• logo nu online
Home Warta Ekonomi Daerah Bahtsul Masail Pendidikan Neraca BMTNU Nasional Fiqih Parlemen Khutbah Pemerintahan Keislaman Amaliyah NU Humor Opini BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya Tokoh
Rabu, 17 April 2024

Bahtsul Masail

Boleh Gunakan Harta Orang yang Wafat untuk Acara Selamatan, Asalkan...

Boleh Gunakan Harta Orang yang Wafat untuk Acara Selamatan, Asalkan...
Ilustrasi selamatan untuk mayat. (Foto: Freepik)
Ilustrasi selamatan untuk mayat. (Foto: Freepik)

Alfaqir selalu mendapatkan pertanyaan dari jamaah seputar hukum dalam Islam di majelis ilmu. Alfaqir berupaya istikamah dengan forum-forum yang diisi dengan keilmuan. Seperti rutinan di masjid Baiturrahman, Nglundo. Kegiatan semacam ini asyik dan menyenangkan.


Salah satu pernyataan yang mengemuka pada kesempatan itu perihal kebiasaan sebagian masyarakat yang mengadakan selamatan dengan kegiatan tahlil untuk mayat sampai tujuh hari, dilanjut 40 hari, 100 hari, haul pertama, dan seterusnya. Tak jarang dalam acara tersebut menggunakan harta peninggalan mayat seperti sampai menjual sapi peninggalan mayat.


Apakah boleh dalam acara tersebut sampai melibatkan harta peninggalan mayat? 


Alfaqir lalu menjawab, bahwa kebiasaan itu tidak dibenarkan, alias tidak boleh bila di antara ahli waris ada yang berstatus mahjur alaih (orang yang terkena skorsing tindakan ekonomi seperti anak yang masih kecil, dan lain-lain). Juga tidak bolah bila sebagian ahli waris ada yang tidak ridha.


Dan kebiasaan itu boleh, bila dalam ahli waris tidak ada yang berstatus mahjur alaih dan semuanya telah ridha dengan terlibatnya harta peninggalan. 


Catatan: menurut ulama Malikiyah, sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan statusnya seperti sesuatu yang sudah diwasiatkan sehingga berhukum boleh. 


Jawaban Alfaqir di atas didasarkan pada Al-Fatawi Alfiqhiyyah dan Al-Bajuri berikut:

 

ولا يجوز أن يفعل شيء من ذلك من التركة حيث كان فيها محجور عليه مطلقا أو كانوا كلهم رشداء لكن لم يرض بعضهم . الفتاوي الفقهية


Artinya, "Biaya selamatan (selametan) tidak diperbolehkan diambil dari harta tinggalan mayat, jika sebagian ahli waris berstatus mahjur (tercegah untuk menggunakan haknya seperti anak kecil yang belum tamyiz, orang gila dan lain-lain), atau sebagian ahli waris tidak ridha".


متى كان في الورثة محجور عليه بأن كان فيهم قاصر أو سفيه حرم التصرف في شيء من التركة كنحو السبح والجمع وغير ذلك إلا أن اوصي به وعند المالكية تعتبر العادة فما جرت به كان بمنزلة الموصى به . الباجوري


Artinya, "Jika dari ahli waris ada yang berstatus mahjur, seperti terganggu akalnya atau orang yang tidak bisa mengelola harta, maka haram menggunakan harta tinggalan mayat tersebut, kecuali untuk melaksanakan wasiat. 


والله اعلم بالصواب


*Ditulis oleh KH M Sholeh, Tokoh Nahdlatul Ulama Kabupaten Jombang, Wakil Rais PCNU Jombang masa khidmah 2017-2022


Bahtsul Masail Terbaru