• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Neraca BMTNU Nasional Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Senin, 5 Desember 2022

Daerah

Peran Besar Kiai Jombang Mempertahankan Kemerdekaan RI Melalui Resolusi Jihad

Peran Besar Kiai Jombang Mempertahankan Kemerdekaan RI Melalui Resolusi Jihad
Acara seminar wawasan kebangsaan di hotel Fatma, Jumat (18/11/2022)
Acara seminar wawasan kebangsaan di hotel Fatma, Jumat (18/11/2022)

NU Online Jombang,

Belum genap 100 hari Indonesia merdeka, perjuangan untuk mempertahankan bangsa masih terus digaungkan. Bulan November banyak sejarah tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kilas perjuangan yang menentukan itu, ada 3 sosok kiai yang mempunyai peran sentral melalui resolusi jihad. 

 

Dr Muhammad Anang Firdaus, penulis dan dosen di Universitas Hasyim Asy'ari mengatakan peran 3 kiai itu berasal dari Jombang. Dalam sejarah Indonesia, hal ini patut untuk dipelajari. 

 

"Kita harus mengetahui apa peran 3 kiai yang akan dilanjutkan perjuangannya di era sekarang. Sejatinya, semua berawal dari 15 Agustus 1945 saat Jepang menyerah kepada sekutu, ketika Hiroshima dan Nagasaki dibom. Setelah dibom oleh Amerika dan sekutunya, Jepang pun akhirnya menyerah," katanya saat menghadiri seminar wawasan kebangsaan bertema 'Memperkuat rasa cinta tanah air dengan meneladani peristiwa resolusi jihad dan hari pahlawan' yang digelar di Hotel Fatma, Jombang pada Jumat (18/11/2022).

 

Karena itu, pada 16 Agustus ada kekosongan jabatan saat Jepang yang kala itu menjajah Indonesia dipaksa menyerah pasca dibom habis oleh sekutu. Saat itulah para tokoh mulai menyiapkan promosi kemerdekaan. Hingga akhirnya tanggal 17 Agustus 1945 Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

 

Kemudian, lanjut dia, pasca deklarasi kemerdekaan, tepatnya pada 8 September 1945, komando sekutu Asia tenggara di Singapura mengutus tujuh perwira Inggris datang ke Indonesia untuk mempelajari keadaan di Indonesia menjelang pendaratan sekutu. 

 

"Beranjak kemudian ke tanggal 16 September 1945. Kala itu rombongan perwakilan sekutu mendarat di Tanjung Priok Jakarta. Sekutu menugaskan sebuah komando khusus untuk mengambil alih kembali Indonesia," ujarnya. 

 

Mendaratnya para tentara sekutu yang telah memenangkan perang dunia kedua itu ke Indonesia inilah mendapat respon dari para tokoh bangsa kala itu. Salah satunya Ir Soekarno. 

 

Sebelum 10 November 1945, lanjutnya, Bung Karno menemui Kiai Hasyim Asy'ari untuk meminta saran terkait kedatangan Inggris ke Indonesia. Dan pada tanggal 17 September 1945, KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahab Hasbullah serta KH Bisri Syansuri dan beberapa Kiai Jombang merumuskan fatwa jihad di pesantren Tebuireng.

 

"Dari rumusan tersebut muncul 3 poin. Yang pertama yaitu, memerangi kaum kafir yang merintangi kemerdekaan kita sekarang adalah Fardu 'ain bagi setiap orang Islam yang meskipun orang kafir. Kedua, hukum orang meninggal dalam perang melawan NICA serta komplotannya adalah mati syahid. Dan ketiga, orang yang memecah persatuan kita sekarang ini wajib dibunuh," jelasnya.

 

Setelah munculnya beberapa poin tersebut, pada 22 Oktober 1945, PBNU yang saat itu masih bernama HBNU mengeluarkan resolusi jihad di Surabaya. Resolusi itulah yang memantik pertempuran 10 November di Surabaya guna mempertahankan kemerdekaan yang belum genap 100 hari diproklamasikan. 

 

Komando perang saat itu dipimpin oleh KH Hasyim Asy'ari yang dengan cepat merubah pesantren menjadi markas tentara militer Hizbullah dan Sabilillah.

 

"Dari sana muncullah sebuah pertanyaan, mengapa seorang kiai yang mengambil peran untuk mengangkat komando perang? Oleh kalangan tokoh bangsa waktu itu, Mbah Hasyim ini dikenal sebagai seorang tokoh yang dihormati sejak zaman Belanda," tukasnya.

 

Singkatnya, perang di Surabaya pada 10 November itu membuat sekutu dipaksa mundur oleh para pasukan yang saat itu berjihad, karena dua jendral sekutu saat itu gugur. Hal itu merupakan sebuah anomali, di mana para tentara sekutu adalah pasukan tentara yang terlatih dan dipaksa mundur saat melawan santri yang senjatanya terbatas. 

 

Mungkin, hanya laskar Hizbullah dan Sabilillah saja yang terlatih. Namun, para santri yang lain sangat tidak terlatih dalam perang. Santri yang tidak punya skill berperang, melawan tentara pemenang perang dunia kedua dan bisa menang. 

 

"Kalau bukan karena ulama yang maju dengan pendekatan spiritual, itu kita tidak akan bisa menang. Tidak hanya mengandalkan fisik tapi juga wirid dan doa lainnya. Kolaborasi 3 kiai Jombang mempunyai peran sentral," jelasnya.

 

Menurutnya, peran ketiga kiai ini beragam. Mulai dari peran eksternal, seperti keorganisasian NU, diplomasi NU dan ketua barusan Mujahidin yang diatur oleh KH Hasyim Asy'ari dan KH Wahab Hasbullah. Sementara KH Bisri Syansuri lebih ke peran internal yakni seperti keulamaan NU, intelijen NU, ketua Markas Besar Oelama Dhawa Timur (MBODT) dan MPHS lebih ke Intelijen NU.

 

Ia menambahkan, ketika resolusi jihad didekati dengan nalar agama, Mbah Hasyim memunculkan usaha bahwa sebenarnya orang NU zaman dulu itu bernegara dan beragam demi negara. 

 

"Beragam, tidak hanya ritual saja, namun jika negara sedang terancam salah satunya imperialisme, kita sebagai warga negara harus maju paling depan. Resolusi jihad ini spiritnya itu bernegara dan beragam serta beragama demi bernegara," paparnya.

 

Sementara itu, Penulis Buku Jejak Langkah Laskar Hizbullah Moch Faishol yang juga menjadi narasumber pada acara itu menyebut penetapan hari pahlawan 10 November ditetapkan oleh presiden Soekarno pada Desember 1959. 

 

Namun, setahun sebelumnya sudah diperingati di Bali yang dimana muncul kata-kata terkenal dari Bapak Proklamator tersebut, 'Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya.'

 

"Sebenarnya kutipan aslinya adalah 'Bangsa yang menghormati jasa pahlawannya adalah bangsa yang besar'. Kutipan itu mulai ada saat memperingati hari pahlawan di Bali pada 1958. Kemudian setahun setelahnya baru ditetapkan sebagai hari besar nasional yang bukan hari libur," ucap Faishol. 

 

Dirinya menceritakan, saat Jepang masuk ke Jombang pada 6 Maret 1942. Sebelum Jepang menyerah akibat bom atom, saat itu Jepang sempat membentuk PETA (Pasukan Pembela Tanah Air) pada 1943. Kemudian pada tahun 1944, barulah terbentuk laskar Hizbullah. 

 

Dua pasukan inilah yang kemudian bahu membahu untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Saat 100 hari pertama kemerdekaan Indonesia itu adalah saat genting. 

 

"Saat itu di Jatim terbagi menjadi beberapa distrik Surabaya. Distrik Surabaya itu terdiri dari beberapa Kabupaten atau Kota yakni, Surabaya Gresik Sidoarjo Mojokerto Jombang, 5 kabupaten inilah yang menjadi titik tumpu pertempuran di Jawa Timur," jelasnya.

 

Faishol melanjutkan, sebelum adanya Resolusi Jihad, sudah ada fatwa jihad yang sebenarnya mendahului resolusi jihad. Jadi, dokumen resmi yang dikeluarkan HBNU (PBNU) kala itu itu tidak ada narasi jihad. Melainkan hanya narasi resolusi saja.

 

"Resolusi tersebut berisi tentang penuntutan kepada pemerintah serta meminta sikap yang jelas terkait bagaimana sikap pemerintah dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia," tambahya.

 

Dari banyaknya dokumen yang kita temukan, Fatwa jihad sudah pasti ada. Sayangnya sampai sekarang nasibnya sama seperti resolusi, teks aslinya tidak tahu berada di mana. Fatwa jihad dibuat oleh Mbah Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng, dan ditulis tangan huruf pegon oleh Mbah Hasyim," pungkasnya.


Daerah Terbaru