• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Kamis, 20 Juni 2024

Keislaman

Penjelasan Turunnya Al-Qur'an Bertepatan dengan Lailatul Qadar dan Peringatan Nuzulul Qur’an setiap 17 Ramadhan

Penjelasan Turunnya Al-Qur'an Bertepatan dengan Lailatul Qadar dan Peringatan Nuzulul Qur’an setiap 17 Ramadhan
Ilustrasi Al-Qur’an. (Foto: Freepik)
Ilustrasi Al-Qur’an. (Foto: Freepik)

Nuzulul Qur’an dapat diartikan sebagai waktu di mana Al-Qur’an diturunkan. Dalam tradisi masyarakat, Nuzulul Qur’an biasanya diperingati pada malam 17 Ramadhan dengan berbagai macam acara mulai dari pengajian umum, syukuran tumpeng, istighotsah, tahlilan, khataman Al- Qur’an, dan lainnya. Acuan dalam penentuan 17 Ramadhan sebagai peringatan Nuzulul Qur'an adalah saat Nabi Muhammad menerima wahyu pertama kali.

 
Sementara jamak diketahui sebagaimana penjelasan dalam surat Al-Qadar ayat 1, bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar (malam yang lebih baik dari seribu bulan). Pendapat di kalangan para ulama Laitatul Qadar terjadi pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan. Dalam malam-malam terakhir Ramadhan Rasulullah menekankan umat Islam untuk i’tikaf dan memperbanyak ibadah di waktu-waktu tersebut. 


Para pakar tafsir menjelaskan Al- Qur’an diturunkan dengan mengalami dua kali proses:


Pertama, diturunkan secara keseluruhan (jumlatan wahidah). Kedua, diturunkan secara bertahap (najman najman). 


Allah menurunkan Al-Qur’an secara menyeluruh di langit dunia dan dikumpulkan menjadi satu di Baitul Izzah, sebelum diterima Nabi di muka bumi. Lalu Malaikat Jibril menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi di bumi secara berangsur-angsur serta ayat demi ayat, dalam kurun waktu yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan selama dua puluh tahun (pendapat lain ada yang mengatakan dua puluh satu tahun).


Syekh Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi memaparkan sebagai berikut:


وَلَا خِلَافَ أَنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عَلَى مَا بَيَّنَّاهُ جُمْلَةً وَاحِدَةً، فَوُضِعَ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ فِي سَمَاءِ الدُّنْيَا، ثُمَّ كَانَ جِبْرِيلُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْزِلُ بِهِ نَجْمًا نَجْمًا فِي الْأَوَامِرِ وَالنَّوَاهِي وَالْأَسْبَابِ، وَذَلِكَ فِي عِشْرِينَ سَنَةً


Artinya, “Tidak ada perbedaan bahwa Al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfuzh pada malam Lailatul Qadar secara keseluruhan seperti penjelasan kami. Maka Al-Qur’an terlebih dahulu diletakkan di Baitul Izzah di langit dunia. Kemudian Jibril menurunkannya secara berangsur tentang perintah, larangan dan sebab-sebab lainnya. Demikian itu terjadi selama 20 tahun.”    


وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ أُنْزِلَ الْقُرْآنَ مِنَ اللَّوْحِ الْمَحْفُوظِ جُمْلَةً وَاحِدَةً إِلَى الْكَتَبَةِ فِي سَمَاءِ الدنيا، ثم نزل بِهِ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ نُجُومًا- يَعْنِي الْآيَةَ وَالْآيَتَيْنِ- فِي أَوْقَاتٍ مُخْتَلِفَةٍ فِي إِحْدَى وَعِشْرِينَ سَنَةً


Artinya, "Sahabat Ibnu Abbas berkata, Al-Qur’an diturunkan dari Lauh al-Mahfuzh secara menyeluruh kepada para malaikat pencatat wahyu di langit dunia, kemudian Jibril turun membawanya secara berangsur, satu dan dua ayat, di waktu yang berbeda-beda selama 21 tahun." (Syekh Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an/Tafsir al-Qurthubi, juz 2, hal. 297).


Dalam riwayat Ibnu Abbas dan Watsilah bin al-Asqa ditegaskan bahwa turunnya Al-Qur’an secara menyeluruh terjadi saat malam Lailatul Qadar yang bertepatan pada malam ke-24 Ramadhan. 


Menurut Imamul Mufassirin yang merupakan seorang pemimpin pakar tafsir, Syekh Abu J’far Muhammad bin Jarrir al-Thabari menjelaskan riwayat di atas dalam kitab tafsirnya berikut ini:


كَمَا حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ قَالَ ثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ حَسَّانَ بْنِ أَبِي الْأَشْرَسِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ أُنْزِلَ الْقُرْآنُ جُمْلَةً مِنَ الذِّكْرِ فِي لَيْلَةِ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ، فَجُعِلَ فِي بَيْتِ الْعِزَّةِ


Artinya, “Sebagaimana bercerita kepadaku Abu Kuraib, beliau berkata, bercerita kepadaku Abu Bakr bin ‘Ayyasy dari al-A’masy dari Hassan bin Abi al-Asyras dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu Abbas beliau berkata; Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan pada malam 24 dari bulan Ramadhan, kemudian diletakan di Baitul Izzah.”


حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنْصُورٍ، قَالَ: ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ رَجَاءٍ، قَالَ: ثنا عِمْرَانُ الْقَطَّانُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنِ ابْنِ أَبِي الْمَلِيحِ، عَنْ وَاثِلَةَ، " عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: نَزَلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ أَوَّلَ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ مِنْ رَمَضَانَ


Artinya, "Bercerita kepadaku Ahmad bin Manshur, ia berkata, bercerita kepadaku Abdullah bin Raja’, ia berkata, bercerita kepadaku Imran al-Qatthan dari Qatadah dari Ibnu Abil Malih dari Watsilah dari Nabi, beliau bersabda; lembaran-lembaran Nabi Ibrahim turun pada awal bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada 6 Ramadhan, Injil diturunkan pada 13 Ramadhan, Al-Qur’an diturunkan pada 24 Ramadhan.” (Syekh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wili Ayil Quran/ Tafsir al-Thabari, juz 3, hal. 188).


Al-Qur’an diturunkan secara bertahap mulai dari Nabi Muhammad menerima wahyu pertama kali yang berupa surat al-‘Alaq (ayat satu sampai lima) tepat pada tanggal 17 Ramadhan. Saat itu Nabi berusia 40 tahun. Allah memberi utusan Nabi untuk alam semesta, mengeluarkan manusia dari sesatnya kebodohan untuk menuju pada pengetahuan. 
Syekh Muhammad al-Khudlari Bik yang merupakan pakar sejarah menjelaskan sebagai berikut: 


  بَدْءُ الْوَحْيِ (لَمَّا بَلَغَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ سِنَّ الْكَمَالِ وَهِيَ أَرْبَعُوْنَ سَنَةً أَرْسَلَهُ اللهُ لِلْعَالَمِيْنَ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا لِيُخْرِجَهُمْ مِنَ ظُلُمَاتِ الْجَهَالَةِ إِلَى نُوْرِ الْعِلْمِ وَكَانَ ذَلِكَ فِيْ أَوَّلِ فَبْرَايِرْ سَنَةَ ٦١٠ مِنَ الْمِيْلَادِ كَمَا أَوْضَحَهُ الْمَرْحُوْمُ مَحْمُوْدْ بَاشَا اَلْفَلَكِيُّ، تَبَيَّنَ بَعْدَ دِقَّةِ الْبَحْثِ أَنَّ ذَلِكَ كَانَ فِيْ ١٧ رَمَضَانَ سَنَةَ ١٣ قَبْلَ الْهِجْرَةِ وَذَلِكَ يُوَافِقُ يُوْلِيُوْ سَنَةَ ٦١٠


Artinya, "(Fasal Pertama kali wahyu turun). Saat Nabi menginjak usia matang, yaitu 40 tahun, Allah mengutusnya untuk alam semesta seraya menggembirakan dan memperingatkan, untuk mengeluarkan mereka dari gelapnya kebodohan menuju cahaya ilmu. Demikian itu terjadi di awal bulan Februari tahun 610 Masehi seperti yang dijelaskan Syekh Mahmud Basya sang pakar astronomi. (Namun) setelah penelitian yang cermat, telah jelas bahwa peristiwa itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan, 13 tahun sebelum hijrah, bertepatan dengan bulan Juli tahun 610 Masehi." (Syekh Muhammad al-Khudlari Bik, Nur al-Yaqin Fi Sirati Sayyid al-Mursalin, hal. 19)


Jadi dapat disimpulkan Nuzulul Al-Qur’an yang kerap diperingati pada 17 Ramadhan secara umum berpedoman pada sejarah pertama kali Al-Qur’an diturunkan dalam proses yang kedua yakni dikumpulkan dari Baitul Izzah lalu kepada Nabi Muhammad di muka bumi.


Ada perbedaan pendapat tentang kapan turunnya wahyu pertama kali, mulai dari tanggal 7,8,17, dan 21 Ramadhan. Bahkan ada pendapat yang mengatakan turunnya wahyu pertama kali tidak dalam bulan Ramadhan. Namun, sebagai umat Islam yang besar rasa toleransinya harus saling menghormati pendapat yang lain. 

 
*Keterangan ini diambil dari artikel NU Online berjudul Perbedaan Nuzulul Qur’an dan Lailatul Qadar


Keislaman Terbaru