• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Neraca BMTNU Nasional Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Nasional

Gus Mus Kritik Pendidikan di Indonesia

Gus Mus Kritik Pendidikan di Indonesia

NU Jombang Online,
Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) mengkritik pendidikan di Indonesia yang 'mengkotak-kotakkan' antara ilmu umum dan ilmu agama.

Bahkan dua istilah tersebut menurutnya sudah mendarah daging di dunia pendidikan Indonesia hingga saat ini. Padahal dalam pandangannya di Islam sendiri tidak memuat istilah demikian.

"Di dalam Islam itu tidak ada ilmu umum dan ilmu agama. Yang ada ilmu itu ada yang fardlu ain dan fardlu kifayah," jelasnya saat menjadi pembicara pada Haflah Akhir sanah Pondok Pesantren Al-Aqobah Jombang, Jawa Timur, Ahad (28/4).

Lebih jauh Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah ini mengemukakan, Nabi Muhammad pun tidak pernah 'mengkotakkan' antar ilmu umum dan ilmu agama. Dalam salah satu hadist hanya ditemui hukum mencari ilmu bagi umat muslim.

"Hadistnya juga tidak menjelaskan ilmu dipisah-pisah. Tholabul ilmi faridatun ala kulli muslimin wa muslimatin," tuturnya.

Adanya pemetaan istilah ilmu, lantaran doktrin penjajah Belanda beberapa tahun silam di Indonesia. Penjajah Belanda, kata dia, berhasil mencekoki perilaku kehidupan bangsa Indonesia, termasuk dalam aspek pendidikan.

"Dari sisi sejarah kita tahu sangat lama dijajah oleh Belanda. Belanda licik sekali, kita dicekoki. Termasuk dari sisi pengetahuan, sehingga ada ilmu umum dan ilmu agama," ujarnya.

Gus Mus menuturkan, ada dampak yang cukup signifikan akibat dimunculkannya  dua istilah yang seolah berbeda tersebut. "Nanti begini, orang-orang menganggap adanya ilmu agama di pesantren, dan ilmu umum di sekolah-sekolah," ulasnya. 

Dampak yang lebih serius lagi adalah anggapan bahwa orang-orang yang lebih menekuni ilmu umum dinilai lebih pintar daripada mereka yang setiap harinya hanya belajar ilmu agama.

Namun demikian, belakangan ini kondisi tersebut sudah mulai dijawab oleh pesantren-pesantren di tanah air. Ia menyatakan sudah ada banyak pesantren yang tidak membeda-bedakan antara ilmu umum dan ilmu agama. Bahkan berbagai ilmu diajarkan di pesantren. (Syamsul Arifin) 


Editor:

Nasional Terbaru