• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Rabu, 17 Agustus 2022

Nyantri

Perang Jombang (6): Melobi Pesindo

Perang Jombang (6): Melobi Pesindo
Gedung yang pernah digunakan markas Pesindo, letaknya di depan Kodim Jombang. (Foto: Istimewa)
Gedung yang pernah digunakan markas Pesindo, letaknya di depan Kodim Jombang. (Foto: Istimewa)

Oleh: M Fathoni Mahsun*

Sementara itu Lasyakar Pesindo pun sudah dihubungi. Kretarto tidak bisa langsung memimpin rombongan TKR mengunjungi markas Lasykar Pesindo, karena dia sudah terlanjur janji menjemput istrinya di Surabaya. Rumah yang dijanjikan pada istrinya sudah didapatkan. Dengan demikian Kretarto bisa memboyong istrinya ke Jombang.

Kretarto datang ke Surabaya dengan membawa hadiah sepotong kain untuk istrinya. Itu karena waktu yang dijanjikannya molor. Dia janji maksimal 3 hari sudah bisa memboyong istrinya. Tapi nyatanya satu minggu baru dia dapat rumah. Kalau masih beruntung, dia akan mendapati istrinya di Surabaya. Tapi, kalau tidak terpaksa harus meluncur ke Probolinggo. Demikian ultimatum istrinya, sebelum dia berangkat ke Jombang tempo hari.

Nyatanya Roekmini masih di Surabaya. Kretarto sebenarnya sudah menduga itu. Karena sejak menikah dan tinggal di Surabaya, Roekmini hanya pernah sekali diajak Kretarto pulang ke Probolinggo. Itu pun naik kendaraan milik bekas tentara Jepang. Kretarto tidak pernah mengajaknya pulang naik kereta api. Sehingga kecil kemungkinan Roekmini punya nyali pulang sendiri ke Probolinggo naik kereta. Kecuali saking nekatnya.

“Maaf sayang, aku agak telat. Tapi aku sudah dapatkan rumah untuk kita tinggali di Jombang.” Kretarto bukannya tidak tahu istrinya senang melihat dia pulang untuk menjemput. Walaupun kesenangan itu terbungkus cemberut. 

“Ini aku bawakan oleh-oleh untukmu, biar tidak ditekuk-tekuk gitu mukanya.” Ia sodorkan bungkusan pada istrinya.

“Apa ini Aa’?”

“Sudah buka saja!!”

“Waaahhhhh...,” mata Roekmini langsung membelalak, tekukan-tekukan di wajahnya sirna seketika, bagai baju habis distrika. Kain adalah barang langka, di zaman pergolakan begini. Tentu tidak mudah mendapatkannya.

“Tapi di Jombang nanti jangan tuntut aku selalu menungguimu ya, aku masih harus sering pulang malam.”

“Memang seperti itu kan selama ini?”

“Takutnya, kamu nanti nuntut lebih.”

“Siap komandan Kretarto, dizinkan pulang malam. Istrimu siap menanti.”

“Nah gitu dong. Jangan manja-manja ya jadi istri prajurit.”

“Malamnya jam 10 ya...”

“Tuh kan....”

“Jam 11”

“Kalau begini, kamu di Surabaya aja deh...”

“Eh...., iya, iya..., sayang. Gitu aja dimasukkan hati.” Buru-buru Roekmini menggelayut di lengan suaminya, seakan tidak mau melepaskannya lagi. Kretarto membiarkannya beberapa saat. Entah mengapa dia juga merasa senang selalu ada yang menanti.

Begitu sampai di Jombang, Kretarto langsung meminta laporan tentang Pesindo pada wakilnya, Moenawar. Sembari dia menyampaikan pada anak buahnya bahwa di Surabaya keadaan semakin memanas. Terdeteksi ada pergerakan para ulama merapat ke Surabaya. Termasuk ulama Jombang, Kyai Hasyim Asy’ari, Kyai Wahab, Kyai Bisyri, dan beberapa Kyai lainnya. Tapi Kretarto belum sempat tahu untuk apa mereka ke Surabaya, karena harus buru-buru ke Jombang.

“Pesindo sudah kita datangi, dan menyatakan sepakat dengan pemikiran kita untuk bergerak beriringan membela negara yang sedang kritis ini. Bahkan mereka bersedia mengirimkan kader-kadernya untuk dididik di TKR.” Lapor Moenawar.

“Bagus. Tampung saja.”

“Tapi....,” mulut Moenawar tercekat.

“Tapi apa?”

“Entah lah, ada yang mengganjal dipikiranku. Mereka bisa serta-merta menyediakan kadernya, yang kalau saya hitung bisa berjumlah 5 kompi. Bayangkan!!! Hisbulloh yang dengan sangat terbuka pada kita tentang sikapnya membela negara yang menurut mereka sedang genting, tidak rela kok melepas kadernya pada kita. Mereka pilih mendidiknya sendiri. Ini Pesindo malah berpikir sebaliknya.”

“Apa menurutmu sikap Pesindo yang seperti itu tampak aneh, karena selama ini mereka sering mempunyai agenda terselubung?”

“Itu dia.” Moenawar mengacung-acungkan jarinya tanda setuju.

“Oke.., oke. Kita akan pantau terus perkembangannya. Yang lebih penting lagi, kita harus gerak cepat. Segera kita kumpulkan para perwira untuk menyikapi temuan di lapangan. Termasuk ketika ke Surabaya saya dapat kabar kalau di sana ada BBM  jebolan Jibakutai, yang berasal dari Jombang. Ini berarti di Jombang sudah ada BBM hanya kita belum ketemu orangnya.”

“Kapan kita kumpulkan para perwira?”

“Sore ini. Surabaya sudah seperti perempuan bunting 9 bulan. Kita harus siaga.”

“Ketemu dengan Pak Kholiq?”

“Oh ya hampir lupa. Rapat dengan para perwira nanti malam kalau begitu, sore ini kita menemui Pak Kholiq. Aku juga perlu menanyakan ada agenda apa para kyai ke Surabaya.”

“Baik, akan segera saya siapkan segala sesuatunya.”

“Jangan lupa kopinya ya...”

“Kopi kental tanpa gula? Siap komandan.” Yang ditanya hanya mengangguk. Kalau tidak sedang pusing, Kretarto tidak minta dibuatkan kopi.

keterangan: 
BBM = Barisan Berani Mati 
Jibakutai = Pasukan berani mati bentukan Jepang 

*Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Jombang

Catatan: Tulisan ini diambilkan dari novel berjudul Perang Jombang karya penulis sendiri 


Editor:

Nyantri Terbaru