• logo nu online
Home Warta Daerah Bahtsul Masail Nasional Neraca BMTNU Fiqih Khutbah Keislaman Amaliyah NU Opini Humor BMT NU Video Nyantri Mitra Lainnya
Rabu, 17 Agustus 2022

Opini

Sang Pembaharu Kiai Kampung

Sang Pembaharu Kiai Kampung
Kiai H. Anas Husein. (Foto: Istimewa)
Kiai H. Anas Husein. (Foto: Istimewa)

H. Anas Husein, bukan tokoh populer, kiai besar, atau pengasuh pondok pesantren terkemuka yang memiliki ribuan santri. Beliau dikenal di Desa Wedoro, sebuah desa yang jauh dari pusat Kabupaten Lamongan. Desa dengan penduduk yang hampir seluruhnya bermata pencaharian petani tambak. Daerah tambak yang tiap tahunnya menghasilkan ikan bandeng dan udang yang harganya cukup mahal. Sehingga kehidupan ekonomi warga bisa dikatakan berkecukupan. Namun, ketercukupan ekonomi tersebut tidak berbanding lurus dengan ketercukupan pendidikan. Tingkat pendidikan warga hanya sampai sekolah tingkat dasar, bahkan banyak yang tidak mengenyam bangku sekolah sama sekali. Kebiasaan warga, bagi anak yang telah lulus Madrasah Ibtidaiyah biasanya langsung dinikahkan. Hal ini bukan semata karena ketersediaan sekolah yang hanya ada Madrasah Ibtidaiyah tetapi juga karena kesadaran akan pentingnya pendidikan yang masih rendah.  

Pak Anas, begitulah panggilannya di desa, tidak seperti kyai kampung lainnya yang dipanggil “Mbah”, beliau lebih sering dipanggil “Pak” Karena umurnya yang terbilang muda saat itu yaitu umur 28 tahun. Beliau bukan warga asli Wedoro, melainkan kelahiran Jombang pada 3 Januari 1938. Lahir di sebuah keluarga sederhana yang memiliki sembilan bersaudara, dua laki-laki dan tujuh perempuan. Keinginan Beliau untuk bersekolah hingga meraih gelar sarjana tidak terpenuhi karena kondisi ekonomi orang tua yang tidak mampu membiayainya, tapi itu tidak menyurutkan semangatnya untuk mencari ilmu. Beliau nyantri tidak jauh dari rumahnya, tepatnya di Pondok Pesantren Darul ‘Ulum Rejoso Jombang dengan nyantrik (abdi dalem) kepada KH. Musta’in Romli. 

Ceritanya berawal pada tahun 1958, didirikannya Madrasah Ibtidaiyah di Desa Wedoro oleh Abdurrahman (kepala desa setempat). Madrasah itu bernama MI Ma’arif Al Hidayah. Enam tahun berjalan, madrasah ini hanya memiliki tiga guru. Tahun 1964, pergilah dua orang warga Wedoro ke Jombang untuk mencari guru. Mereka menemui KH. Musta’in Romly, kiai asal Rejoso yang terkemuka di Nusantara. Beberapa hari kemudian Kiai Tai’n mengirim salah satu santrinya ke Wedoro untuk mengabdi disana. Beliau adalah Pak Anas atau Mbah Anas.

Mbah Anas berangkat naik bus dari Jombang, jangan dibayangkan bus-bus di zaman itu sudah memiliki fasilitas seperti bus sekarang. Bus yang kumuh, kotor dan panas itu mengantarkan Mbah Anas sampai di Kecamatan Deket kabupaten Lamongan. Lalu dilanjutkan berjalan kaki menuju Wedoro yang berjarak 20 KM. Sempat nyasar sampai daerah Bungah Gresik, dengan melewati dinginnya hujan disertai angin kencang. Namun tekad untuk mengabdi tetap membara. Perjalanan pun dilanjut dengan menumpang perahu menyusuri anak Sungai Bengawan Solo. 

Mbah Anas disambut warga dengan hangat, beliau diberi tumpangan di rumah salah satu perangkat desa. Sesuai amanat yang telah diberikan, Mbah Anas setiap hari mengajar di Madrasah Ma’arif Al Hidayah. Belum seperti sekolah di zaman sekarang, madrasah tersebut masih berdinding kayu. Muridnya pun terbilang sangat sedikit, rata-rata perkelas tidak mencapai 10 anak. Hal ini menjadi tantangan tersendiri. Berbekal ilmu yang dipelajari selama nyantri kepada KH. Musta’in Romli, beliau mampu mengembangkan madrasah hingga berjalan dengan baik. Tentunya dengan dukungan penuh dari Kepala Desa dan tokoh masyarakat lainnya. 

Selanjutnya, pengembangan pendidikan yang dilakukan adalah mendirikan pendidikan tingkat TK. Agar anak-anak mendapatkan pendidikan sejak dini sebagai pondasi untuk pendidikan selanjutnya. Tidak berhenti sampai di situ perjuangan beliau. Agar anak-anak tidak hanya lulus MI, beliau merintis pendirian Madrasah Tsanawiyah (MTs). Sebab sekolah lanjutan hanya ada di kota Kecamatan Glagah.

Perjuangan Mbah Anas tidak serta merta diterima dengan mudah oleh warga Wedoro. Nyatanya, walaupun sudah didirikan MTs masih banyak orang tua bahkan anaknya tidak mau melanjutkan sekolah dengan alasan “malas belajar/ mikir”. Ada juga alasan “apa pentingnya sekolah toh nanti jadi petani juga”. Masih kuat anggapan bahwa pendidikan bagi kaum perempuan tidak penting, perempuan itu kerjanya di dapur. Sehingga kebanyakan anak perempuan yang dinikahkan dalam usia dini.  

Rintangan ini dijawab Mbah Anas dengan memberi pendidikan yang cukup kepada ke sembilan anaknya tanpa membedakan laki-laki maupun perempuan. Setelah anak-anaknya lulus dari MTs, Mbah Anas mengirim ke pondok pesantren sambil melanjutkan sekolah tingkat lanjutan atas hingga kuliah. Ada yang di Paciran, Bungah-Gresik, Jombang (Denanyar, Tambak Beras dan Rejoso). Minimal lulus S1. Hal ini sengaja dilakukan selain sebagai kewajiban orang tua untuk memberi pendidikan yang baik, sekaligus memberikan contoh dan pemahaman kepada warga desa Wedoro betapa pendidikan itu sangat penting. 

Dalam mengajar, Mbah Anas menggunakan metode guru menerangkan siswa menyimak dan bertanya. Keterbatasan jumlah guru di waktu itu, menuntut guru untuk mampu menguasai berbagai mata pelajaran. Begitu pun Mbah Anas mengajar pelajaran IPS, Agama, Kenegaraan hingga Matematika. Selain karena tuntutan, kemampuan yang beliau miliki didapat dari kegemaran membaca dan sikap terbuka dengan pengetahuan baru (open minded). Kegemaran beliau membaca, tidak terbatas pada bidang tertentu namun tulisan apapun akan dibaca. Kebiasaan sehabis pengajian di masjid ba’da subuh, beliau akan membaca apapun yang ditemui, adanya koran ya baca koran, adanya majalah ya baca majalah. Membaca adalah kebiasaan baik yang selalu dilakukan dan diajarkan kepada anaknya. 

Selain menjadi guru di madrasah, beliau juga menjadi Imam Masjid sekaligus sebagai penceramah. Beliau menjadi pengasuh pengajian kitab kuning setiap minggu pagi. Namun, khusus sholat maghrib beliau lakukan berjamaah bersama keluarga di rumah. Dilanjutkan dengan memberi pesan dan petuah singkat kepada anak-anaknya. Bagi beliau, mencari Ilmu tidak ada batasan umur dan jarak. Hal ini beliau buktikan dengan selalu menghadiri acara Sewelasan Jama’ah Thoriqoh di Pondok Rejoso Jombang hingga akhir hayat beliau. 

Peninggalan dari Mbah Anas diantaranya adalah adanya fasilitas pendidikan berupa TK-MI-MTs yang hingga kini terus berkembang. Selain itu, peninggalan terpenting dari beliau adalah perubahan pola pikir warga yang awalnya acuh akan pentingnya pendidikan menjadi warga yang peduli dan sadar akan pendidikan. Terbukti dengan banyak orang tua yang mendukung anaknya untuk melanjutkan pendidikan sampai tingkat sarjana. Mbah Anas bisa dikatakan gurunya orang di desa itu. Beliau adalah sang pembaharu, mampu mengajak warga berpikir tentang pentingnya pendidikan sekaligus memberikan teladan bagaimana seharusnya orang tua memberikan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya. Sebagaimana pesan beliau “lebih baik mewariskan anak keturunan dengan pendidikan dari pada mewariskan harta, karena ilmu lebih penting dari pada harta”. 

Penulis: Hammad Farrel Aqil Azmi, juara 1 lomba Menulis Feature PC LTNNU Jombang


Editor:

Opini Terbaru