• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Rabu, 17 Agustus 2022

Nyantri

Perang Jombang (4): Membangun Pasukan

Perang Jombang (4): Membangun Pasukan
Dokumen sejarah persiapan merebut kemerdekaan Indonesia. (Foto: Istimewa)
Dokumen sejarah persiapan merebut kemerdekaan Indonesia. (Foto: Istimewa)

Oleh: M Fathoni Mahsun*

Kesadaran bahwa negara yang masih baru lahir ini tidak aman, menggejala dimana-mana. Kabar akan datangnya raksasa pemenang dunia II bernama sekutu sudah tersebar di seantereo negeri. Semua sepakat bahwa negara memanggil. Hidup bebas merdeka dari jajahan bangsa lain adalah sebuah kebutuhan yang sudah diidam-idamkan sejak lama.

Jepang yang awal kedatangannya gembar-gembor sebagai saudara tua, dan menjanjikan kemerdekaan dari kolonial, nyatanya omong kosong.

 Semakin lama semakin tampak aslinya. Bahkan justru di masa Jepang banyak orang mati kelaparan.

Bahan makanan sulit didapat, karena petani disuruh menanam kapas dan jarak.
Petani yang menghasilkan beras, bahkan tidak bisa makan dari padinya. Mereka hanya bisa makan jagung, ubi jalar, dan singkong.

Sudah begitu, disaat perut kosong dan asupan gizi yang jauh dari kata cukup, mereka diperas tenaganya untuk membangun jalan, bandara, menggali lubang-lubang perlindungan serta rel kereta api.

Satu-dua orang ada yang membangkang dengan perlakuan keji demikian. Apa yang akan terjadi? Para pembangkang itu terbebas dari kerasnya tekanan, karena leher mereka dipancung di depan umum.

Ini kah saudara tua yang menjanjikan kemerdekaan? Mereka akan memerdekakan saudara mudanya, ataukah memperalat saudara mudanya untuk memenangi perang dunia II?

Kekejian-kekejian di bawah kuasa negara lain demikian lah yang ingin ditampik oleh rakyat Indonesia. Mereka tidak sudi lagi berada di bawah ketiak bangsa lain.

Ketenangan hidup sebagai buah kemerdekaan, walau pun belum lama dirasakan, ternyata membawa perubahan hidup.

Awalnya memang seperti tidak percaya bahwa Indonesia sebagai sebuah negara bisa terwujud di atas bumi ini. Bahkan semua orang yang hidup pada zaman ini, sebelumnya tidak pernah memikirkan bahwa lepas dari kekuasaan bangsa lain, merupakan sebuah kemungkinan yang bisa diwujudkan.

Begitu kesadaran mempertahankan kemerdekaan terbangun, berbondong-bondong rakyat mendaftar sebagai pejuang. Mereka dengan suka rela mengikuti latihan perang, walaupun terkadang tidak kebagian senjata. Senjata memang sangat terbatas keberadaannya, tapi tidak menyurutkan semangat rakyat untuk berlatih perang.

Di satu sisi ini merupakan kondisi yang menguntungkan, tapi di sisi lain ini kondisi yang tidak sepenuhnya diharapkan. Ternyata belum semua rakyat tahu bahwa pemerintah telah membuka badan ketentaraan. Banyak di antaranya yang mendaftar ke badan-badan kelasykaran.

Keberadaan badan ketentaraan milik pemerintah tidak jauh beda dengan milik kelasykaran. Sama-sama melatih perang.

Selain itu, kemampuan orang-orang di badan ketentaraan milik negara dan yang berada di kelasykaran juga serupa. Mereka sama-sama didikan PETA, KNIL atau Heiho. Dan memang tidak jadi soal apakah bergabung ke TKR atau ke kelasyakaran-kelasykaran.

Yang penting bisa ikut latihan perang. Tergantung siapa dulu yang mengajak, ke situ dia ikut.

“Mengamati situasi yang terjadi, apa tidak berpotensi timbul masalah, Mun?” Ungkap Kretarto pada Moenawar. Nama lengkapnya Moenawar Yasin. Wakil Kretarto di TKR Jombang.

“Situasi yang mana Mas Kret?” sapaan Kretarto di rumah dan di luar rumah beda. Sejak di PETA dia sering dipanggil Mas oleh orang-orang di bawah usianya, walaupun asli Sunda. Kretarto tidak masalah, bahkan pria kelahiran Bandung ini sudah bisa sedikit-sedikit bahasa Jawa.

“Ya bahwa kita dan badan kelasykaran sama-sama merekrut pasukan.”

“Ya iya sih, tapi kalau dipikir-pikir lagi, kita malah terbantu lho ada pihak lain yang melatih pasukan. Bayangkan saja. Kemampuan kita masih terbatas.”

“Iya aku ngerti. Tapi kita ini kan tentara bentukan negara, harusnya beda dengan kelasykaran. Tapi nyatanya, kita tidak beda dengan kelasykaran. Apalagi jumlah mereka tidak hanya satu. Ada Hisbulloh, Sabilillah, Pesindo, BPRI, PRI, dan apalah lagi yang lainnya.”

“Di Jombang yang besar hanya Hisbulloh. Sabilillah tidak usah kita pikirkan, karena tidak jauh dengan Daidancho kalau di PETA, yang direkrut orang-orang tua, tokoh masyarakat. Kita targetnya anak-anak muda. Pesindo di sini ada, tapi tidak terlalu besar. Apalagi BPRI dan PRI , walaupun ada tokoh ternama yang bergabung di BPRI, tapi organisasinya belum sampai ke bawah. PRI juga baru ada di Surabaya.”

Kertarto nampak sedikit tenang dengan argumen Moenawar. Memang, walaupun badan kelasykaran dan organisasi kepemudaan tumbuh bak cendawan di musim hujan, belum semua dari mereka mempunyai pengikut sampai ke desa-desa.

“Tapi beberapa di antara mereka bukannya sudah punya sayap organisasi hingga ke desa-desa.” Tiba-tiba Kretarto mengingat sesuatu.

“Betul. Jadi menurut saya peta kelasyakaran yang perlu diperhatikan hanya Hisbulloh dan Pesindo saja. Karena Hisbulloh sudah ada sejak zaman Jepang, kalau kita tarik lagi ke belakang, orang-orang Hisbulloh adalah mantan anggota Ansor yang dibubarkan Jepang.

Sedangkan Pesindo merupakan sayap organisasi kepemudaan beridiologi sosialis. Benihnya sudah ada sejak masa SI merah di zaman pergerakan.”

“Nah itu dia. Kita ini terbilang baru dibanding Hisbulloh dan Pesindo. Jaringan mereka sudah kuat, sedangkan kita?”

“Tidak usah berkecil hati dulu. Kita ini pimpinan. Kalau pimpinannya gamang, bagaimana anak buahnya?”

“Saya hanya tak habis pikir. Dari luar kita menghadapi ancaman kedatangan sekutu. Di dalam kita berpotensi ribut dengan kawan sendiri. Permasalahan eks KNIL lawan eks PETA belum benar-benar selesai, kini TKR lawan Kelasykaran. Duh beratnya...”

*Penulis adalah Wakil Sekretaris PCNU Jombang 

Catatan: Tulisan ini merupakan penggalan dari sebuah novel berjudul Perang Jombang karya penulis sendiri


Editor:

Nyantri Terbaru