• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Rabu, 17 Agustus 2022

Nyantri

Perang Jombang (7): Mempersiapkan Pasukan

Perang Jombang (7): Mempersiapkan Pasukan
Jenderal Sudirman inspeksi pasukan di Mojokerto bersama Kolonel Soengkono. (Foto: Istimewa)
Jenderal Sudirman inspeksi pasukan di Mojokerto bersama Kolonel Soengkono. (Foto: Istimewa)

Oleh: M Fathoni Mahsun*

Ruang rapat sudah penuh dengan para perwira TKR Jombang. Asap rokok mengepul memenuhi seisi ruangan. Semakin malam, hawanya bukan semakin dingin, tapi semakin panas karena asap dan ruangan yang sengaja ditutup rapat. Di luar gedung, dijaga ketat.

“Sejauh ini alhamdulillah kita sudah menemukan kata sepakat dengan para petinggi lasykar, bahwa kita akan berjuang bersama-sama menghadapi musuh yang akan datang.” Kretarto mulai memaparkan perkembangan situasi.

“Termasuk sore tadi, ketika saya menghadap Pak Kholiq, atau orang Jombang biasa memanggil Gus Kholiq. Kita dapat petunjuk yang berarti dari beliau. Bahwa urusan dengan Hisbulloh batasannya jelas. Hisbulloh biarkan merekrut anak-anak santri pesantren, dan murid-murid madrasah. Kita di luar itu.” Satu bagian lagi terpaparkan.

“Dengan Pesindo lebih mudah lagi. Mereka hanya merekrut kader-kader yang mereka punya. Itu pun akan diserahkan kita untuk melatihnya. Jalan kita sekarang terang benderang. Sesuai rencana sebelumnya; bikin pengumuman, sebarkan ke desa-desa melalu para pamong. Kita juga akan menyiarkan melalui radio.”
“Tentang tempat pelatihan Pak Kret?” salah satu peserta rapat menanggapi.

“Sudah ada beberapa pilihan. Tinggal besok pagi kita lihat mana yang paling pas. Bukan begitu Pak Manan?” Pak Manan yang dimaksud, bernama lengkap Kapten Manan Anis.

“Iya, ada beberapa pilihan gedung peninggalan Belanda yang bisa dipakai. Cuma sebagian masih ditempati para interniran Belanda dan beberapa masyarakat sipil Jepang. Sebagian lagi sudah kosong.”

“Gedung mana yang masih di tempati, Pak Manan?”

“Ada beberapa gedung dengan halaman luas. Karena tempat seperti itu cocok untuk menampung para pengungsian.”

“Berarti malah justru tempat-tempat tersebut sepertinya yang cocok untuk latihan perang?”

“Ya, Pak Kret.”

“Sebentar. Itu statusnya tawanan perang atau rampasan perang?” tiba-tiba ada pertanyaan dari peserta rapat.

“Maksudnya?” Kapten Manan mencari kejelasan

“Maksudnya Pak Manan, kalau rampasan perang berarti kan hak milik, halal, boleh digunakan sesuai kebutuhan.” spontan Kretarto nyeletuk dengan pikiran nakalnya. Tidak ada yang berani bercanda disaat seperti ini, kalau tidak dimulai sendiri oleh pimpinannya.

“Ha ha ha...,”

Rapat berlangsung hingga larut malam. Banyak yang dibicarakan, termasuk pembahasan hal sensitif, bagaimana menjaga kebersamaan antara eks PETA dan eks KNIL. Setelah pembahasan yang cukup alot, beberapa personil eks KNIL akhirnya ditunjuk sebagai pelatih. Ada alasan yang tidak diungkapkan dalam rapat tersebut, tapi cukup disadari di batin masing-masing. 

Bahwa eks KNIL menguasai teknis dan taktis perang yang lebih matang. Itu karena untuk menjadi perwira di KNIL butuh waktu pendidikan sampai 3 tahun. Namun pelatih tidak semuanya diambil dari eks KNIL, juga diambil dari eks PETA. Alasannya adalah kecepatan. Bayangkan saja. Jepang hanya butuh waktu 18 bulan membentuk PETA. Mulai dari komandan batalion, yang biasa disebut Daidanco, sampai pembantu tentara, yang disebut Heiho. Kecepatan ini dibutuhkan, karena waktu yang dipunyai sangat singkat.

Ayam mulai berkokok tanda bahwa rapat harus sudah diakhiri. Untuk selanjutnya melaksanakan bagian masing-masing. Kretarto sendiri memilih tidak pulang ke rumah, tapi langsung investigasi ke tempat-tempat yang akan dipilih untuk pelatihan. Agar ketika matahari menyingsing, sudah bisa ditentukan tempat yang akan digunakan pelatihan.

Kabar dari Gus Kholiq, ternyata para Kyai berkumpul di Surabaya menyikapi akan datangnya tentara Sekutu tak lama lagi. Tak lama lagi sekutu akan datang. Berarti persiapan menyambutnya harus dikebut secara marathon. Tidak ada kesempatan istirahat, karena para Kyai yang rata-rata sudah sepuh saja mau berjibaku.

Sekutu akan datang, TKR baru akan melatih pasukan. Ini namanya apa kalau tidak konyol. Pemenang perang dunia II itu akan dihadapi oleh anak-anak yang baru beberapa hari latihan perang. Ditinjau dari teori perang mana pun pasti mengatakan; akan terjadi peperangan yang tidak imbang.

Bagaimana hal ini tidak menggelisahkan? Sudah barang tentu berita menggelisahkan tersebut tidak boleh terdengar dulu oleh yang lain. Cukup beberapa orang saja ditingkat pimpinan. Dan perekrutan pasukan baru harus tetap jalan. Bagaimana pun, mempersiapkan diri dan tidak mempersiapkan diri menghadapi sekutu, pasti beda.

Kretarto pun sudah filling kalau dia belum tentu bisa mengawal terus proses di Jombang. Makanya, senyampang dia masih di Jombang, dia lakukan apa yang bisa dilakukan. Keterbatasan jumlah Perwira berpangkat Letkol seperti dirinya, cepat atau lambat akan ditarik ke Surabaya. Untuk dikerahkan menghadapi sekutu.
Untungnya, istrinya sudah sejak beberapa hari lalu ia boyong ke Jombang. Kalau masih di Surabaya, pasti akan menghawatirkan. Surabaya sedang siaga perang.

*Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Jombang 

Catatan: Tulisan ini murni diambilkan dari sebuah novel berjudul Perang Jombang karya penulis sendiri. Beberapa kisah berseri dimuat NU Jombang Online atas izin penulis


Editor:

Nyantri Terbaru