• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Rabu, 28 Februari 2024

Daerah

Ulama Dahulu Tidak Banyak Debat dan Bicara, Tapi Nyata dalam Bertindak

Ulama Dahulu Tidak Banyak Debat dan Bicara, Tapi Nyata dalam Bertindak
Gus Qoyyum dalam acara peringatan Haul Ke-48 KH Abdul Fattah Hasyim yang digelar di Ndalem Al-Fathimiyyah Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada Kamis (23/11/2023). (Foto: Tambakberas TV)
Gus Qoyyum dalam acara peringatan Haul Ke-48 KH Abdul Fattah Hasyim yang digelar di Ndalem Al-Fathimiyyah Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada Kamis (23/11/2023). (Foto: Tambakberas TV)

NU Online Jombang,

Pengasuh Pesantren An-Nur Lasem Rembang, Jawa Tengah, KH Abdul Qoyyum Manshur atau yang akrab dipanggil Gus Qoyyum menuturkan bahwa ulama dahulu tidak banyak debat, tidak banyak bicara, tidak heboh dengan viral-viral seperti sekarang. Tapi, nyata dalam bertindak.

 

Hal ini ia sampaikan dalam acara peringatan Haul Ke-48 KH Abdul Fattah Hasyim yang digelar di Ndalem Al-Fathimiyyah Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang pada Kamis (23/11/2023).

 

“Jika tidak mengarang kitab, ya mengajarkan kitab, real (nyata). Membangun pondok, menyumbang pondok, tidak banyak usul-usul,” tegasnya.

 

Lebih lanjut, Gus Qoyyum menjelaskan ada di dalam Al-Qur’an, ayat yang berkaitan dengan jiwa dan hati. Orang yang beriman dan selalu mengingat Allah swt, akan mendapat ketentraman hati atau dalam istilah ilmu tasawuf disebut tuma’ninah.

 

Gus Qoyyum menyampaikan tuma’ninah yang paling bagus yaitu tuma’ninah dzikir, tuma’ninah ilmu, dan tuma’ninah berkumpul dengan orang shalih.

 

“Kiai dahulu tuma’ninahnya kalau tidak Al-Qur’an, dzikir, ilmu, ibadah, dan berkumpul dengan orang shalih, ada lagi tuma’ninahnya riyadhoh, tarekat ” tuturnya.

 

Kemudian Gus Qoyyum berpesan untuk mencontoh kiai-kiai sepuh dari segi akidah yang jangan sampai hilang dan tuma’ninah diatur dengan benar.

 

“Jika tidak bisa mencapai ilmunya (para kiai), setidaknya bisa mencontoh akhlaknya, ibadahnya, dermawannya, tawadhunya,” tandasnya.

 

Sebagai informasi, acara tersebut dihadiri oleh para kiai, pengurus NU mulai dari pengurus besar sampai ranting, keluarga besar Pesantren Bahrul Ulum, dan segenap tamu undangan. Rangkaian acara haul tersebut diisi dengan pembacaan shalawat, tahlil, doa bersama, dan mauidhoh hasanah.


Daerah Terbaru