• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Rabu, 17 Agustus 2022

Nyantri

Perang Jombang (2): Menjaga Kemerdekaan

Perang Jombang (2):  Menjaga Kemerdekaan
Bangunan Lama Stasiun Jombang Kota di Pasar Legi. (Foto: Jawa Pos Radar Jombang)
Bangunan Lama Stasiun Jombang Kota di Pasar Legi. (Foto: Jawa Pos Radar Jombang)

Oleh: M Fathoni Mahsun*

Indonesia merdeka, bukannya membuat keadaan membaik, malah justru banyak hal menjadi tak menentu. Proklamasi bukannya membuat para penjajah angkat kaki, malah membuat mereka ingin kembali.

Ini bisa dimaklumi, karena meski sudah memproklamasikan sebagai negara merdeka,  Indonesia belum punya apa-apa.

Jangankan kedaulatan penuh, pengakuan dari negara lain pun masih sulit didapatkan. Jangankan sistim kenegaraan, bentuk negara pun belum jelas. Bagi negara-negara yang pernah mengangkangi Indonesia, kemerdekaan Indonesia hanya omong kosong. Sebuah ambisi yang tak bertaji.

Maka selain urusan politik terkait dengan pengakuan dunia internasional, hal mendesak adalah membentuk angkatan perang. Sebab mustahil teriak-teriak merdeka, tapi tidak punya prajurit. Siapa yang akan mengawal kemerdekaan itu, dan menjaga kalau musuh datang sewaktu-waktu?

Sukarno sebagai presiden lalu menggagas angkatan perang. Seiring dengan Indonesia sebagai sebuah negara, yang masih labil.

Angkatan perang bentukan Soekarno juga mengalami berkali-kali perubahan, sebelum akhirnya menggunakan nama Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 oktober 1945.

Perintah pembentukan TKR tersebut berlaku untuk seluruh wilayah republik, termasuk Jawa Timur. Bertahap setelah terbentuk di tingkat propinsi, pembentukan TKR merembes ke tingkat kabupaten. Hanya saja pembentukan TKR ini dihantui permasalahan yang sulit dihindari; rivalitas antara eks KNIL didikan Belanda, dan PETA didikan Jepang.

Di Jawa Timur, Soekarno menunjuk drg. Mustopo sebagai komandan.  Trah pendidikan militernya jelas, dokter gigi ini adalah jebolan PETA seangkatan dengan Sudirman.  Akibatnya bisa ditebak, struktur pimpinan TKR di Jawa Timur banyak diisi jebolan PETA. Di Jawa Barat jebolan KNIL yang mendominasi.

Untuk pembentukan TKR di Jombang, terpilihlah sebuah nama yang cukup meyakinkan. Kretarto, pernah aktif di Seinendan  dan kemudian mengikuti pendidikan Syudancho  PETA di Bogor. Dari silsilah keluarga, dia merupakan turunan ningrat asal Bandung. Di depan namanya biasanya tertulis huruf R, kepanjangan dari raden. 

Silsilah keluarga ningrat begini harapanya akan lebih mudah menjalin komunikasi dengan bupati Jombang yang juga keturunan ningrat, Raden Adipati Arya Setjoadiningrat.

Raden Setjo merupakan anak Bupati Jombang pertama, Raden Adipati Arya Soeroadiningrat, atau biasa disebut kanjeng sepuh. Kanjeng sepuh sendiri merupakan anak dari Bupati Sedayu. Kanjeng Soeroadinigrat dipilih menjadi bupati pertama di Jombang karena kesaktiannya. Ketika itu Jombang adalah sarangnya bromocorah, begal, maling, dan sejenisnya. Tidak bisa pegang wilayah Jombang kalau bukan orang sakti.

Pada wilayah demikian pula Kretarto ditempatkan. Dia  yang merintis keberadaan TKR di Jombang, sejak namanya belum menggunakan tentara, tapi masih Badan Keamanan Rakyat (BKR), pada akhir agustus 1945, atau sesaat setelah proklamasi kemerdekaan. Dalam situasi yang dipenuhi uforia semangat kemerdekaan, di satu sisi. Dan kegamangan untuk berdikari  menjadi bangsa yang berdiri di atas kaki sendiri, di sisi lain.

Dalam segala zaman, berada dalam situasi yang saling bertolak belakang tersebut, akan muncul manusia-manusia yang mencari keuntungan untuk diri sendiri.

Merintis lembaga ke-tentara-an bukanlah hal mudah. Siapa yang akan diajak bicara? Siapa yang akan diajak kerjasama? Serta siapa yang menyediakan fasilitas dan biaya? Ini kan negara yang baru lahir kemarin sore, dengan hanya berbekal semangat, tanpa sokongan kekuatan keungan memadai.

Sementara itu dari atasan, Kretarto hanya dibekali sebuah petunjuk singkat, “rangkul semua pihak jangan hanya minta bantuan pada teman dekatmu saja. Karena kamu tidak mungkin menghimpun pasukan dalam jumlah besar, kalau kamu tidak terbuka.”

Dalam kurun waktu dua bulan ini Kretarto melakukan sebisanya apa yang dia bisa lakukan. Bagaimana pun seorang prajurit pantang berkelit dari perintah, walau sesusah apapun perintah itu. 

Dia bagai tak kenal waktu, istirahat baginya merupakan barang mewah. Tidak boleh buang-buang waktu, karena musuh bisa kembali kapan saja. Untuk itu semua, dia pun terpaksa mondar-mandir Surabaya-Jombang. 

Di Surabaya, selain harus tetap koordinasi dengan Moestopo, Soengkono dan lainnya, rumahnya memang di sana. Sudah beberapa tahun sejak keluar dari Bandung, kota yang dia tuju memang Surabaya.  Di Surabaya, Kertarto juga meninggalkan Roekmini, istrinya. Gadis cantik asal Probolinggo yang baru dinikahinya setahun lalu.

“Jadi kamu sudah punya tim yang fix di Jombang?” selidik Moestopo ketika mendapat laporan dari Kertarto.

“Setidaknya untuk sementara ini. Kalau harus berubah lagi, dipikir nanti.”

“Hahaha...., apa masih ada masalah dengan bekas tentara Belanda, KNIL?”

“Tenang saja, sudah beres kalau urusan itu.”

“Sesuai petunjuk Bapak. Prinsip utamanya. Baik KNIL kek, PETA kek, Heiho kek, Hisbulloh kek, TRIP kek..., semuanya harus dilibatakan. Kita butuh tenaga dan kemampuan mereka sebagai orang-orang-orang yang sudah pernah mendapatkan pelatihan perang.”

“Betul. Saya sangat setuju itu. Mengumpulkan tenaga-tenaga yang sudah terlatih adalah cara yang paling cepat untuk kebutuhan kita memiliki angkatan perang.”

“Itu sudah saya lakukan di Jombang.”

“Tapi saya tidak menutup mata, dengan beragamnya asal kesatuan, serta perbedaan ideologi yang didapat, berpotensi menimbulkan gesekan. Apalagi di Surabaya ini. Di sini masih ada pemuda minyak, Pesindo, Tentara laut, belum lagi pemuda-pemuda kampung. Waduh pusiiing kalau dituruti kemauan mereka satu-satu.” 
Moestopo sambil menupuk keningnya berkali-kali.

“Benar, tapi kita diuntungkan dengan situasi. Perbedaan itu seakan terlupakan ketika mereka menyadari bahwa ada musuh bersama yang harus dihadapi.”

“Nah, itu. Benar kata kamu. Saya sudah keliling setiap hari di Surabaya ini. Di kampung-kampung, rakyat baik muda, tua, besar, kecil sudah bersiap-siap menjaga kampungnya masing-masing. Kalau sewaktu-waktu Belanda benar-benar datang kembali. Hanya cukup menunggu orang yang bisa memerintahkan perang, mereka akan berangkat perang. Tapi yang saya sesalkan, di bawah rakyat sudah siap perang, lho lha kok pimpinan di Jakarta pinginnya berunding saja dengan Belanda.”

“Aku juga tidak ngerti jalan pikiran mereka, yang aku tahu aku ini prajurit, urusannya menyiapkan pasukan untuk perang.”

“Kalau kamu boleh berpikiran seperti itu, karena tanggung jawab mu ke aku. Tapi aku tanggung jawabnya ke Presiden, lha Presidennya seperti itu...”

“Lha apa kita bertukar posisi, saya yang jadi atasan Bapak, Bapak yang jadi bawahan saya?”

“Hahaha.., ngawur kamu. Tapi ngomong-ngomong saya masih penasaran, bagaimana kamu menaklukkan mantan anggota KNIL?”

“Itu mah gampang atuh, Pak.”
“Gampang gimana?”

“Walaupun orang-orang KNIL itu lebih senior dari kita secara usia, juga lebih berpengalaman berdinas di ke-tentara-an, tapi kalau kita menang jumlah, tetap saja mereka kalah suara atuh Pak.”

“O..., pinter kamu, pinter. Mereka yang lebih tua dari kamu itu, mau nurut ke kamu?”

“Mau, Pak. Meski demikian, saya selalu minta pendapat mereka, kan mereka pada beberapa hal lebih berpengalaman.”

Kretarto walaupun sudah berhasil membentuk tim yang solid, tapi bukan berarti pekerjaannya selesai. Jumlah pasukan TKR Jombang dari hasil mengumpulkan mantan-mantan didikan militer Jepang, dan militer Belanda, hanya terkumpul beberapa kompi saja. Masih sangat kurang untuk kebutuhan mempertahankan Jombang, saja. Apalagi untuk mengirim bantuan pasukan. 

Oleh karenanya, pekerjaan besar berikutnya adalah membuka pendaftaran prajurit-prajurit baru. Dan ini harus dilakukan secepat mungkin, sebelum kedahuluan Belanda datang. 

Karena kabar kedatangan kembali Belanda, sepertinya bukan hanya isapan jempol.

*Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Jombang. 

Catatan: Tulisan ini adalah penggelan dari Novel 'Perang Jombang'


Editor:

Nyantri Terbaru