• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Senin, 15 Agustus 2022

Opini

Syaikhona Kholil Bangkalan, Guru Ulama Indonesia

Syaikhona Kholil Bangkalan, Guru Ulama Indonesia
Syaikhona Kholil Bangkalan, Guru Ulama Indonesia. (Foto: Istimewa)
Syaikhona Kholil Bangkalan, Guru Ulama Indonesia. (Foto: Istimewa)

Oleh: Rif'atuz Zuhro*

 

Biografi Singkat
Kiai Kholil dalam usahanya untuk mendorong lahirnya organisasi NU yang kemudian diklaim sebagai salah satu organisasi yang berbasis Sunni di Indonesia. Namun hingga beliau meninggal pada 29 Ramadhan 1343 H (1922 M), organisasi yang sangat diharapkan oleh beliau belum terbentuk, NU baru lahir setelah beliau wafat, tepatnya 16 Rajab 1344 H, atau pada tanggal 31 Desember 1926 M. Kini NU telah menjadi organisasi Islam yang sangat besar bahkan terbesar di Indonesia.

 

Kalimat itu juga kemudian disinyalir merupakan salah satu indikator bahwa Kiai Khalil merupakan seorang Ulama yang memilki kemampuan mukasyafah karena beliau telah mencapai tingkatan ma’rifatullah. Sebab, peristiwa seperti yang telah diceritakan di atas kemudian menjadi sebuah cikal bakal terbentuknya organisasi NU dan itu sudah diketahui oleh beliau sebelum NU terbentuk. Kemampuan beliau menerawang pada sebuah kejadian yang belum terjadi inilah mukâsyafah. 

 

Kiai Khalil lahir di Martapura, Kabupaten Bangkalan pada tanggal 11 Jumadil Akhir 1235 H, dan wafat pada tanggal 29 Ramadhan 1343 H. (1925 M). Semasa hidup, beliau mengenyam pendidikan di pondok pesantren, seperti di Langitan Tuban, Bangil dan Keboncandi Pasuruan, juga beliau pernah mengenyam pendidikan di Makkah al-Mukarramah. Selama menjalani masa pendidikannya, baik di Indonesia maupun di Makkah al-Mukarramah, beliau dikenal tekun, ulet dan juga cerdas. Sehingga tidak heran jika beliau selama nyantri di Indonesia sudah mampu untuk membiayai sendiri hingga sampai pembiayaan pergi ke Makkah. Di Makkah, beliau menekuni berbagai macam bidang keagamaan, baik yang bersifat eksoterik (ilmu lahiriyah) maupun esoterik (ilmu batiniyah).

 

Ketekunanya dalam mempelajari ilmu keagamaan, terutama semenjak belajar di Makkah al-mukarramah membuatnya memiliki berbagai macam karamah, yakni suatu kekuatan di luar kebiasaan manusia pada umumnya yang dimiliki oleh seseorang karena ketakwaannya terhadap sang pencipta, Allah SWT.

 

Predikat waliullâh pun disandangnya, dan derajat Sufi serta dunia mistik ada pada diri beliau. Tak heran ketika suatu saat di Masjidil Haram terjadi perdebatan antara beberapa ulama untuk mamutuskan hukumnya kepiting dan rajungan; apakah haram atau halal bila dimakan manusia. Dalam debat itu para ulama tidak menemukan penyelesaian.

 

Sepulang dari Makkah Al-Mukarramah, beliau mendirikan pesantren di desa Cengkebun, sekitar 1 kilometer arah Barat Laut dari desa kelahirannya di Senenan Bangkalan. Hari demi hari santripun berdatangan untuk belajar kepada beliau. Namun setelah beliau menjadi mertua dari Kiai Muntaha, suami Siti Khatimah putrinya, beliau menyerahkan lembaga tersebut untuk dilanjutkan oleh menantunya itu. Kemudian beliau pindah dan mendirikan pondok pesantren lagi di desa Demangan, 200 meter arah barat alun-alun Kota Bangkalan. Di pesantren beliau yang baru, santri pun banyak berdatangan tidak hanya dari desa tetangga, melainkan juga dari pulau Jawa seperti Kiai Hasyim Asy’ari Jombang.

 

Di Indonesia terdapat kurang lebih 6.000 pesantren lebih yang terus berkhidmah dalam kehidupan bangsa dan agama. Sebagian besar pengasuh pesantren itu mempunyai sanad (persambungan) dengan beliau. Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947), Kiai Abdul Wahab Hasbullah (1888-1971) Kiai Bisri Syamsuri dan kiai-kiai besar lainnya di Jawa. Padahal mereka semua adalah murid Kiai Khalil. Artinya kebanyakan kiai yang ada sekarang ini mempunyai sanad sampai ke Kiai Khalil Bangkalan, muara yang penuh misteri.

 

Kekaromahan Kiai Khalil Bangkalan yang dilaluinya lewat sulûk al tasawuf kini hanya sebuah cerita dari mulut kemulut yang nantinya akan berakhir dengan hilangnya mutiara kisah tentang beliau. Walaupun ada beberapa buku yang memuat kisah – kisah tentang beliau, seperti Surat kepada Anjing Hitam, Biografi dan Karomah Kiai Khalil, karangan Saifur Rachman, terbitan pustaka Ciganjur, juga buku dengan judul Syaichona Cholil Bangkalan, Ulama Legendaris dari Madura, karangan Mokh. Syaiful Bahri, terbitan Cipta Pusaka Utama, Pasuruan. Namun setelah penulis teliti dan pelajari ternyata tidak sepenuhnya memuat dan membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan dunia kema’rifatan beliau mulai beliau menapaki tangga-tangga sebagai perambah jalan tasawwuf hingga beliau sampai pada tingkatan ma’rifat waliullâh.

 

Salah satu perlawanan etik Syaikhona Kholil atas ketidakadilan yang diterapkan penjajah adalah mendirikan pesantren. Sepanjang hidupnya, Syaikhona Kholil mendirikan dua pesantren yaitu Pesantren Jangkebuan dan Kademangan, keduanya berada di Bangkalan. Mendirikan pesantren merupakan cara yang paling efektif dalam kegiatan syiar Islam dan membela hak-hak dasar bagi masyarakat di bidang pendidikan.

 

Pesantren yang didirikannya itu tidak hanya mendidik manusia-manusia pintar dan cerdas, tapi juga jujur dan amanah dalam mengamalkan ilmu pengetahuannya di tengah-tengah masyarakat. Karena banyak orang pintar tapi tidak jujur dan amanah. Masyarakat hanya dibodohi dengan kepintarannya, mereka menikmati segala fasilitas, sedangkan masyarakat tetap dalam posisi terbelakang.

 

Selain mendirikan pesantren dan masjid, Syaikhona Kholil juga memiliki sejumlah karya, yang hingga kini masih terdokumentasi dalam bentuk kitab. Antara lain, Kitab As Silah Fi Bayanin Nikah, sebuah kitab tentang pernikahan, meliputi segi hukum dan adab, juga Kitab I Anatur Roqibin, dan kitab wirid yang dihimpun KH Mustofa Bisri yang berjudul “Al Haqibah”.

 

Pemikirang Penting
Berdirinya Jamiyah NU tidak lepas dari peran penting seorang ulama legendaris Bangkalan, Madura, yaitu Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif. Beliau adalah termasuk salah satu ulama yang sangat berpengaruh serta dihormati umat Islam Nusantara. Beliau juga menjadi guru mayoritas ulama pesantren, khususnya para ulama NU angkatan pertama. Namun harum Syaikhonan Kholil sangat terasa sampai sekarang. Energi spiritualitasnya mampu menjadi magnet bagi sebagian besar umat Islam untuk datang ke pesantrennya di Martajaseh, Bangkalan.

 

*Penulis adalah warga NU asal Jombang yang sekarang mengabdi di PC LAZISNU Jombang

 

Sumber: Fuad Amin Imron, Syaikhona Kholil Bangkalan, (Surabaya: Khalista)


Editor:

Opini Terbaru