• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Jumat, 31 Mei 2024

Daerah

Rektor Undar: Mencegah Paham Radikal adalah Tugas Bersama

Rektor Undar: Mencegah Paham Radikal adalah Tugas Bersama
Seminar Nasional "Pegadaian Peduli Santri Cegah Terorisme dan Radikalisme dengan Menjaga Keberagaman." (Foto: Undar Jombang)
Seminar Nasional "Pegadaian Peduli Santri Cegah Terorisme dan Radikalisme dengan Menjaga Keberagaman." (Foto: Undar Jombang)

NU Online Jombang,
Rektor Universitas Darul Ulum Jombang, H Amir Maliki Abitolkha menjelaskan bahwa keseimbangan (stabilitas) dalam hidup beragama dan bernegara adalah salah satu pilar utama.


Ini adalah tugas bersama untuk menjaga hal itu dari segala sesuatu yang mengancam keutuhannya, seperti dari terorisme dan radikalisme.


Hal itu ia sampaikan dalam sambutannya pada acara seminar nasional "Pegadaian Peduli Santri Cegah Terorisme dan Radikalisme dengan Menjaga Keberagaman", yang diselenggarakan oleh Universitas Darul Ulum bekerja sama dengan Pegadaian dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT-RI) di Aula Universitas Darul Ulum, Senin (13/05/2024)


"Kajian tentang terorisme dan radikalisme menjadi sangat penting. Salah satunya adalah, karena stabilitas menjadi sangat penting untuk dijaga secara bersama-sama", ungkapnya.


Menurutnya, kegiatan semacam seminar atau kegiatan lainnya yang berupaya menanggulangi tindakan radikalisme sangat diperlukan. Setidaknya hal itu menjadi media bersama untuk mencari formula untuk mencegah dan menangkal bibit-bibit radikalisme sedini mungkin.


"Kegiatan semacam ini diperlukan. Paling tidak kita ini mencari formula bagaimana terorisme bisa ditangkal", lanjutnya.


Lebih lanjut, ia menceritakan perbedaan pendapat yang kemudian menjadi persoalan yang bermuara pada radikalisme. Karena menurutnya, salah satu sebab munculnya radikalisme adalah karena pemahaman agama yang tidak mendalam.


Seperti kasus sebagian kelompok yang merasa bahwa dzikir dengan tidak mengencangkan suara (sirri) adalah yang paling benar. Padahal, lanjutnya, hadis tentang anjuran berdzikir dengan sirri itu memang berstatus mutawatir


Tetapi, di samping itu ada hadis lain yang menganjurkan untuk berdzikir dengan mengencangkan suara (jahr) yang juga berstatus mutawatir.


Kemudian timbul perasaan lebih benar ketimbang kelompok lain yang memiliki pendapat berbeda. Lebih dari itu, bahkan sampai merasa hanya kelompok mereka lah yang berhak masuk surga. Menurutnya, dari semacam persoalan seperti inilah kemudian muncul benih-benih radikalisme.


"Dari sanalah simpul-simpul radikalisme bermunculan. Karena ada anggapan pendapat saya lebih benar berbanding yang lain", imbuhnya.


Di samping itu, tidak terlepas di pesantren, ia menekankan bahwa yang perlu dilestarikan guna menanggulangi radikalisme dan terorisme adalah dengan mengkaji kembali Sirah Nabawiyah. Karena di dalamnya terdapat beragam sunnah Nabi yang menjelaskan tentang bagaimana cara beragama.


"Literasi yang perlu dikembangkan untuk menangkal radikalisme adalah kembali kepada Sirah Nabawiyah", ujarnya.


Karena ketika pemahaman kita terhadap Sirah Nabawiyah terbatas, menurutnya yang akan muncul adalah pemahaman agama yang tidak utuh, yang kemudian hal itu bisa menjadi bibit timbulnya radikalisme.


Daerah Terbaru