ وَاحِدَةٌ، وَهُوَ مَبْنِيٌّ عَلَى مَا صَحَّحَهُ الرَّافِعِيُّ فِي الْحَيِّ أَنَّ الْغَسْلَةَ لَا تَكْفِيهِ عَنْ النَّجَسِ وَالْحَدَثِ، وَصَحَّحَ الْمُصَنِّفُ أَنَّهَا تَكْفِيهِ كَمَا تَقَدَّمَ فِي بَابِ الْغُسْلِ، وَكَأَنَّهُ تَرَكَ الِاسْتِدْرَاكَ هُنَا لِلْعِلْمِ بِهِ مِنْ هُنَاكَ (وَلَا تَجِبُ نِيَّةُ الْغَاسِلِ) أَيْ لَا تُشْتَرَطُ فِي صِحَّةِ الْغُسْلِ (فِي الْأَصَحِّ) لِأَنَّ الْقَصْدَ بِغُسْلِ الْمَيِّتِ النَّظَافَةُ، وَهِيَ لَا تَتَوَقَّفُ عَلَى نِيَّةٍ وَالثَّانِي يَجِبُ لِأَنَّهُ غُسْلٌ وَاجِبٌ كَغُسْلِ الْجَنَابَةِ فَيَنْوِي عِنْدَ إفَاضَةِ الْمَاءِ الْقَرَاحِ الْغُسْلَ الْوَاجِبَ أَوْ غُسْلَ الْمَيِّتِ ذَكَرَهُ فِي شَرْحِ الْمُهَذَّبِ (فَيَكْفِي) عَلَى الْأَصَحِّ (غَرَقُهُ) عَنْ الْغُسْلِ (أَوْ غُسْلُ كَافِرٍ) لَهُ
Terjemah :
Paling sedikitnya memandikan orang mati dengan memeratakan air pada seluruh anggota badannya satu kali setelah menghilangkan najis bila ada. Dan dalam memandikan orang mati tidak diwajibkan niat, karena tujuan memandikannya adalah membersihkan tubuh, sehingga pemandian yang dilakukan oleh orang kafir tianggap cukup.

فَتْحُ الْمُعِيْنِ (1/ 91)
(وَ) ثَانِيهِمَا (تَعْمِيْمُ) ظَاهِرِ (بَدَنٍ حَتَّى) الأَظْفَارِ وَمَا تَحْتَهَا وَ (الشَّعَرِ) ظَاهِرًا وَبَاطِنًا وَإِنْ كَثُفَ وَمَا ظَهَرَ مِنْ نَحْوِ مَنْبَتِ شَعْرَةٍ زَالَتْ قَبْلَ غَسْلِهَا وَصَمَاخٍ وَفَرْجِ امْرَأَةٍ عِنْدَ جُلُوْسِهَا عَلَى قَدَمَيْهَا وَشُقُوْقٍ (وَبَاطِنِ جُدَرِيٍّ) اِنْفَتَحَ رَأْسُهُ لاَ بَاطِنِ قُرْحَةٍ بَرِئَتْ وَارْتَفَعَ قَشْرُهَا وَلَمْ يَظْهَرْ شَيءٌ مِمَّا تَحْتَهُ وَيَحْرُمُ فَتْقُ الْمُلْتَحِمِ …. الى ان قال …. (بِمَاءٍ طَهُوْرٍ) وَمَرَّ أَنَّهُ يَضُرُّ تَغَيُّرُ الْمَاءِ تَغَيُّرًا ضَارًّا وَلَوْ بِمَا عَلَى الْعُضْوِ خِلَافًا لِجَمْعٍ
Terjemah :
Rukun mandi yang kedua adalah memeratakan seluruh badan dengan menggunakan air yang suci dan mensucikan

حَاشِيَةُ الْبُجَيْرِمِي عَلَى شَرْحِ الْمَنْهَجِ (1/ 463)
(فَصْلٌ) .فِي تَكْفِينِ الْمَيِّتِ وَحَمْلِهِ (يُكَفَّنُ) بَعْدَ غُسْلِهِ (بِمَا لَهُ لُبْسُهُ) حَيًّا مِنْ حَرِيرٍ أَوْ غَيْرُهُ فَيَحِلُّ تَكْفِينُ أُنْثَى بِحَرِيرٍ وَمُزَعْفَرٍ وَمُعَصْفَرٍ بِخِلَافِ الرَّجُلِ وَالْخُنْثَى إذَا وُجِدَ غَيْرُهَا
(قَوْلُهُ: بِمَا لَهُ لُبْسُهُ) أَيْ: مِمَّا يَجُوزُ لَهُ لُبْسُهُ لَا لِحَاجَةٍ فَلَا يُكَفَّنُ بِالْحَرِيرِ مَنْ لَبِسَهُ لِحَكَّةٍ أَوْ قَمْلٍ بِخِلَافِ مَنْ لَبِسَهُ لِضَرُورَةِ الْقِتَالِ كَمَا قَالَهُ شَيْخُنَا تَبَعًا لِشَيْخِهِ م ر. وَيُقَدَّمُ الْحَرِيرُ عَلَى الْجِلْدِ وَهُوَ عَلَى الْحَشِيشِ وَهُوَ عَلَى الطِّينِ، وَكُلُّ كَفَنٍ نَقَصَ عَنْ جَمِيعِ الْبَدَنِ تُمِّمَ مِمَّا بَعْدَهُ وَيُكَفَّنُ بِالنَّجِسِ بَعْدَ الصَّلَاةِ عَلَيْهِ عَارِيًّا إنْ لَمْ يُوجَدْ نَحْوُ طِينٍ وَسِتْرُ التَّابُوتِ كَالتَّكْفِينِ ق ل عَلَى الْجَلَالِ وَنَقَلَ ح ل عَنْ شَيْخِهِ تَقْدِيمَ الْحِنَّاءِ الْمَعْجُونَةِ عَلَى الطِّينِ.
Terjemah :
Kain kafan orang mati adalah kain yang boleh ia pakai ketika ia masih hidup.

فَتْحُ الْمُعِيْنِ (ص: 215)
وَتَكْفِيْنُهُ بِسَاتِرِ عَوْرَةٍ مُخْتَلِفَةٍ بِالذُّكُوْرَةِ وَالْأُنُوْثَةِ دُوْنَ الرِّقِّ وَالْحُرِّيَّةِ فَيَجِبُ فِي الْمَرْأَةِ وَلَوْ أَمَةً مَا يَسْتُرُ غَيْرَ الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ وَفِي الرَّجُلِ مَا يَسْتُرُ مَا بَيْنَ السُّرَّةِ وَالرُّكْبَةِ وَالْإِكْتِفَاءُ بِسَاتِرِ الْعَوْرَةِ هُوْ مَا صَحَّحَهُ النَّوَوِيُّ فِي أَكْثَرِ كُتُبِهِ وَنَقَلَهُ عَنِ الْأَكْثَرِيْنَ لِأَنَّهُ حَقٌّ للهِ تَعَالَى وَقَالَ آخَرُوْنَ يَجِبُ سَتْرُ جَمِيْعِ الْبَدَنِ وَلَوْ رَجُلًا

Terjemah :
Wajib mengkafani orang mati dengan penutup aurot yang disesuaikan jenis kelaminya, maka bagi mayit perempuan wajib penutup selain wajah dan kedua telapak tangan, dan bagi mayit laki-laki wajib penutup anggota antara pusar dan lutut. Pendapat ini adalah pendapat yang di tashhih oleh Imam Nawawi dalam kebanyakan kitabnya dan ia nuqil dari banyak Ulama, karena merupakan hak yang berkaitan dengan Allah SWT. Dan Ulama yang lain berpendapat wajib menutup seluruh badan mayit meskipun mayit laki-laki.

أَسْنَى الْمَطَالِبِ فِي شَرْحِ رَوْضِ الطَّالِبِ (1/ 326)
(وَالِاسْتِقْبَالُ بِهِ) الْقِبْلَةَ (وَاجِبٌ) تَنْزِيلًا لَهُ مَنْزِلَةَ الْمُصَلِّي
Terjemah :
Dalam pemakaman wajib menghadapkan orang mati kearah kiblat, karena menempatkannya seperti orang shalat.

Bagaimana sikap kaum muslimin di wilayah tersebut jika merawat jenazah dan mengkuburnya secara non Islam tidak diperbolehkan ?
(As’ilah dari MWC NU Mojowarno)
Mengupayakan mengurus jenazah secara islami dengan cara melapor pada aparat setempat. Bila tidak memungkinkan untuk mengupayakannya, maka untuk sholat dapat dilakukan dengan cara sholat ghoib baik sebelum atau sesudah dimakamkan, namun memakamkan jenazah sebelum disholati hukumnya tidak boleh dan bila sudah terlanjur maka bisa sholat diatas makam.
Memakamkan jenazah muslim wajib menghadapkan kearah qiblat, jika tidak demikian, mengikuti pendapat al Qodli abu Toyyib yang mengatakan bahwa hukum menghadapkan mayyit kearah qiblat adalah sunnah.
Referensi :
مُغْنِي الْمُحْتَاجِ إِلَى مَعْرِفَةِ مَعَانِي أَلْفَاظِ الْمِنْهَاجِ (4/ 210)
(وَ) مِنْ فُرُوضِ الْكِفَايَاتِ (الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ) مِنْ وَاجِبَاتِ الشَّرْعِ (وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ) …. الى ان قال ….. وَالْإِنْكَارُ يَكُونُ بِالْيَدِ. فَإِنْ عَجَزَ فَبِاللِّسَانِ، وَيَرْفُقُ بِمَنْ يَخَافُ شَرَّهُ وَيَسْتَعِينُ عَلَيْهِ إنْ لَمْ يَخَفْ فِتْنَةً، فَإِنْ عَجَزَ رَفَعَ ذَلِكَ إلَى الْوَالِي. فَإِنْ عَجَزَ أَنْكَرَ بِقَلْبِهِ
Terjemah :
Tahapan melakukan inkar, pertama menggunakan tangan, kemudian lisan. Dan apabila tidak mampu, maka melapor pada aparat setempat

نِهَايَةُ الْمُحْتَاجِ إِلَى شَرْحِ الْمِنْهاَجِ (2/ 485)
وَلَوْ تَعَذَّرَ عَلَى مَنْ فِي الْبَلَدِ الْحُضُورُ لِحَبْسٍ أَوْ مَرَضٍ لَمْ يَبْعُدْ جَوَازُ ذَلِكَ كَمَا بَحَثَهُ الْأَذْرَعِيُّ، وَجَزَمَ بِهِ ابْنُ أَبِي الدَّمِ فِي الْمَحْبُوسِ لِأَنَّهُمْ قَدْ عَلَّلُوا الْمَنْعَ بِتَيَسُّرِ الذَّهَابِ إلَيْهِ،

Terjemah :
Apabila seseorang di daerah sulit untuk hadir karena dipenjara atau sakit, maka diperbolehkan melakukan sholat ghoib

نِهَايَةُ الْمُحْتَاجِ إِلَى شَرْحِ الْمِنْهاَجِ (2/ 485)
وَقَدْ أَجْمَعَ كُلُّ مَنْ أَجَازَ الصَّلَاةَ عَلَى الْغَائِبِ بِأَنَّ ذَلِكَ يُسْقِطُ فَرْضَ الْكِفَايَةِ إلَّا مَا حُكِيَ عَنْ ابْنِ الْقَطَّانِ، وَظَاهِرٌ أَنَّ مَحَلَّ السُّقُوطِ بِهَا حَيْثُ عَلِمَ بِهَا الْحَاضِرُونَ
Terjemah :
Para Ulama yang memperbolehkan sholat ghoib sepakat bahwa sholat ghoib bisa menggugurkan fardlu kifayah, kecuali pendapat yang diceritakan dari Ibnu Al Qhotthon. Dan gugurnya fardlu kifayah ketika orang-orang mengetahuinya

تُحْفَةُ الْمُحْتَاجِ (3/ 150)
(وَيَجِبُ تَقْدِيمُهَا) أَيْ الصَّلَاةِ (عَلَى الدَّفْنِ) لِأَنَّهُ الْمَنْقُولُ فَإِنْ دُفِنَ قَبْلَهَا أَثِمَ كُلُّ مَنْ عَلِمَ بِهِ وَلَمْ يُعْذَرْ وَتَسْقُطُ بِالصَّلَاةِ عَلَى الْقَبْرِ (وَتَصِحُّ) الصَّلَاةُ (بَعْدَهُ) أَيْ الدَّفْنِ لِلِاتِّبَاعِ قِيلَ: يُشْتَرَطُ بَقَاءُ شَيْءٍ مِنْ الْمَيِّتِ اهـ وَفِيهِ نَظَرٌ لِأَنَّ عَجْبَ الذَّنَبِ لَا يَفْنَى كَمَا هُوَ مُقَرَّرٌ فِي مَحَلِّهِ
Terjemah :
Wajib mendahulukan sholat atas pemakaman, namun sholat diatas makam hukumnya sah dan bisa menggugurkan kewajiban.

اَلْمَجْمُوْعُ شَرْحُ الْمُهَذَّبِ (5/ 293)
وَقَالَ الْقَاضِي أَبُو الطَّيِّبِ فِي كِتَابِهِ الْمُجَرَّدِ اسْتِقْبَالُ الْقِبْلَةِ بِهِ مُسْتَحَبٌّ لَيْسَ بِوَاجِبٍ وَالصَّحِيحُ الْأَوَّلُ وَاتَّفَقُوا عَلَى أَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يُضْجَعَ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْمَنِ فَلَوْ أُضْجِعَ عَلَى جَنْبِهِ الْأَيْسَرِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ جَازَ وَكَانَ خِلَافَ الْأَفْضَلِ لِمَا سَبَقَ فِي الْمُصَلِّي مُضْطَجِعًا وَاَللَّهُ أَعْلَمُ
Terjemah :
Dalam kitan Al Mujarrod Al Qodli Abu Al Thoyyib berpendapat bahwa menghapadkan orang mati kearah kiblat hukumnya tidak wajib.

DAMPAK NIKAH SIRI
Deskripsi Masalah
Ada seorang pria dan wanita sepakat melakukan nikah secara siri, namun setelah berjalan beberapa bulan dari pernikahan tersebut, suami tidak mampu memberikan nafkah hingga akhirnya istri meminta cerai. Suami tidak mau menceraikannya karena masih mencintai istrinya. Berkaitan dengan Nikah siri kutipan UU no I tahun 1974 tentang Perkawinan, sesuai dengan Bab I tentang Dasar Perkawinan Pasal 2 ayat 2 berbunyi :
“Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku”

Pertanyaan
Bagaimana hukumnya bagi suami yang tidak mampu menafkahi istri tetapi tidak mau menceraikan di saat istri menuntut cerai?

Jawaban :
Boleh, selama tidak ada kesengajaan menelantarkan istri
Referensi :
الْفِقْهُ الإِسْلَامِيُّ وَأَدِلَّتُهُ (ج 9 / ص 345)
مَالِكُ الطَّلَاقِ: يَتَبَيَّنُ مِمَّا سَبَقَ أَنَّ الَّذِي يَمْلِكُ الطَّلَاقَ إِنَّمَا هُوْ الزَّوْجُ مَتَى كَانَ بَالِغاً عَاقِلاً وَلَا تَمْلِكُهُ الزَّوْجَةُ إِلَّا بِتَوْكِيْلٍ مِنَ الزَّوْجِ أَوْ تَفْوِيْضٍ مِنْهُ وَلَا يَمْلِكُهُ الْقَاضِي إِلَّا فِي أَحْوَالٍ خَاصَّةٍ لِلضَّرُوْرَةِ
Terjemah :
Pemilik talak adalah suami ketika balig berakal, dan talak tidak bisa dimiliki istri kecuali mendapat penyerahan dari suami, dan juga bukan milik qodli kecuali dalam keadaan darurat.

تُحْفَةُ الْمُحْتَاجِ فِي شَرْحِ الْمِنْهَاجِ وَحَوَاشِي الشَّرْوَانِي وَالْعُبَّادِيّ (7/ 187)
(فَإِنْ وَجَدَ الْأُهْبَةَ وَبِهِ عِلَّةٌ كَهَرَمٍ أَوْ مَرَضٍ دَائِمٍ، أَوْ تَعْنِينٍ) كَذَلِكَ بِخِلَافِ مَنْ يَعُنُّ وَقْتًا دُونَ وَقْتٍ (كُرِهَ) لَهُ النِّكَاحُ (وَاَللَّهُ أَعْلَمُ) لِعَدَمِ حَاجَتِهِ مَعَ عَدَمِ تَحْصِينِ الْمَرْأَةِ الْمُؤَدِّي غَالِبًا إلَى فَسَادِهَا وَبِهِ يَنْدَفِعُ قَوْلُ الْإِحْيَاءِ يُسَنُّ لِنَحْوِ الْمَمْسُوحِ تَشَبُّهًا بِالصَّالِحِينَ كَمَا يُسَنُّ إمْرَارُ الْمُوسَى عَلَى رَأْسِ الْأَصْلَعِ وَقَوْلُ الْفَزَارِيِّ أَيُّ نَهْيٍ وَرَدَ فِي نَحْوِ الْمَجْبُوبِ وَالْحَاجَةُ لَا تَنْحَصِرُ فِي الْجِمَاعِ وَلَوْ طَرَأَتْ هَذِهِ الْأَحْوَالُ بَعْدَ الْعَقْدِ فَهَلْ تَلْحَقُ بِالِابْتِدَاءِ، أَوْ لَا لِقُوَّةِ الدَّوَامِ تَرَدَّدَ فِيهِ الزَّرْكَشِيُّ وَالثَّانِي هُوَ الْوَجْهُ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ
(قَوْلُهُ: هَذِهِ الْأَحْوَالُ) أَيْ الْهَرَمُ وَمَا عُطِفَ عَلَيْهِ وَيَحْتَمِلُ رُجُوعَهُ إلَى قَوْلِ الْمَتْنِ فَإِنْ لَمْ يَحْتَجْ إلَخْ (قَوْلُهُ: فَهَلْ يُلْحَقُ إلَخْ) هَلْ الْمُرَادُ مِنْ هَذَا الْإِلْحَاقِ كَرَاهَةُ الِاسْتِدَامَةِ فَيُطْلَبُ مِنْهُ الطَّلَاقُ وَلَا يَخْفَى مَزِيدٌ بَعْدَهُ، أَوْ شَيْءٌ آخَرُ فَلْيُصَوَّرْ فَلْيُتَأَمَّلْ اهـ سم.
(قَوْلُهُ: فَهَلْ يَلْحَقُ بِالِابْتِدَاءِ) لَا يَخْفَى أَنَّهُ لَا يُتَصَوَّرُ الْإِلْحَاقُ بِالِابْتِدَاءِ فِي كَرَاهَةِ التَّزْوِيجِ الَّذِي كَانَ الْكَلَامُ فِيهِ لِوُقُوعِ التَّزَوُّجِ فَلَا يُتَصَوَّرُ بَعْدَ وُقُوعِهِ أَنْ يَنْهَى عَنْهُ فَهَلْ الْمُرَادُ مِنْ هَذَا الْإِلْحَاقِ كَرَاهَةُ الِاسْتِدَامَةِ فَيُطْلَبُ الطَّلَاقُ وَلَا يَخْفَى مَزِيدُ بُعْدِهِ، أَوْ شَيْءٌ آخَرُ فَلْيُصَوَّرْ فَلْيُتَأَمَّلْ
Terjemah :
Sulit menyamakan melanggengkan pernikahan dengan kemakruhan memulai akad nikah, karena akad nikah sudah terjadi, sehingga tidak bisa untuk dilarang.

الزَّوَاجِرُ عَنْ اِقْتِرَافِ الْكَبَائِرِ (2/ 61)
(الْكَبِيرَةُ الرَّابِعَةُ وَالْخَامِسَةُ وَالسَّبْعُونَ بَعْدَ الْمِائَتَيْنِ مَنْعُ الزَّوْجِ حَقًّا مِنْ حُقُوقِ زَوْجَتِهِ الْوَاجِبَةِ لَهَا عَلَيْهِ كَالْمَهْرِ وَالنَّفَقَةِ وَمَنْعُهَا حَقًّا لَهُ عَلَيْهَا كَذَلِكَ، كَالتَّمَتُّعِ مِنْ غَيْرِ عُذْرٍ شَرْعِيٍّ)
Terjemah :
Dosa besar ke duaratus tujuh puluh empat dan duaratus tujuh puluh lima adalah mencegahnya suami atas hak-hak istrinya, seperti mahar, nafkah. Dan mencegahnya istri atas hak-haknya suami, seperti bersenang-senang, tanpa ada uzur syara’

Bagaimana caranya agar istri bisa terputus dengan pernikahan tersebut?

Jawaban :
Dengan cara faskhun nikah, karena status pernikahan sirri, maka istri melakukan faskhun nikah melalui muhakam (kiyai/ulama) jika tidak ada, maka istri bisa melakukan faskhun nikah sendiri.
Hal itu bisa dilakukan ketika sudah ada penetapan status ketidakmampuan suami dalam memberikan nafkah yang bisa dilakukan oleh qodhi atau muhakkam (kiyai/ulama) dengan adanya saksi jika memang suami diketahui mempunyai harta. bila tidak demikian, maka cukup dengan sumpah dari istri atau pengakuan dari suami.
(As’ilah dari MWC NU Perak)
Referensi :
نِهَايَةُ الزَّيْنِ (ص: 338)
(وَ) لَا فَسْخَ بِإِعْسَارٍ بِمهْرٍ أَوْ نَحْو نَفَقَةٍ (قَبْلَ ثُبُوتِ إِعْسَارِهِ) أَي الزَّوْجِ (عِنْدَ قَاضٍ) أَوْ مُحَكَّمٍ بِشَرْطِ أَنْ يَكُوْنَ مُجْتَهِدًا وَلَوْ مَعَ وُجُوْدِ قَاضٍ أَوْ مُقَلِّدًا وَلَيْسَ فِي الْبَلَد قَاضِي ضَرُوْرَةٍ فَلَا بُدَّ مِنَ الرَّفْعِ إِلَيْهِ وَيَثْبُتُ إِعْسَارُ الصَّغِيرِ بِالْبَيِّنَةِ كَغَيْرِهِ وَإِعْسَارُ غَيْرِهِ بهَا إِنْ عُرِفَ لَهُ مَالٌ وَإِلَّا كَفَى الْيَمِيْنُ عَلَى الْمُعْتَمَدِ …. الى ان قال ….. نَعَمَ إِنْ عَجَزَتْ عَنِ الرَّفْعِ إِلَى الْقَاضِي أَو الْمُحَكَّمِ كَأَنْ قَالَ لَهَا لَا أَفْسَخُ حَتَّى تُعْطِيَنِي مَالًا وَفَسَخَتْ نَفَذَ الْفَسْخُ ظَاهِرًا وَبَاطِنًا لِلضَّرُوْرَةِ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي مَحَلِّهَا قَاضٍ وَلَا مُحَكَّمٌ اِسْتَقَلَّتْ بِالْفَسْخِ فَتَقُوْلُ فَسَخْتُ نِكَاحِي وَصُوْرَةُ الْمَسْأَلَة أَنَّ الرَّفْعَ للْقَاضِي سَبَقَ إِذْ لَا عِبْرَةَ بِمَهْلَةٍ بِلَا قَاضٍ وَكَذَا يُقَالُ فِيمَا سَبَقَ
Terjemah :
Tidak diperbolehkan merusak akad nikah sebab tidak mampu memenuhi mahar atau nafkah sebelum ada ketetapan dari qodli atau muhakam akan ketidakmampuan suami, namun bila istri tidak bisa lapor ke hakim atau muhakam, maka ia bisa menfaskh nikah sendiri dengan ucapakan “aku rusak nikahku”.

بُغِيَّةُ الْمُسْتَرْشِدِيْنَ (ص: 515)
(مسألة : ي) فِي فَسْخِ النِّكَاحِ خَطَرٌ وَقَدْ أَدْرَكْنَا مَشَايِخَنَا الْعُلَمَاءَ وَغَيْرَهُمْ مِنْ أَئِمَّةِ الدِّيْنِ لَا يَخُوْضُوْنَ فِيْهِ وَلَا يَفْتَحُوْنَ هَذَا الْبَابَ لِكَثْرَةِ نُشُوْزِ نِسَاءِ الزَّمَانِ وَغَلَبَةِ الْجَهْلِ عَلَى الْقُضَاةِ وَقَبُوْلِهِمْ الرَّشَا وَلَكِنْ نَقُوْلُ يَجُوْزُ فَسْخُ الزَّوْجَةِ النِّكَاحَ مِنْ زَوْجِهَا حَضَرَ أَوْ غَابَ بِتِسْعَةِ شُرُوْطٍ … الى أن قال …. وثبوت ذلك عند الحاكم بشاهدين أو بعلمه ، أو بيمينها المردودة إن ردّ اليمين ،

Terjemah :
Penetapan hakim atas ketidak mampuan suami dalam memenuhi mahar atau nafkah, menggunakan dua orang saksi, pengetahuan hakim atau sumpahnya istri bila suami tidak mau bersumpah

NKRI HARGA MATI
Baru-baru ini Nahdlatul Ulama sedang didera ujian berupa fitnah-fitnah dari pihak yang berseberangan dengan Nahdlatul Ulama. Bahkan banyak juga provokasi yang dilakukan oleh mereka terhadap warga Nahdlatul Ulama. Di antara provokasi yang dilancarkan oleh mereka adalah soal slogan NKRI Harga Mati khas Nahdlatul Ulama. Menurut pihak yang berseberangan dengan Nahdlatul Ulama baru-baru ini implementasi slogan NKRI Harga Mati adalah terjun langsung ke daerah konflik di Papua untuk berperang melawan Organisasi Papua Merdeka (OPM).

Pertanyaan
Apakah Nahdlatul Ulama dalam mengimplementasikan NKRI Harga Mati berkewajiban berperang melawan OPM di Papua?

Jawaban: Tidak wajib, namun bagi orang yang berada didekat daerah konflik wajib membantu pemerintah, bila diinstruksikan oleh pemerintah sesuai dengan kapasitasnya masing – masing
Referensi :
نِهَايَةُ الْمُحْتَاجِ إِلَى شَرْحِ الْمِنْهاَجِ (7/ 405)
وَيَجِبُ عَلَى الْإِمَامِ قِتَالُ الْبُغَاةِ لِإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ عَلَيْهِ (وَ) لَكِنْ (لَا يُقَاتِلُ الْبُغَاةَ) أَيْ لَا يَجُوزُ لَهُ ذَلِكَ (حَتَّى يَبْعَثَ إلَيْهِمْ أَمِينًا) أَيْ عَدْلًا عَارِفًا بِالْعُلُومِ: أَيْ وَبِالْحُرُوبِ كَمَا لَا يَخْفَى (قَوْلُهُ: وَيَجِبُ عَلَى الْإِمَامِ إلَخْ) أَيْ وَعَلَى الْمُسْلِمِينَ إعَانَتُهُ مِمَّنْ قَرُبَ مِنْهُمْ حَتَّى تَبْطُلَ شَوْكَتُهُمْ اهـ ع ش
Terjemah :
Pemerintah wajib memerangi pemberontak, dan bagi masyarakat yang berada didekat daerah konflik wajib untuk membantu pemerintah, sampai lemahnya kekuatan mereka.

Bagaimanakah implementasi NKRI Harga Mati dalam pandangan fiqh?
(As’ilah dari PC LBMNU Jombang)

Jawaban:
Implementasi NKRI Harga Mati dalam pandangan fiqh adalah menjaga persatuan dan menghindari bahaya perpecahan, menguatkan rasa nasionalisme, tidak mempersoalkan bentuk Negara, dan tidak memaksakan penerapan syariat Islam secara total dengan cara instan.

Referensi :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا (آل عمران 103)
Terjemah :
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.” (QS. Ali Imran: 103)

وَأَطِيعُوا اللهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (الأنفال 46)
Terjemah :
Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bersabar (QS Al Anfal:46)

وَمَا تَكْرَهُونَ فِي الْجَمَاعَةِ خَيْرٌ مِمَّا تُحِبُّونَ فِي الْفُرْقَةِ, فِي الْجَمَاعَةِ رَحْمَةٌ وَ فِي الْفُرْقَةِ عَذَابٌ (رواه الديلمى)
Terjemah :
Dan perkara yang engkau benci saat bersatu lebih baik dari perkara yang engkau sukai saat bercerai berai. Di dalam persatuan terdapat rahmat, dan di dalam perpecahan terdapat bencana”. (HR. Al- Dailami, Dla’if)
كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ فَنَظَرَ إِلَى جُدُرَانِ الْمَدِينَةِ أَوْضَعَ رَاحِلَتَهُ، وَإِنْ كَانَ عَلَى دَابَّةٍ حَرَّكَهَا مِنْ حُبِّهَا (رواه البخارى)

“Ketika Rasulullah hendak datang dari bepergian, beliau mempercepat jalannya kendaraan yang ditunggangi setelah melihat dinding kota Madinah. Bahkan beliau sampai menggerak-gerakan binatang yang dikendarainya tersebut. Semua itu dilakukan sebagai bentuk kecintaan beliau terhadap tanah airnya. ” (H.R. Bukhari).
فَتْحُ الْبَارِى (3\705)
وَفِي الْحَدِيثِ دِلَالَةٌ عَلَى فَضْلِ الْمَدِينَةِ وَعَلَى مَشْرُوعِيَّة حُبِّ الْوَطَنِ وَالْحَنِيْنِ إِلَيْهِ
Terjemah :
Di dalam hadits tersebut menunjukan keutamaan Madinah dan dianjurkannya mencintai tanah air serta merindukannya.

الْعَلَاقَةُ بَيْنَ الدِّيْنِ وَالْوَطَنِ الَّذِى هُوَ رَحْمَةٌ لِلْعَالَمِيْنَ لِلْعَلَامَةِ الشَّيْخِ عَدْنَانَ الْأَفْيُوْنِىّ مُفْتِى الشَّامِ (صـــ 184)
الثَّانِى الْحِفَاظُ عَلَى وَحْدَةِ الْوَطَنِ بِكُلِّ اِعْتِبَارَاتِهِ اِذْ لَا يُمْكِنُ الْحِفَاظُ عَلَى الْوَطَنِ اِلَّا اِذَا حَفِظْنَا عَلَى وَحْدَةِ أَرَاضِيْهِ مِنَ التَّقْسِيْمِ وَوَحْدَةِ مَوَاطِيْنِهِ مِنْ أَسْبَابِ التَّفَرُّقِ وَالتَّمَزُّقِ الَّتِى يُسَبِّبُهَا التَّعَصُّبُ الطَّائِفِىُّ وَالْمَذْهَبِىُّ وَالْعِرْقِىُّ فَاِذَا تَقَسَّمَتْ الأَوْطَانُ اِلَى دُوَيْلَاتٍ وَانْقَلَبَ التَّنَوُّعُ الإِنْسَانِىُّ الَّذِى يَثْرَى وَيُغْنِى اِلَى صُرَاعَاتٍ انِهَارَتِ الْبلِاَدُ وَهَانَ عَلَى أَعْدَائِهَا اِسْتِعْمَارُهَا وَالسَّيْطَرَةُ عَلَيْهَا وَلِذَلِكَ كَانَتْ دَعْوَةُ الْقُرْآنِ دَائِمًا اِلَى تَوَحُّدٍ وَالْإِعْتِصَامِ بِحَبْلِ الشَّرِيْعَةِ الْقَيِّمِ لَا الْإِنْحِرَافِ اِلَى أُتُوْنِ الْمَصَالِحِ وَالْأَهْوَاِء وَالصَّرَعَاتِ فَقَالَ تَعَالَى وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ) وَقَالَ تَعَالَى وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ) وَاخْطُرْ مَا يُهَدِّدُ وَحْدَةَ الْأَوْطَانِ الْإِنْحِرَافُ عَنِ الْقَيِّمِ الْإِيْمَانِيَّةِ الْأَصْلِيَّةِ الَّتِى دَعَانَا اِلَيْهَا الْقُرْآنُ الْكَرِيْمُ وَالسُّنَّةُ الْمُتَطَهِّرَةُ اِلَى أَفْكَارٍ غَرِيْبَةٍ مُشَوِّهَةٍ تَدْعُوْ اِلَى تَكْفِيْرِ النَّاسِ وَاعْتِبَارِهِمْ أَعْدَاءً مِمَّا يُشَرِّعُ قَتْلَهُمْ وَقِتَالَهُمْ وَيُصْبِحُ الْأَخُ عَدُوًّا وَالْجَارُ عَدُوًّا لِجَارِهِ فَيُصْبِحُ أَبْنَاءُ الْبَلَدِ الْوَاحِدِ جَمَاعَاتٍ مُتَصَارِعَةً مُتَقَاتِلَةً تَتَقَرَّبُ اِلِى اللهِ وَسَفْكِ الدِّمَاءِ وَلَيْسَ ذَلِكَ مِنَ الدِّيْنِ فِى شَيْئٍ
Terjemah :
Cara yang kedua dengan menjaga persatuan tanah air dengan segala cara, karena tidak mungkin menjaga tanah air kecuali dengan menjaga persatuan dan kesatuan tanah air dari perpecahan dan peselisihan yang disebabkan oleh fanatik suku, madzhab dan golongan.

الطُّرُقُ الْحُكْمِيَّةُ فِي السِّيَاسَةِ الشَّرْعِيَّةِ (ص: 16)
فَقَالَ ابْنُ عَقِيلٍ : السِّيَاسَةُ مَا كَانَ فِعْلًا يَكُونُ مَعَهُ النَّاسُ أَقْرَبَ إلَى الصَّلَاحِ وَأَبْعَدَ عَنْ الْفَسَادِ وَإِنْ لَمْ يَضَعْهُ الرَّسُولُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَلَا نَزَلَ بِهِ وَحْيٌ
Terjemah :
Siyasah adalah sebuah pekerjaan yang dilakukan untuk mendekatkan manusia pada kemaslahatan dan menjauhkan dari kemafsadahan, meskipun tidak di ajarkan Rosul SAW dan tidak diturunkannya wahyu.

الْفِقْهُ الإِسْلَامِيُّ وَأَدِلَّتُهُ (8/ 6144)
الإِمَامَةُ الْعُظْمَى أَوِ الْخِلاَفَةُ أَوْ إِمَارَةُ الْمُؤْمِنِيْنَ كُلُّهَا تُؤَدِّي مَعْنًى وَاحِداً، وَتَدُلُّ عَلَى وَظِيْفَةٍ وَاحِدَةٍ هِيَ السُّلْطَةُ الْحُكُوْمِيَّةُ الْعُلْيَا وَقَدْ عَرَّفَهَا عُلَمَاءُ الإِسْلَامِ بِتَعَارِيْفَ مُتَقَارِبَةٍ فِي أَلْفَاظِهَا مُتَّحِدَةٍ فِي مَعَانِيْهَا تَقْرِيْباً عِلْماً بِأَنَّهُ لَا تُشْتَرَطُ صِفَةُ الْخِلَافَةِ وَإِنَّما الْمُهِمُّ وُجُوْدُ الدَّوْلَةِ مُمْثَلَةً بِمَنْ يَتَوَلَّى أُمُوْرَهُا وَيُدِيْرُ شُؤُوْنَهَا وَيَدْفَعُ غَائِلَةَ الأَعْدَاءِ عَنْهَا.
Terjemah :
Imamah Udhma, khilafah atau Imaroh mukminin adalah lafadz yang memiliki satu makna dan menunjukkan satu tugas, yaitu pemerintahan tertinggi. Para Ulama Islam mendefinisikannya dengan definisi yang berbeda-beda, namun makna saling berdekatan dengan kesimpulan tidak harus berdirinya khilafah, dan yang terpenting adalah wujudnya pemerintahan yang dipatuhi, dengan pemimpin yang bertugas mengatur dan memutar roda pemerintahan serta menolak bahaya musuh

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ (متفق عليه)
Terjemah :
Perkara yang aku cegah, maka jauhilah. Perkara yang Aku perintahkan, maka lakukanlah semampu kalian” (Muttafaq alaih).
مَا لاَ يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ كُلُّهُ (القاعدة)
Terjemah :
Perkara yang tidak dapat dijangkau secara keseluruhan, bukan berarti ditinggalkan secara keseluruhan”.

كِفَايَةُ الأَخْيَارِ (1\485)
(فَرْعٌ) سَرَقَ شَخْصٌ طَعَامًا فِي وَقْتِ الْقَحْطِ وَالْمَجَاعَةِ فَإِن كَانَ يُوْجَدُ عَزِيزًا بِثَمَنٍ غَالٍ قُطِعَ وَإِن كَانَ لَا يُوْجَدُ وَلَا يَقْدِرُ عَلَيْهِ فَلَا قَطْعَ وَعَلَى هَذَا يُحْمَلُ مَا جَاءَ عَن عُمَرَ رَضِي اللهُ عَنهُ لَا قَطْعَ فِي عَامِ الْمَجَاعَةِ وَالله أعلم

Terjemah :
Bila seseorang mencuri makanan di musim paceklik dan masa krisis, maka apabila pelaku merupakan orang yang enggan membayar dengan harga yang mahal, maka dihukum potong tangan, dan apabila bukan orang yang demikian dan tidak mampu membayar dengan harga mahal, maka tidak dihukum potong tangan. Pada konteks inilah dipahami riwayat dari Sayyidina Umar RA : Tidak ada hukum potong tangan pada masa krisis.

Catatan: Sejumlah pertanyaan dan jawaban di atas adalah Hasil bahtsul masail putaran ke II LBM PCNU Jombang, 28 Januari 2018 di Masjid Jami' Al- Ikhlas Mojowangi, Mojowarno, Jombang

 


Editor:

Bahtsul Masail Terbaru