• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Rabu, 17 Agustus 2022

Nyantri

Perang Jombang (5): TKR Melobi Hisbulloh

Perang Jombang (5): TKR Melobi Hisbulloh
Dokumen langka sejarah pahlawan kemerdekaan Indonesia (Foto: Istimewa)
Dokumen langka sejarah pahlawan kemerdekaan Indonesia (Foto: Istimewa)

Oleh: M Fathoni Mahsun*

Tidak mudah menjadi badan ke-tentaraan baru, bila berhadap-hadapan dengan kelasykaran yang sudah ada sejak sebelum kemerdekaan. Mereka sudah tertata organisasinya, jaringannya, juga anggotanya. Perlu dipikirkan betul-betul bagaimana cara berkomunikasi. “Jangan sampai salah ngomong” demikian kesimpulan rapat khusus membahas persiapan kunjungan ke markas lasykar-lasykar.

Sesuai keputusan rapat pula, Kretarto akan membawa beberapa perwira petinggi TKR Jombang, untuk menemui tokoh-tokoh  Hisbulloh dan Pesindo. Mereka sepakat untuk membawa misi yang sama; mengajak sinergi untuk menghadapi ancaman musuh bersama-sama.

Menyamakan langkah perjuangan dari segenap elemen yang ada merupakan sebuah keharusan. Sebab apabila TKR berhasil merapikan pemahaman  dari segenap elemen yang ada agar mempunyai arah yang sama, maka TKR sudah mengambil langkah strategis, tanpa harus mengajak anggota kelasykaran tersebut bergabung ke TKR.

Secara kebetulan pimpinan Hisbulloh Jombang bukan orang yang asing bagi Kretarto, namanya Wahib, putra pimpinan Pesantren Tambakberas, Kyai Wahab. Sama-sama didikan PETA, Kretarto di PETA mendapatkan didikan Chudanco, sedangkan Wahib mendapat didikan Shodanco . Usia Wahib dibawah Kretarto.

“Aku dulu nggak nyangka kalau kamu anaknya Kyai, Hib.” Kretarto sudah lama kenal pemuda bernama Wahib ini. Jadi tidak perlu banyak pengantar.

“Kenapa Mas Kret?”
“Ngaak..., kamu kok nggak ada tampang kyai.”
“Ha ha ha...”

“Jangan lihat wajahnya, lihat hatinya dong...”
“Eh kalau anak kyai kok nggak masuk Hisbulloh aja dari dulu?” Kali ini Moenawar yang protes.

“Beberapa anak kyai juga banyak yang masuk PETA sejak awal, kok. Contohnya Mas Kholiq anaknya Kyai Hasyim Asy’ari, lulusan Daidaco  seangkatan dengan Pak Sudirman yang baru terpilih jadi Panglima.” Wahib membela diri.

“Pak Kholiq yang tinggi besar itu?”
“Iya”
“Yang katanya sakti itu?”
“Iya”
“O.., pantesan.”
“Kenapa?”
“Kalau itu pantes jadi anaknya kyai.”
“Ha ha ha...”

“Eh..., Hib. Kamu jebolan PETA kenapa kok gak gabung saja di TKR sih?” tiba-tiba Kretarto menukik.
“Nggak Mas Kret, di TKR aku nggak bakalan bisa jadi komandan, wong komandannya sudah sampeyan kok. Kalau di Hisbulloh ini kan aku bisa jadi komandan.”
“Ini nih...., mulai kelihatan aslinya. Wahib yang asli ya ini..”
“Ha ha ha..,”

“Jujur ya, yang aku tahu. Kamu itu anaknya agak sulit diatur. Apa-apa kalau nggak maunya sendiri, nggak mau njalani. Sekarang kok tiba-tiba kamu pindah jalur ke Hisbulloh? Padahal kalau mau kan kamu bisa saja masuk TKR?” Kretarto mulai membelokkan pembicaraan ke arah yang lebih serius.

“Apal ya sampeyan, Mas.”
“Kapan kamu batuk, kapan kamu bersin aku juga hafal, Hib.”
“Sederhana, Mas. Gini-gini aku ini santri. Harus nurut ke Kyai. Kyai Hasyim langsung yang memerintah membentuk Hisbulloh Jombang, termasuk Abah saya dan para kyai yang lainnya. Mana aku bisa nolak...”

“Lha ini mulai kelihatan benernya kamu.”
“Kamu disuruh apa lagi oleh para Kyai?” desak Moenawar.
“Tidak ada, ya hanya bikin Hisbulloh. Tapi satu perintah itu saja, harus aku lakukan dengan sepenuh jiwa-raga.”
“Maksudnya?”

“Di Hisbulloh aku disuruh membangun kekuatan, untuk membentengi negara Indonesia dari cengkeraman bangsa lain. Membangun kekuatan itu ya..., berarti aku harus menghimpun anak muda sebanyak-banyaknya untuk dilatih perang. Ini perintah para kyai yang harus aku taati. Dan sepertinya mereka tidak melepaskan aku begitu saja, mereka juga tetap akan gerak dengan caranya sendiri.”

Suasana mendadak hening. Jawaban Wahib  yang meluncur deras itu, mengehentak ke inti permasalahan. Upaya Hisbulloh merekrut anak-anak muda rupanya tidak bisa ditawar-tawar lagi. Persaingan tampak di depan mata secara terang-benderang. TKR dan Hisbulloh Sama-sama ingin menggaet anak-anak muda dilatih perang. Tidak main-main, Para Kyai pun berdiri di belakang Hisbulloh.

 “Eh.., sampai lupa. Ayo..., ayo diminum kopinya, keburu dingin. Ayo..., monggo!!!” Wahib rupanya juga merasakan suasana menjadi beku. Spontan mendadak semuanya tersadar kalau sedari tadi kopi di hadapan mereka nganggur. Atau belum ada yang berani memulai? Entahlah, yang jelas raut muka masing-masing orang menegang. Wahib yang didampingi beberapa orang, juga Kretarto dengan lima anak buah yang dibawanya.

“E.., sebentar-sebentar.” Kretarto mulai  merangkai jalan mencapai kompromi, setelah rehat minum kopi. “Kyai-kyai juga ikut turun tangan, jadi ini bukan hanya urusan anak muda?”

“Sama-sekali tidak. Kita ini anak-anak muda tahunya apa? Apalagi santri. Paling-paling tahunya hanya mengaji. Santri-santri tahu dari mana kalau negara sedang genting, kalau tidak  diberitahu kyai? Santri itu kan kebanyakan arek ndeso yang tidak banyak mengerti perkembangan dunia luar. Tahunya, kalau santri ya harus manut kyai. Itu saja.”

“Jadi menurut para kyai negara ini sedang genting?”
“Tepat, bahkan...”
“Oke...., mohon maaf saya potong.” Kretarto menetralisir kesalahannya, setelah melihat raut wajah Wahib yang tidak berkenan dijeda. Sampai titik ini Kretarto mulai menyadari pentingnya posisi Wahib. Tepatnya pentingnya gerbong Hisbulloh yang dikomandani Wahib. Dia mengemban misi besar dari para kyai.

“Pada prinsipnya kita, TKR dan Hisbulloh mempunyai pandangan yang sama bahwa negara sedang genting. Kedatangan kami kemari adalah bagaimana agar kita tidak saling bertabrakan di lapangan.”
“Saya sepakat itu, Mas Kret. Saya paham bahwa TKR juga bersiap merekrut anak-anak muda. Kalau saya sih, pokok sama-sama jalan lah. Nggak masalah.”

“Nah. Itu yang saya maksud. Tapi teknis di lapangan harus tetap dipikirkan biar tidak terjadi tabrakan tadi.”

“Oke, untuk itu saya sarankan sampeyan juga mendatangi Mas Kholiq guna minta saran. Dia kan ya PETA, ya Hisbulloh, sama seperti saya. Mestinya bisa memberikan jalan keluar.”

“Ini perintah?” Tanya Kretarto dengan  nada menggoda.
“Apa sekarang garis perintah sudah berubah, Shodanco bisa merintah Chudanco?” Wahib dengan lihai mengimbangi.
“Ha ha ha...”

Catatan: urutan kepangkatan tentara PETA dari yang tertinggi; daidancho (komandan batalyon), Chudanco (komandan kompi), Shodancho (komandan pleton)
Keterangan foto: Berkopyah KH. Wahib Wahab. Berdasi KH. Kholiq Hasyim.

*Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Jombang

Catatan: Tulisan ini merupakan sebagian isi dari sebuah novel berjudul Perang Jombang karya penulis sendiri


Editor:

Nyantri Terbaru