Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Fiqih Opini Keislaman Khutbah Mitra

Menelisik Wali Sayyid Ismail Pengawal Putri Campa, Gus Dur Sering Berziarah

Menelisik Wali Sayyid Ismail Pengawal Putri Campa, Gus Dur Sering Berziarah
Menelisik Wali Sayyid Ismail Pengawal Putri Campa, Gus Dur Sering Berziarah. (Foto: NU Online Jombang/Karimatul Maslahah)
Menelisik Wali Sayyid Ismail Pengawal Putri Campa, Gus Dur Sering Berziarah. (Foto: NU Online Jombang/Karimatul Maslahah)

NU Online Jombang, 
Sayyid Ismail adalah salah satu wali yang makamnya berada di Dusun/Desa Janti, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang. Tokoh ini menurut juru kunci makamnya, Supriadi masih punya hubungan yang erat dengan makam wali di Mojokerto yaitu Troloyo.


“Menurut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Sayyid Ismail adalah pengawal Putri Campa, hal ini kami abadikan dengan tulisan di gapura pintu masuk makam arah selatan,” tuturnya pada NU Online Jombang, Kamis (11/11/2021).


Menurut data yang dihimpun media ini, makam Putri Campa terletak di Desa/Kecamatan Trowulan, Mojokerto. Ia adalah Istri Raja Brawijaya V yang menjadi cikal bakal tersebarnya ajaran Islam di bumi Majapahit.


Kisah Putri Campa dan masuknya Islam ke Majapahit sempat ditulis oleh pemerhati sejarah Mojokerto, Saiful Amin dalam bukunya 'Babad Keruntuhan Majapahit Invasi Raden Patah Suatu Kemustahilan Sejarah'.


Keberadaan Putri Campa di Majahit ini mengundang banyaknya imigran Muslim asal Campa yang dipimpin oleh Makdum Brahaim Asmara untuk datang ke Kerajaan Majapahit sekitar tahun 1476-1478 masehi. 


Terdapat nama-nama ulama besar di antara imigran asal Campa yang datang ke Majapahit. Antara lain Raden Rahmat atau Sunan Ampel, ayah Raden Rahmat Makdum Brhaim Asmara atau Ibrahim Asmarakandi, Raden Santri Ali, Raden Ali Murtolo, serta Raden Burereh.


Menurut Supriadi, kiprah Putri Campa tidak bisa dilepaskan dari Sayyid Ismail sebagai pengawalnya. Sosok yang oleh berbagai tokoh diyakini adalah seorang wali, sehingga sampai sekarang masih banyak yang berziarah ke makamnya.


“Sebenarnya makam ini dulu keramat, bahkan tidak ada orang berkunjung sama sekali. Dan setelah diketahui bahwa ini makam wali, masyarakat sekitar mulai berziarah bahkan Gus Dur juga sering ziarah ke makam Sayyid Ismail," ungkapnya. 


Di tengah makam Sayyid Ismail terdapat sumur yang sumber berbeda dari sumber sumur masyarakat setempat. 


“Dulu ceritanya waktu mau masang tiang untuk teras di depan makam Mbah Sayyid itu ambles, saat itu dilihat ternyata ada sumber air yang keluar. Memang ceritanya aliran airnya dari Sunan Ampel dan Trowulan, karena arah sumbernya berbeda dengan milik masyarakat setempat,” ungkapnya.


Terkait dengan kemunculan air yang tidak pernah habis tersebut, ternyata Gus Dur sangat menyukai air tersebut yang tidak ditemukan di makam wali yang ada di Jombang lainnya.


“Waktu Gus Dur datang ke sini, saya melihat beliau sampai tiga kali mengambil air sumur ini dan memasukkannya ke dalam botol dan di bawah pupang”pungkasnya.


Menurutnya, sumber air yang berada di tengah makam Sayyid Ismail diyakini dapat menyembuhkan penyakit, mujarabnya pada hari Jumat Kliwon.


Kontributor: Karimatul Maslahah
Editor: Ahmad 

Terkait

Warta Lainnya

terpopuler

rekomendasi