• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Selasa, 27 Februari 2024

Daerah

Ketua PWNU Jawa Timur: Indonesia Lebih Aman daripada Negara Timur Tengah

Ketua PWNU Jawa Timur: Indonesia Lebih Aman daripada Negara Timur Tengah
Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar dalam acara Haul Akbar Jombang di Pendopo Kabupaten Jombang, Ahad (13/08/2023). (Foto: Alwava Media)
Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar dalam acara Haul Akbar Jombang di Pendopo Kabupaten Jombang, Ahad (13/08/2023). (Foto: Alwava Media)

NU Online Jombang,

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar menyebut negara Indonesia lebih aman dan nyaman daripada negara-negara di Timur Tengah. Hal ini sebab masyarakat Indonesia masih menghormati ahlul bait dan para ulama. 

 

Hal ini disampaikannya saat mauidhoh hasanah dalam acara Majelis Dzikir Maulidurrasul saw dan Haul Akbar Jombang yang digelar di Pendopo Kabupaten Jombang, Ahad (13/08/2023).

 

"Keutamaan barokah, antara lain jika kita melihat beberapa negara di timur tengah. Ya seperti itulah, Irak kacau, Suriah kacau, Sudan perang saudara, Yaman Selatan diserang Saudi Arabia, Libya dan Afghanistan juga perang saudara," kata Kiai Marzuki, sapaannya.

 

Ia melanjutkan, jika hidup di Indonesia semuanya menjadi aman dan nyaman. Ia mencontohkan berdzikir aman, berangkat shalat jumat aman, majelis aman, TPQ aman, ziarah-ziarah aman. Ini hanya ada di Indonesia. 

 

"Kalian jangan pernah bermimpi bisa seperti ini di Afghanistan, Libya, Sudan, di Yaman Selatan tidak bisa karena perang saudara. Semuanya ini barokahnya dzikir dan maulid akhirnya negara ini dibuat aman. Kita kepada ahlul bait juga masih mahabbah, masih punya adab. Kita kepada para ulama dan wali masih ta'dzim," ujarnya. 

 

Pengasuh Pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang ini mengutip hadits nabi, al ulama warotsatul anbiya. Ulama adalah pewaris para nabi. Sedangkan ahlul bait masih mewarisi darah Rasulullah saw. Untuk itu, mereka harus dijaga dan dihormati. Sebab itulah kenapa negara ini jadi aman.

 

Ahlul bait dan ulama menjadi jaminan apakah negara ini aman atau tidak. Jaminan itu apakah masyarakatnya masih ta'dzim dalam menjaga ahlul bait dan para ulama yang notabenenya adalah pewaris nabi. 

 

"Kota Kufah yang di sana ada peristiwa karbala, jadi Irak sekarang. Itu menjadi saksi bisu, saksi sejarah kebiadaban orang-orang terhadap ahlul bait," jelasnya. 

 

Ia lantas menceritakan, ketika tanggal 10 Muharram, di Karbala dibunuhlah Sayyidina Husein cucu Rasulullah saw. Sayyidina Husein dipenggal kepalanya, kepalanya ditendang-tendang dan sangat terhina. Namun efeknya juga luar biasa karena menyakiti ahlul bait.

 

Sejak saat itu, di daerah Kufah atau Irak jarang sekali merasakan suasana aman sampai sekarang. Beberapa saat setelah itu, terjadilah pembantaian besar-besaran oleh Abu Abbas As-Saffah yang mengakibatkan meninggalnya 5000 orang lebih. Dari situ berdirilah Kekhalifahan Abbasiyah. 

 

"Berjalan maju, diserang Kubilai Khan dari Kerajaan Mongol, yang meninggal ratusan ribu. Sampai digambarkan sungai tigris airnya berwarna merah. Kitab-kitab ulama dirampas dan dibuang di sungai. Sampai terlalu banyaknya kitab yang dibuang, bahkan bisa dilewati kuda," paparnya. 

 

Lalu di bawah kekuasaan Turki Utsmani, terjadi perang dunia yang pertama yang mengakibatkan ratusan ribu nyawa melayang. Sampai di dunia modern, terjadi perang Iran-Irak oleh Saddam Hussein selama tujuh tahun. Di situ juga ratusan ribu nyawa melayang. 

 

Setelah perang Iran-Irak, lalu Saddam Hussein menyerang Kuwait, saat itu Kuwait dibela oleh Ronald Reagan dari Amerika. Di perang itu juga banyak yang meninggal sampai sekarang. Menurut Kiai Marzuki, itu karena awalnya berbuat kurang ajar kepada Sayyidina Husein, cucu Rasulullah saw. 

 

"Nah Indonesia ini aman, umat Islamnya, kaum Aswaja hormat kepada ahlul bait dan ulama. Inilah barokahnya. Insyaallah Indonesia aman," imbuhnya. 

 

Oleh karenanya, ia berpesan kepada seluruh jamaah, barangkali ada upaya mengadu domba antara ulama yang pewaris nabi dan ahlul bait yang mewarisi darah Rasulullah saw, jamaah diimbau tidak usah ikut-ikutan. Ulama dihormati, ahlul bait dihormati, habaib dihormati pula. 

 

Romo Kiai Ahmad Asrori al-Ishaqi (khodimul Majelis Al Khidmah) sudah memberi contoh kepada jamaah dalam setiap acara pasti ada masyayikh, ada ulama, ada habaib. Tidak pernah Kiai Asrori membuat acara yang hanya ada habaib tapi tidak ada kiainya, pun sebaliknya. 

 

"Dan sepertinya beliau sudah terasa akan diadu domba. Nah Al Khidmah tetap ikut caranya Kiai Ahmad Asrori al-Ishaqi. Dua-duanya kita muliakan, dua-duanya kita hormati. Insyaallah Indonesia aman," pungkasnya. 


Editor:

Daerah Terbaru