• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Senin, 15 April 2024

Pustaka

Apa pun yang Terjadi, Hidup Terus Berjalan, Ikhlaskan dan Menatap Masa Depan

Apa pun yang Terjadi, Hidup Terus Berjalan, Ikhlaskan dan Menatap Masa Depan
Buku novel "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" karya Tere Liye. (Foto: Detakusk)
Buku novel "Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin" karya Tere Liye. (Foto: Detakusk)

Siapa sih yang tak kenal dengan novel karya Tere Liye? Banyak novel karya Tere Liye yang sangat menginspirasi dan memberikan makna tentang sebuah kehidupan. Seperti karyanya Bumi, Rindu, Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, HujanPergi, Bulan, Nebula, Kau Aku dan Sepucuk Angpau Merah,  Matahari, Bintang, Janji, Si Putih, Moga Bunda di Sayang Allah, Sepotong Hati yang Baru, Burlian, dan yang lainnya.


Bagi kalian yang suka novel yang bercerita tentang perjalanan hidup dan motivasi maka novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin adalah pilihan yang bagus. Buku ini menjadi salah satu paling banyak diperbincangkan, tak hanya karena penulisnya adalah Tere Liye akan tetapi alur cerita yang disuguhkan, alur yang menguras emosi serta alur cerita perjalanan hidup seseorang dengan bumbu percintaan.


Bagaimana jika anak kecil berumur 12 jatuh cinta? Inilah kisah Tania, seorang gadis kecil yang harus mengalami putus sekolah dan mengamen bersama adeknya setiap hari setelah 3 tahun kematian ayahnya. Tania, Dede, dan ibunya tinggal di rumah kardus di pinggir kota. Namun, pada akhirnya ia dipertemukan dengan seorang malaikat yang memberikan janji kehidupan lebih baik.


Siapa yang tak senang bertemu malaikat? Bagi Tania, ia adalah cahaya masa depannya sekaligus cinta pertamanya. yaitu Danar namanya, ia adalah seorang malaikat bagi kehidupan keluarga Tania. Pertemuan yang tidak sengaja antara mereka di suatu malam, walaupun terpaut 14 tahun hal ini membuat Tania merasa memiliki sosok kakak.


Anar menjanjikan masa depan yang cerah, selain itu ia juga membiayai sekolah Tania dan Dede serta ia memberikan modal untuk berjualan kue bagi Ibunya Tania. Danar juga membawa Tania ke salah satu toko buku, yang menjadi salah satu favorit toko buku bagi Tania dari kecil hingga dewasa. Tania pun tak menyia-nyiakan yang sudah diberikan kepada dirinya, ia berhasil menjadi siswi terpintar, setelah 1 tahun mereka tak lagi tinggal di rumah kardus dan mulai pindah ke salah satu kontrakan.


Tak berselang lama ibu Tania divonis kanker paru-paru stadium akhir runtuh sudah semua kenangan indah Tania. Tapi kehidupan harus tetap berjalan dan ia berhasil diterima di salah satu sekolah terbaik Singapura. Ia pun berhasil meraih peringkat 2 dan mendapat beasiswa di Singapura.


Akan tetapi takdir sudah ditentukan oleh Tuhan dan kita sebagai manusia hanya bisa menerima layaknya daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Namun perasaan Tania tiba-tiba berubah ketika ia mengetahui bahwa Danar mengumumkan pernikahannya dengan salah satu perempuan yang bernama Ratna.


Novel ini menceritakan kehidupan tentang Tania, Dede, dan Danar. Novel ini memiliki kelebihan yaitu dapat membungkus semua rangkaian cerita dengan sempurna dan menguras emosi pembaca. Alur yang maju-mundur dan tersusun rapi serta lebih mudah dipahami, serta ketika kamu membaca novel harus menyiapkan tisu karena novel ini berhasil membuat kita meneteskan air mata.


Novel ini memberikan pengajaran bagi kita, yaitu harus tetap berjalan dan maju ke depan, apa pun yang akan menimpa kita, yang terjadi pada kita dan sebesar apa pun masalah kita. Di samping itu, mengajarkan keikhlasan adalah satu hal yang harus ditanamkan ketika kamu membaca novel ini. Berikut beberapa kutipan dari novel ini, yang memiliki makna paling dalam.


“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja, Tak melawan. mengikhlaskan semuanya”.


“Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal yang hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta”.


“Cinta tak harus memiliki. Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Dia memang sangat sempurna. Tabiatnya, kebaikannya, semuanya. Tetapi dia tidak sempurna, Hanya cinta yang sempurna”. 


Nah, itulah resensi dari novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin. Dari novel tersebut memberikan pelajaran dalam diri kita untuk mencoba mengikhlaskan sesuatu dan terus menghadapi perjalanan hidup.

 

Identitas Buku 


Judul: Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin 
Penulis: Tere Liye
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: Cetakan ketiga puluh tiga April 2018
Tebal halaman: 264 Halaman
Ukuran buku: 20cm x 20cm
ISBN : 978-602-03-3160-7


*Presensi adalah Fahmi Fajri Azis, siswa kelas X MIPA 1 MAN 3 Jombang


Pustaka Terbaru