• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Selasa, 27 Februari 2024

Opini

Selain Penawar Racun dan Adzab, Membaca Al-Fatihah Seperti Membaca Ratusan Kitab Langit

Selain Penawar Racun dan Adzab, Membaca Al-Fatihah Seperti Membaca Ratusan Kitab Langit

Oleh Ali Makhrus*

Al-Qur’an merupakan wahyu yang berisi petunjuk bagi manusia agar dapat menjalankan kepemimpinan (khalifah) dengan tepat, benar dan manfaat. Hanya saja, manusia tidak selalu enak dalam menjalankan perjuangan, ada saja yang ingin mencelakai serta dengan berbagai cara, seperti “racun”.

Tradisi Kiai-kiai Nusantara, setiap kali ada orang yang sedang mengalami masalah dalam berbagai persolan hidup, memberikan wejangan dengan membaca al-Fatihah sebanyak-banyaknya, agar dapat keluar dari kehimpitan kesusahan dunia. Bagi orang awam, ‘percaya’ dan ‘sendiko dawuh’ kepada wejangan tersebut merupakan keniscayaan.

Atas berkat dan rahmat Allah SWT, apa saja yang menghalangi dalam perjuangan, serta kesulitan-kesulitan hidup, dapat menyingkir  dari mereka dan orang-orang yang mengamalkan al-Fatihah. Hanya saja, kebiasaan seperti ini, zaman sekarang sudah semakin ditinggalkan, karena ntah karena dunia medis semakin berkembang atau kemunduran keyakinan dan kualitas kepercayaan yang menurun atas “kesucian dan keagungan” al-Qur’an, termasuk al-Fatihah.

Pengingat, dari fakhruddin al-Razi dalam “Mafatih al-Ghaib”: 184, juz 01, beberapa di antara keutamaan dan keistimewaan al-Qur’an ialah menyelamatkan dari “racun” (al-summ). Peryataan ini didasarkan kepada sebuah riwayat dari Abu Said al-Khudriy, dari Nabi Muhammad SAW, Sungguh Nabi bersabda: “Fatihatu al-Kitabi Syifaau min al-Summi” (Al-Fatihah adalah obat dari segala racun).

Selain dari riwayat al-Khudriy, dari Hudzaifah al-Yamani berkata, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Anna al-Qaum Layab’atsa Allahu ‘Alaihim al-‘Adzab Hatman Maqdiyyan, Fayaqrau Shobiyyun min Shibyanihim fi al-Maktabi “al-Hamdulillahi Rabbi al-‘Alamin, fayasma’uhu Allahu Ta’ala Fayarfa’u ‘Anhum Bisababihi  al-Adzab Arba’ina Sanah” (sungguh ada kaum yang sudah mendapat kepastian jadwal akan mendapat adzab dari Allah SWT, tiba-tiba ada salah satu anak dari anak-anak mereka yang sedang berada di perpustakaan yang membca “al-Hamdu Lillahi Rabbi al-‘Alamin”, lantas Allah SWT mendengarnya, seketika AllahSWT mencabut kembali dari mereka keputusan hukum (adzab) sebab anak pembaca tersebut selama empat puluh tahun).

Selain terhindar dari mara bahaya dan adzab, membca al-Fatihah seperti membaca kitab-kitab kiriman dari langit sebanyak 104 kitab. Hal ini didasarkan pada ungkapan dari Husein ra, dia berkata: “Allah telah menurunkan sebanyak 104 kitab dari langit, lalu Allah menitipkan pengetahuan-pengetahuan 100 kitab pada empat kitab lainnya, ialah Taurat, Injil, Zabur dan al-Furqan.

Kemudian, pengetahuan empat kitab, Allah menitipkannya kepada al-Furqan. Lalu Allah menitipkan pengetahuan-pengetahuan al-Furqan ke dalam perincian-perincian.  Lagi, Allah pu menitipkan ilmu perincian-perincian ke dalam al-Fatihah, oleh sebab itu “barang siapa yang mempelajari tafsir atau penjelasan dari al-Fatihah, maka jadilah dia seperti orang yang mempelajari seluruh kitab-kitab Allah yang diturunkan. Barang siapa yang membacanya, maka dia seperti membaca kitab “Taurat, Injil, Zabur dan Al-Furqan”.

Apa yang penulis kemukakan di atas tiada lain dalam rangka saling mengingatkan kebaikan di bulan suci Ramadhan. Tamu mulia ini sudah sepatut dan selayaknya kita sambut dengan riang gembira dan suka cita dengan memperbanyak kegiatan-kegiatan baik sebagai ciri orang “saleh”, serta kegiatan-kegiatan yang membangun sebagai ciri orang “mushlih”. 

Sumber: Tafsir “Mafatihul Ghaib” karya Muhammad ar-Razi Fakhruddin ar-Razi

*Penulis adalah warga NU asal Madiun, Jawa Timur, Mahasiswa Magister Program "Islamic Studies" di SPs UIN Jakarta


Editor:

Opini Terbaru