• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Rabu, 17 April 2024

Amaliyah NU

Amalan setelah Nisfu Sya’ban Sambut Bulan Ramadhan

Amalan setelah Nisfu Sya’ban Sambut Bulan Ramadhan
Ilustrasi perempuan berdoa menyambut bulan Ramadhan. (Foto: Freepik)
Ilustrasi perempuan berdoa menyambut bulan Ramadhan. (Foto: Freepik)

Malam nisfu Sya’ban, waktu yang ditunggu-tunggu umat Islam. Malam ini penuh rahmat Allah swt sekaligus penentuan nasib, lantaran catatan amalnya akan disetorkan. Seseorang akan bernasib baik saat Allah mengampuni dosa-dosa dan dipenuhi dengan catatan amal kebaikan selama setahun. Sebaliknya, seseorang bisa jadi bernasib sial karena dipenuhi catatan amal keburukan, dosa-dosanya tidak diampuni.


Karena itu, mayoritas umat Islam menghidupkan malam nisfu Sya’ban dengan amalan-amalan penting. Seperti membaca surat Yasin tiga kali dilanjutkan dengan membaca doa malam nisfu Sya’ban. Selain itu membaca istighfar, shalat malam, dan seterusnya guna menggapai rahmat Allah swt. Bahkan sebelumnya, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak berpuasa.


Setelah malam nisfu Sya’ban dilewati, bukan berarti bulan Sya’ban tidak lagi istimewa. Sya’ban tetap menjadi bulan istimewa yang kadang dilupakan oleh sebagian orang. Saat sudah melalui nisfu Sya’ban, itu artinya tak lama lagi kita kembalikan akan menjumpai bulan mulia yang juga penuh keberkahan dan rahmat agung Allah swt.


Umat Islam dapat mulai mempersiapkan diri menjemput datangnya bulan Ramadhan dengan penuh suka cita dan pengharapan anugerah dari Allah swt karena telah mulai merasakan suasana kemuliaan Ramadhan.


Berikut ini adalah beberapa amalan dan persiapan setelah melewati nisfu Sya’ban untuk menyambut bulan Ramadhan.


Pertama, melaksanakan puasa sunnah. Puasa setelah nisfu Sya’ban diperbolehkan bagi orang yang sudah terbiasa melakukannya, seperti puasa senin dan kamis, puasa daud, puasa dahar, dan lain-lain. Dibolehkan juga puasa bagi orang yang ingin membayar kafarah, qadha puasa, dan orang yang ingin melanjutkan puasa setelah puasa nisfu Sya’ban.


Kedua, memperbanyak bershalawat kepada Nabi Muhammad saw. Terlebih, perintah bershalawat juga datang pada bulan Sya’ban. Hal tersebut ditandai dengan turunnya Al-Qur’an Surat Al-Ahzab, ayat 56 berikut ini:


اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

 
Artinya, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”


Ketiga, memperbanyak membaca istighfar. Sayyid Muhammad bin Alawi dalam Ithmi’nânul Qulûb memaparkan berikut ini:

 
“Istighfar merupakan amalan utama yang harus dibiasakan orang Islam, terutama pada waktu yang memiliki keutamaan, seperti Sya’ban dan malam pertengahannya”.


“Istighfar dapat memudahkan rezeki, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadits. Pada bulan Sya’ban pula dosa diampuni, kesulitan dimudahkan, dan kesedihan dihilangkan,” sambung Sayyid Alawi.


Keempat, mengistikamahkan berdoa sebagaimana Rasulullah berdoa di bulan Sya'ban. Yakni:


اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ


Artinya, “Ya Allah, berkatilah kami pada bulan Rajab dan bulan Sya’ban. Sampaikan kami dengan bulan Ramadhan.”


Makna dalam doa tersebut menunjukkan permohonan kepada Allah agar diberikan keberkahan di bulan Sya’ban sekaligus panjang umur hingga bisa menikmati bulan Ramadhan, bulan yang penuh rahmat dan ampunan Allah swt. 


Doa panjang umur itu juga dicontohkan oleh Rasulullah saw sebagaimana riwayat hadits berikut: 


كان إذا دخل رجب قال اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان


Artinya, “Jika masuk bulan Rajab, Rasulullah berdoa, ‘Ya Allah, berkatilah kami pada bulan Rajab dan Sya‘ban. Sampaikan kami ke bulan Ramadhan.’”


Kelima, yaitu niat menyambut bulan Ramadhan dengan lapang hati (ikhlas) dan gembira. Karena hal itu dapat menjauhkan diri dari api neraka. Sebuah hadits yang termaktub dalam Durrotun Nasihin menjelaskan dengan.


مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ


Artinya, "Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka"


Keenam, berziarah ke makam orang tua. Mengirim doa untuk mereka yang oleh sebagain daerah dikenal dengan istilah kirim dongo poso. Yaitu mengirim doa untuk para leluhur dan sekaligus bertawassul kepada mereka semoga diberi keselamatan dan berkah dalam menjalankan puasa selama sebulan mendatang. Tawassul dalam berdoa merupakan anjuran dalam islam. Sebagaimana termaktub dalam Surat al-Maidah ayat 35


Diriwayatkan dari sahabat Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulallah Muhammad s.a.w ketika menguburkan Fatimah binti Asad, ibu dari sahabat Ali bin Abi Thalib, beliau berdoa:


 اَللَّهُمَّ بٍحَقٍّيْ وَحَقِّ الأنْبٍيَاءِ مِنْ قَبْلِيْ اغْفِرْلأُمِّيْ بَعْدَ أُمِّيْ


Artinya, "Ya Allah dengan hakku dan hak-hak para nabi sebelumku, Ampunilah dosa ibuku setelah Engkau ampuni ibu kandungku. (H.R.Thabrani, Abu Naim, dan al-Haitsami) dan lain-lain." 


Saling Memaafkan Mengingat bulan Ramadhan adalah bulan suci, maka tradisi bersuci pun menjadi sangat seseuai ketika menghadapi bulan Ramadhan. Baik bersuci secar lahir seperti membersihkan rumah dan pekarangannya dan mengecat kembali mushalla, maupun bersuci secara bathin yang biasanya diterjemahkan dengan saling memaafkan antar sesama umat muslim. Terutama keluarga, tetangga dan kawan-kawan. Hal ini sesuai dengan anjuran Islam dalam al-Baqarah ayat 178;


   فَمَنْ عُفِيَ لَهُ مِنْ أَخِيهِ شَيْءٌ فَاتِّبَاعٌ بِالْمَعْرُوفِ وَأَدَاءٌ إِلَيْهِ بِإِحْسَانٍ ذَلِكَ تَخْفِيفٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَرَحْمَةٌ فَمَنِ اعْتَدَى بَعْدَ ذَلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ


Artinya, "Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (dia) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.(QS. 2:178)

 
*Keterangan ini diambil dan diolah dari beberapa artikel NU Online. Salah satunya berjudul 3 Amalan Utama Menyambut Ramadhan


Editor:

Amaliyah NU Terbaru