Home Warta Daerah Laporan Keuangan Bahtsul Masail Nasional Pengurus BMT NU Fiqih Opini Keislaman Amaliyah NU Khutbah Ekonomi Nyantri BMT NU

Sejarah Ahlussunnah wal Jama'ah

Sejarah Ahlussunnah wal Jama'ah
Ilustrasi Ahlussunnah wal Jama'ah. (Foto: NU Online)
Ilustrasi Ahlussunnah wal Jama'ah. (Foto: NU Online)

Aswaja itu adalah Islam itu sendiri, konsistensi ber-Islam ala Rasulullah dan para sahabatnya.

Sehingga tidak bisa dikatakan bahwa Aswaja itu adalah paham baru sebagai respons atas tantangan aliran lain. 

Sebelum era Imam Abul Hasan al Asy'ari (w. 324 H) pun telah ada Aswaja dengan para imamnya, dengan pengertian pemahaman Islam yang mengikuti komunitas mayoritas setiap masa.

Tiga Komunitas Awal Terbaik; Masa Salaf

Komunitas pertama dalam Islam adalah komunitas para sahabat. Komunitas ini dipuji oleh Rasulullah dan dijadikan sebagai landasan kebenaran. 

Karena itu Rasulullah dalam riwayat yang dikutip Imam as Syahrastany (w. 548 H) menyebut Ahlussunnah wal Jama'ah itu adalah "ma ana alaihi wa ashhaby" (golongan yang mengikuti sunnahku dan sunnah para sahabatku).

Rasulullah juga memuji tiga komunitas pertama itu sebagai generasi terbaik, yaitu era sahabat, era tabiin, dan era tabiut tabiin, yang disebut juga era salaf, atau 300 tahun pertama.

Imam Ahmad dan Persekusi Muktazilah

Imam Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H) adalah ulama terkemuka pendiri madzhab Hanbaly, yang dikenal sebagai pakar hadits. Beliau termasuk ulama salaf, muridnya Imam Muhammad ibn Idris as Syafii (w. 204 H).

Pada masa khalifah ketujuh dari Bani Abbasiyah, yaitu al-Makmun ibn Harun ar Rasyid (w. 218 H), beliau bersama para ulama Ahlussunnah lainnya dihadapkan kepada khalifah untuk diinterogasi pandangannya tentang  kemakhlukan Qur'an. Beliau tetap kukuh menyatakan bahwa Qur'an adalah kalamullah.

Pada masa khalifah kedelapan, al-Muktashim ibn Harun ar Rasyid (w. 227 H) Imam Ahmad tetap diinterogasi. Diusulkan agar beliau dibunuh, tapi khalifah takut amukan masyarakat.

Akhirnya Imam Ahmad dibebaskan walau interogasi kepada ulama lain masih terus berlanjut. Para ulama dan masyarakat semakin simpati kepada Imam Ahmad, yang teguh membela akidah Ahlissunnah wal Jama'ah. 

Kegagalan Muktazilah

Pada masa Al-Watsiq ibn Muktashim (w. 232 H), interogasi kepada para ulama masih berlanjut, hingga akhirnya khalifah bosan, karena hasilnya sangat sedkit bahkan gagal.

Seorang ulama sepuh yang dihadapkan kepada khalifah, ditanya ulama Muktazilah yang bernama Ibnu Abi Duad, “Apakah Qur'an itu makhluk?" Dengan cerdik ulama ini balik bertanya, “Apakah kemakhlukan Qur'an ini sudah diketahui Khulafa Rasyidin dan apakah mereka agresif memaksa seperti kaum Muktazilah atau justru cukup dengan berdiam diri?”

Kaum Muktazilah terdiam karena nyatanya mihnah Qur'an ini tak pernah dicontohkan sebelumnya oleh Khulafa Rasyidin dan kenyataannya akidah Qur'an itu makhluk bukanlah bagian dari akidah para beliau dan juga bukan akidahnya ulama salaf yang shalih.

Karena kagum terhadap pandangan ulama ini, khalifah pun membebaskan sang ulama tersebut.

Perlunya Ilmu Kalam

Muktazilah menantang debat para ulama dengan memakai ilmu kalam, dengan ciri mengutamakan akal, dan mereka meremehkan para ulama sebagai orang awam yang hanya berputar dan menguasai pada dalil Qur'an hadits.

Pada masa Imam Abul Hasan al Asy'ari (w. 324 H), beliau mengajak dialog para tokoh Muktazilah, termasuk kepada ayah tiri beliau, Syekh Ali al Jubaiy, hingga tokoh Muktazilah ini tak berkutik atas kehebatan berhujjah Imam Asy'ari yang memakai ilmu kalam secara benar, sebagai mantan Muktazilah.

Keberhasilan Imam Asy'ari ini membuat simpati para ulama, di samping beliau menulis banyak kitab yang membantah Muktazilah. 

*Ustadz Yusuf Suharto, tim Aswaja NU Center Jawa Timur 

Opini Lainnya

terpopuler

rekomendasi