• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Selasa, 5 Juli 2022

Daerah

Upaya Tebuireng Mendobrak Zaman, Cetak Santri yang Ahli Membuka Rahasia Alam Semesta (Bagian III)

Upaya Tebuireng Mendobrak Zaman, Cetak Santri yang Ahli Membuka Rahasia Alam Semesta (Bagian III)
KH Abdul Hakim Mahfudz di Pondok Pesantren Tebuireng (Foto : NU Online/ Arif Fachrudin Achmad)
KH Abdul Hakim Mahfudz di Pondok Pesantren Tebuireng (Foto : NU Online/ Arif Fachrudin Achmad)

NU Online Jombang,

Pondok Pesantren Tebuireng beberapa kali melakukan perubahan kebijakan yang berkaitan dengan sistem pendidikan yang diberlakukan. Hingga kini, terjadi perombakan cukup besar yang mencakup sistem pendidikan sekaligus fasilitas pondok pesantren dalam rangka merespon zaman yang terus berubah dan bergerak maju.

 

Sekelumit Sejarah Pondok Pesantren Tebuireng

Sebagaimana pesantren-pesantren yang berdiri pada zaman itu, sistem pengajaran awal yang digunakan adalah metode sorogan dimana santri membaca sendiri materi pelajaran kitab kuning di hadapan guru. Selain itu juga menggunakan metode weton, bandongan atau halqah, dimana Kiai membaca kitab dan santri memberi makna. 

 

"Ya yang namanya pondok pesantren itu kan awalnya memang mempelajari ilmu syari'at. Ilmu Islam yang erat kaitannya dengan akhirat. Di Tebuireng juga seperti itu di awal mula berdiri," ujar KH Abdul Hakim Mahfudz atau akrab disapa Gus Kikin.

 

Semua bentuk pengajaran tersebut tidak dibedakan dalam jenjang kelas. Kenaikan tingkat pendidikan dinyatakan dengan bergantinya kitab yang dikhatamkan (diselesaikan) oleh santri. Materi pelajarannya pun khusus berkisar tentang pengetahuan agama Islam, ilmu syari’at dan bahasa Arab.

 

Perubahan sistem pendidikan di pesantren ini pertama kali diadakan Kiai Hasyim Asy’ari pada tahun 1919, yaitu dengan penerapan sistem madrasi (klasikal) dengan mendirikan Madrasah Salafiyah Syafi’iyah. Sistem pengajaran disajikan secara berjenjang dalam dua tingkat, yakni Shifir Awal dan Shifir Tsani.

 

Baca jugaTrensains, Ide Besar KH Solahuddin Wahid Mengembalikan Kejayaan Islam (Bagian IV)

 

"Intinya, menempuh pendidikan di Pesantren itu tujuannya akhirat. Tapi bahwa untuk mencapai akhirat itu harus melalui perjalanan di dunia, nah itu yang kita urai. KH hasyim Asy'ari belajar ke mekkah kan yang dipelajari macam-macam. Tidak cuma ilmu agama saja, melainkan juga ilmu politik dan lain sebagainya," jelasnya.

 

Gus Kikin yang kini merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng menambahkan, dari keseluruhan ilmu yang dipelajari oleh KH Hasyim Asy'ari di Mekkah, itu menjadi pegangan ketika beliau mendirikan pondok ini. Semua ilmu itu banyak dipraktikkan tidak hanya dalam mendidik santrinya melainkan juga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

"Tahun 1933, kembali dilakukan pembaruan. Sesuai kebutuhan zaman, pada tahun tersebut dimasukkan pelajaran umum ke dalam kurikulum pengajaran. Termasuk juga pelajaran bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Hal tersebut adalah suatu tindakan yang belum pernah ditempuh oleh pesantren lain pada waktu itu," ujarnya.

 

Sempat muncul reaksi dari para wali santri, bahkan para ulama dari pesantren lain. Hal demikian dapat dimaklumi mengingat pelajaran umum saat itu dianggap sebagai kemunkaran, budaya Belanda dan semacamnya.

 

Hingga terdapat wali santri yang sampai memindahkan putranya ke pondok lain. Namun, madrasah ini berjalan terus karena Pondok Pesantren Tebuireng beranggapan bahwa ilmu umum akan sangat diperlukan bagi para lulusan pesantren.

 

"Harapannya adalah, lulusan pesantren lebih siap menghadapi tantangan zaman. Sepanjang kita menjaga ilmu yang bersumber dari Al Quran dan hadits, semua persoalan ada solusinya. Jangka panjangnya, tentu saja keinginan setiap orang adalah selamat di akhirat," terangnya.

 

Perombakan Sistem Pendidikan dan Fasilitas di Pondok Pesantren Tebuireng

 

Mengikuti perkembangan zaman, seluruh fasilitas, sarana dan prasarana mulai diperbaiki. 

 

"Dari tahun ke tahun, kami selalu membenahi management pesantren. Sampai saat ini, terukur semua. Mulai dari makanan, sekarang kami sudah ada jasa boga. Apa yang disajikan sesuai dengan asupan gizi yang dibutuhkan santri. Semua ditangani dengan sistem yang bagus. Kemudian asrama juga begitu. Ini lebih seperti boarding school tapi kegiatan diniyah tetap kita perkuat," terangnya.

 

Kiai Kikin menegaskan, modernisasi boleh-boleh saja dilakukan. Namun itu hanya berkisar pada fasilitas, sarana dan prasarana. Sementara untuk ilmu agama, mengaji kitab dan seluruh yang berkaitan dengan syari'at tetap dikuatkan.

 

Trensains Sebagai Salah Satu Upaya Tebuireng Mencetak Generasi yang Cakap dan Unggul

 

SMA Trensains Tebuireng merupakan salah satu unit pendidikan di Pesantren Tebuireng yang didirikan oleh Dr (HC) Ir KH Salahuddin Wahid (pengasuh Pesantren Tebuireng periode VII). 

 

"Gus Sholah pada waktu itu berpikiran bahwa akan baik jika pesantren dapat menghasilkan generasi yang tidak hanya cakap soal ilmu-ilmu syariat Islam melainkan juga mengaplikasikan ilmu yang terdapat di dalam Al Qur'an untuk diterjemahkan dalam sains," jelasnya.

 

Ia menambahkan, ada keinginan besar untuk mencetak generasi yang dapat menjadikan Al Qur'an sebagai basis epistemologi dalam pengembangan sains sekaligus mencetak generasi yang memiliki kedalaman filosofis serta keluhuran akhlak.

 

"Karena itu memang ada semacam batasan minimal untuk bisa masuk di Trensains. Mulai dari IQ nya, nilai raport nya sampai dengan prestasi yang dimiliki," pungkasnya.

 

Bersambung


Editor:

Daerah Terbaru